Kamis, 26 Maret 2015

Tugas Softskill 1

Tugas Softskill 1

==================



Manusia dan Kebudayaan

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti “manusia yang tahu”), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan ..... Selengkapnya





Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraa

A. Buat Cerita/Cerpen/Novel dsb.
Ukiran Sang Pendalang

Agung adalah anak seorang pendalang. Bapaknya sudah melakoni pekerjaan tersebut kurang lebih sekitar 14 tahun. Keluarga Agung termasuk keluarga pecinta budaya, salah satunya wayang. Daerah Yogyakarta provinsi Jawa Tengah adalah daerah dimana Agung tinggal. Pada suatu hari, ” Gung, sini Le!”, panggil Bapak Agung.
“Iya,ono opo Pak?” jawab Agung.
“Le, Bapak sudah tua sudah waktunya Bapak berhenti jadi pendalang dan sekarang giliran kamu yang meneruskan pekerjaan Bapak ini”, kata Bapak Agung sambil menepuk pundak anak semata........
Selengkapnya







Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraan

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraan


A. Buat Cerita/Cerpen/Novel dsb.

Ukiran Sang Pendalang

Agung adalah anak seorang pendalang. Bapaknya sudah melakoni pekerjaan tersebut kurang lebih sekitar 14 tahun. Keluarga Agung termasuk keluarga pecinta budaya, salah satunya wayang. Daerah Yogyakarta provinsi Jawa Tengah adalah daerah dimana Agung tinggal. Pada suatu hari, ” Gung, sini Le!”, panggil Bapak Agung.
“Iya,ono opo Pak?” jawab Agung.
“Le, Bapak sudah tua sudah waktunya Bapak berhenti jadi pendalang dan sekarang giliran kamu yang meneruskan pekerjaan Bapak ini”, kata Bapak Agung sambil menepuk pundak anak semata wayangnya.
“ Hah, opo Pak? Agung harus jadi dalang seperti Bapak? Ya nggak mungkinlah
Pak. Mengko opo omonge konco-konco ku lek Agung jadi dalang? Malu pak. Agung ndak mau pokoknya”, jawab Agung.
“Kamu ini gimana to Le? Kenapa harus malu jadi dalang? Itu pekerjaan halal. Seharusnya kamu sebagai generasi muda harus ikut melestarikan budaya bangsa kita”, jawab Bapak Agung bijak.
“ Bukannya Agung nggak mau Pak, tapi aku malu sama teman-temanku Pak!” tegas Agung pada Bapaknya.
“Kamu ini lo Le.., budaya Indonesia itu harus dilestarikan bukannya malah dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja”, sahut Ibu Agung yang sedang menjahit baju sindennya.
“Terserah Bu, pokoknya Agung ndak mau jadi dalang”, tegas Agung.
Keesokan harinya Bapak Agung tidak membersihkan wayang-wayang koleksinya sepeti biasanya. Beliau masih terbaring di atas tempat tidur dan sulit dibangunkan. Hari itu benar-benar aneh sekali.
Selang beberapa jam ”Hmm,,,Bu Agung mana? Bapak mau ngomong penting sama dia“, suara Bapak terdengar lemah.
“Iya, sebentar Pak Ibu panggilkan”, jawab Ibu Agung.
“ Gung,, Agung di pangil Bapak ni Le”, seru ibu Agung.
“Ada pa to Buk? Bapak kenapa?”, sahut Agung sambil berjalan ke arah kamar Bapaknya.
“Gung, terusin profesi Bapak ya, jangan malu dengan budaya sendiri Nak. Sekarang budaya dan seni pewayangan semakin langka tak ada yang mau meneruskan. Bapak tahu Agung punya bakat seperti Bapak. Kamu harus percaya bahwa dunia menunggumu dengan bakat kamu”, jawab Bapak lirih. Aliran air mata menetes di pipi Bapak Agung. Denyut nadi sudah tidak terasa di tangan, nafas terakhir pun dihembuskan. Bapak Agung meninggal dunia. Ditangannya terdapat dua lembar kertas, satu kertas berisi surat dari dokter yang menerangkan bahwa selama ini Bapak Agung mengidap paru-paru basah yang sudah parah. Kertas kedua berisi sebuah surat yang isinya :
Surat tersebut dipandangi oleh Agung, tanpa terasa tetesan air mata mengalir di pipi Agung. “Ibu,, Bapak meninggal maafin Agung, Pak. Agung janji akan meneruskan profesi Bapak, Agung janji”, teriak Agung sambil memeluk tubuh Bapaknya yang sudah tak berdaya. Sambil menangis, “Sabar Nak. Agung harus bisa memenuhi permintaanan Bapak, kamu pasti bisa Nak”, kata Ibunya sambil memeluk Agung.
Hari demi hari dilewati Agung tanpa Bapak disampingnya. Bapak yang selalu menceritakan kisah pewayangan, Bapak yang mengajarinya cara berdalang walaupun terkadang dia jengkel dengan omongan Bapaknya yang mengajari dia menjadi dalang.
“Nah,, begitu Nak berlatihlah tanpa berputus asa pasti Bapakmu disana akan senang melihat usahamu”, kata ibunya sambil membawakan ketela rebus dengan teh hangat untuk Agung.
“Ya Bu, pasti Bapak senang”, tutur Agung sambil tersenyum.
“Oh iya, besok itu ada acara di tetangga sebelah. Beberapa bulan yang lalu Bapak disuruh untuk mendalang. Tetapi Bapak sekarang sudah tidak ada. Gimana kalau Agung yang menggantikan bapak mendalang?” tanya Ibu Agung dengan hati-hati.
“Hmm,, boleh juga Bu”, jawab Agung dengan antusias.
” Oh, itu bagus Nak tunjukkan kemampuanmu kalau Agung bisa seperti Bapak!” tutur Ibu.
Keesokan harinya Agung sudah berdandan rapi ,“Bagaimana Bu, sudah ganteng belum anak ibu ini?” tanya Agung sambil membenahkan blangkon dan baju dalang Bapaknya yang dipakainya sekarang.
“Waah, ganteng tenan anak’e Ibu persis kayak Bapakmu dulu”, kata ibu Agung sambil tersenyum senang.
Ditempat acara. “Assalamu’alaikum Bapak-Ibu sekalian, sekarang Agung akan menghibur anda semua”, kata Agung gugup.
Pewayangan dimulai, padahal permainannya saat itu cukup bagus, tetapi tetap saja ada yang mengejek Agung “Nak, kalau ndak bisa maen wayang ndak usah main”, ujar salah satu penonton.
” Ya, betul itu kalau ndak bisa main pergi sana”, ujar penonton yang lain.
Agung menunduk malu karena ejekan itu. ”Sabar ya Nak!” kata Ibu sambil memeluk pundak putranya. Akhirnya mereka pulang dengan kesedihan dan rasa malu terutama Agung.
“Agung ndak mau jadi dalang lagi Bu!” kata Agung.
“Agung ndak boleh bilang begitu, itu adalah pengalaman Nak!” kata ibu Agung.
“Ya Bu, ini adalah pengalaman yang gagal dan Agung sudah merasa di permalukan dengan ini semua”, jawab Agung dengan marah.
” Le, ingat apa kata Bapak kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan”, tutur Ibu Agung dengan mata berkaca – kaca.
” Agung ndak peduli Bu!” jawab Agung keras. Agung langsung masuk kamar, dia memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ransel.
“Le, Agung mau kemana?“ kata Ibu.
” Agung mau pergi dari rumah Bu! Agung malu”, kata Agung sambil pergi meninggalkan rumah dan ibunya.
“Gung, jangan pergi Nak, siapa yang akan meneruskan profesi Bapakmu?” kata Ibu Agung sambil memegang tangan anaknya, tapi kepergian Agung tidak dapat dicegah, kemauannya untuk pergi meninggalkan rumah sangatlah kuat.
Agung pergi dari rumah tanpa arah dan tujuan. Didalam tasnya hanya terdapat 4 pasang baju dan 2 pasang celana. Dompet gambar batik pemberian ayahnya hanya berisikan uang Rp. 50.000,00.
“Apakah cukup dengan uang Rp. 50.000,00 aku bertahan. Huff…berarti aku harus cari kerja”, gumam Agung. Langkah Agung tiba-tiba dihentikan saat ada kakek tua yang membuat wayang dari lidi.
“Hmm, Kek ini semua Kakek yang membuatnya?” tanya Agung kepada Kakek. “Iyo Le, kamu mau tak ajarin?” jawab kakek tua itu. “Kakek mau nggak ngajarin aku membuat ini?” tanya Agung. “Tenan, Le kamu mau tak ajarin? Jarang sekali anak muda seperti kamu mau menyukai budaya Indonesia terutama wayang. Memangnya Bapakmu kerja apa tho Le?” kata Kakek tua. “Bapakku pendalang Kek , tapi beliau sudah meninggal”, jelas Agung. “Innalillahi aku turut berduka Le, ya sudah nanti mau apa ndak tak ajari?” tanya kakek.
“Oh iya Kek,mau sekali, jenengku Agung Suwanto, panggil saja aku Agung,” jawab agung semangat. “Ayo ikut ke rumahku, tak ajari disana”, tawar Kakek tua. “Iya, makasih Kek! Hmm.., Agung boleh ndak numpang di rumah Kakek untuk sementara?” tanya Agung. ”Oh, Kakek malah seneng Le”. kata Kakek sambil tertawa dan berjalan pulang bersama Agung.
Sesampainya di rumah Kakek.
“Weleh-weleh Kek, rumah Kakek banyak sekali wayangnya, ini semua Kakek yang membuatnya?” tanya Agung sambil tercengang memandangi rumah Kakek yang kecil tapi penuh dengan wayang.
”Iya Nak,sejak dulu Kakek sudah terbiasa membuat wayang sendiri”, jelas Kakek.
”Wah Kakek hebat tenan!” kata Agung tercengang. Hari demi hari dilalui Agung di rumah kakek. Dia belajar membuat wayang. Ternyata hasilnya tak sejelek yang di bayangkan oleh Agung.
Setelah beberapa hari Agung menginap di rumah Kakek,
”Le, ayo makan dulu”, suruh Kakek tua itu.
”Iya Kek”, jawab Agung sambil menuju tempat makan.
”Gung, bukannya Kakek mengusir kamu, tapi apakah Ibumu di rumah tidak kangen dengan kamu Nak? Kamu sudah tiga minggu di sini dan pastinya Ibumu resah memikirkan kamu. Lagi pula teman – temanmu pasti juga mencarimu”, tutur Kakek tua kepada Agung.
” Iya Kek, itu benar tapi Agung takut gagal. Kalau gagal Bapak Agung disana pasti kecewa. Agung juga ndak mau bikin malu Ibu lagi”, jawab Agung.
“Gung, kegagalan itu kunci kesuksesan, kalau kita tidak gagal kita juga tidak akan sukses”, nasehat Kakek tua.
“Iya Kek, Ibu Agung juga pernah bilang begitu. Tapi kalau nanti Agung pulang apakah warga tidak lagi mengejek Agung karena permainan wayangku yang jelek?” katanya sambil menerawang.
Sambil tertawa kakek berucap, ”Kakek dulu juga sama seperti kamu Gung, dulu warga sering mencaci dan mengejek Kakek, katanya wong ndak bisa main wayang kok mau jadi dalang. Waktu itu Kakek juga sangat merasa sedih, rasanya Kakek putus asa. Tapi Kakek selalu ingat nasehat Ibu Kakek, kalau Kakek gak boleh putus asa karena kegagalan adalah kunci kesuksesan. Kata-kata itu yang selalu di ucapkan oleh Ibu Kakek,” cerita Kakek. “Kakek betul juga, sekarang Agung harus pulang dan meneruskan apa yang Bapak inginkan. Kalau begitu Agung pulang dulu ya Kek”, kata Agung dengan antusias. “Habiskan makananmu dulu Nak, nanti baru kamu boleh pulang”, tutur Kakek. Dengan lahap Agung menyantap makanan yang dihidangkan di hadapannya. “Kek, Agung pulang dulu ya? Terimakasih atas kebaikan Kakek selama ini”, pamit Agung. ” Ya, sama-sama. Hati-hati ya Le, kakek do’akan usahamu menjadi dalang berhasil”, doa Kakek.
“ Ya Kek, amiiin. Agung pulang dulu, Assalamu’alaikum”, pamit Agung sambil meninggalkan Kakek. Diperjalanan, tanpa sengaja dia menemukan koran yang jatuh di jalan. Apa ini? Hah..gak mungkin ini! Wayang milik budaya Indonesia, bukan milik Negara lain. Tiba – tiba Agung merasa gusar, dia mempercepat langkahnya ke rumah.
“Assalamu’alaikum Buk Agung pulang!” teriak Agung dari luar sambil masuk kedalam rumah. “ Waalaikum salam….anakku Agung. Kamu kemana aja to Le……Ibu kangen”, kata ibu Agung sambil memeluk anaknya.
“Bu….., maafin Agung ya….. Agung kemarin egois?” pinta Agung pada Ibunya.
“Ibu sudah maafin Agung. Bagaimana keadaan kamu? kemana saja kamu selama ini Nak?”, tanya ibu dengan penasaran.
“ Alhamdulillah Agung baik – baik saja Bu, selama ini Agung tinggal dengan seorang Kakek yang baik hati, beliau merawat dan menjaga Agung dengan baik”, ungkap Agung sambil menenangkan Ibunya.
“ Syukurlah Nak,.. Oh, iya mengenai amanat Bapakmu, ndak usah terlalu difikirkan ya Le, Ibu ikhlas kalau memang kamu tidak mau menjadi penerus Bapakmu”, tutur Ibunya dengan wajah yang serius.
“Tapi Bu, mulai sekarang Agung ingin menjadi dalang. Agung ingin seperti Bapak“, katanya meyakinkan.
“Sebagai generasi penerus bangsa Agung merasa harus ikut memajukan dan melestarikan budaya Indonesia terutama pewayangan yang sekarang telah di klaim milik Negara lain Bu”, kata Agung tegar.
“Ibu bangga sama kamu Nak”, kata ibu Agung terharu.
Keesokan harinya Agung bangun pagi-pagi sekali, kemudian mengeluarkan wayang-wayang peninggalan ayahnya dan juga wayang hasil buatannya sendiri. Dia membersihkan dan menata rapi wayang-wayang tersebut di tempat ayahnya biasa mendalang. Setelah selesai dia membuka lebar pintu depan. Kemudian memasang spanduk lebar yang bertuliskan “ SANGGAR PEWAYANGAN ”. Dan dibawah tulisan tersebut terdapat kalimat yang bertuliskan “ Sebagai Generasi Muda mari kita lestarikan Kebudayaan Indonesia”. Kemudian Agung menyebarkan brosur yang berisi ajakan untuk selalu melestarikan budaya bangsa lewat orang-orang dan menampilkannya di internet juga ditelevisi. Nama Agung pun menjadi semakin terkenal dengan sebutan “Dalang Muda”. Untuk memantapkan usahanya tersebut Agung mendaftarkan wayang sebagai seni budaya Indonesia kepada UNESCO. Sementara menunggu hasil keputusan UNESCO, Agung semakin giat menyebarkan semangat menjaga seni wayang dengan memainkannya sampai lintas Jawa-Bali. Nama Agung pun semakin terkenal.
Setelah menunggu beberapa bulan, Agung mendapatkan surat dari UNESCO bahwa seni wayang sudah di patenkan. Membaca surat tersebut Agung tersenyum senang, dia merasa yakin ayahnya pasti bangga dengan usahanya selama ini.
“Pak,, Agung ternyata bisa meneruskan perjuangan Bapak”, bisik Agung dalam hatinya.
Sekarang semakin banyak anak muda yang ikut masuk kedalam sanggarnya. Agung juga melatih para kaum muda yang ingin menjadi dalang, atau yang hanya ingin mengetahui lebih dalam tentang kebudayaan Indonesia.
Semakin banggalah ibu Agung atas prestasi yang telah di ukir oleh anaknya. Agung pun merasa semakin tertantang untuk mengajak kaum muda agar selalu melestarikan budaya bangsa. Dan benar saja, berkat ketekunannya, Agung menjadi dalang yang sukses sampai mancanegara.


Manihing Tersenyum

Ketika sang senja mulai beranjak ke peraduannya, semilir sang bayu mulai membelai tubuhku. Dingin yang kurasakan, namun mataku tidak tetap memandang indahnya sang surya yang hampir tenggelam di pantai berpasir putih. Setelah menghilang, aku mulai beranjak dan pergi meninggalkan pantai. Kurasakan butiran pasir yang lebut di telapak kakiku yang tanpa alas. Kutinggalkan jejak langkah kaki di pasir nan lembut hingga hilang tersapu ombak dan pasirpun rata kembali. Di rumah, kurebahkan badan di ranjang bambu beralaskan tikar yang sudah cukup tua, bahkan sudah mulai lapuk karena umur ranjang tersebut juga sudah sangat tua, melebihi umurku. Kututup mata, tertidur, terlelap, kudengar bunyi ayam berkokok yang membangunkanku dari mimpi yang indah.
Pagi-pagi buta aku bangun, pekerjaanku setiap pagi adalah pergi ke pasar membantu ibuku menjual sayuran di pasar. Sayuran yang kami jual adalah hasil dari kebun kami sendiri. Ayah yang menanam di ladang, apabila dagangan ibu di pasar sudah laku,terlebih maka iapun segera bergegas menyusul ayah ke ladang. Sedangkan aku melakukan pekerjaan rumah tangga terlebih dahulu. Menyapu, mencuci, dan memasak. Apabila masakan sudah matang, aku langsung mengantarnya ke ladang karena ayah dan ibu tidak pernah makan siang di rumah. Sesekali aku membantu pekerjaan di ladang apabila sedang panen atau ada pekerjaan yang harus cepat diselesaikan. Begitulah kegiatanku sehari-hari. Aku hanyalah seorang gadis yang tinggal di sebuah desa yang ada di Lampung. Kegiatanku sehari-hari hanya menenun di rumah karena itu memang sudah pekerjaan turun temurun yang sudah diwariskan oleh nenek moyang. Pendidikanku hanya sampai SMA karena selain perguruan tinggi yang cukup jauh, orang tuapun tak sanggup untuk membiayaiku ke perguruan tinggi. Apabila akan melanjutkan studi harus pergi ke kota atau ke luar pulau. Teman-teman sebayaku juga bernasib sama. Oleh karena itu, sampai sekarang aku masih tinggal di desa. 
“Manihing...Manihing....Manihing.....” Kudengar suara ibu dari belakang rumah.
“Ada apa Mak, kenapa teriak-teriak?”
“Abakmu Manihing, Abakmu.”
“ Abak kenapa Mak?”
“Abakmu terluka, ambilkan obat merah!”
“Ini Mak.”
Ibu langsung berlari ke ladang, aku segera menyusulnya. Ternyata kaki ayah terkena cangkul, sehingga terluka dan berdarah. Aku membantu membersihkan luka ayah dan kuberi obat merah lalu kubalut dengan kain bersih yang kubawa. Ibu membantu ayah berjalan pulang, sedangkan aku membawa peralatan makan dan alat-alat yang digunakan di ladang. Ayah beristirahat di kamar sampai tertidur pulas. Sementara ibu masih melanjutkan menenun bersamaku. Mataku mulai terkantuk-kantuk, kulirik jam dinding dan jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas. Kulihat ibu, dia masih terlihat belum ngantuk. Kuhampiri dan kubawakan secangkir the panas, kental, manis. The kesukaan ibu, berbeda ayah, kalu ayah minum the pahit tanpa gula.
“Kalau kau ngantuk, tidur saja Manihing! Sudah larut malam, nanti Amak menyusul.”
“Baiklah, Bu.”
Kulangkahkan kaki menuju kamar, berbaring dan terlelap, sampai suara ayam berkokok membangunkanku. Seperti biasa, aku bangun mandi dan pergi ke pasar. Sepulang dari pasar ibu pergi ke ladang aku memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Ayah masih sakit sehingga beliau tidak pergi ke ladang. Hari ini aku diajak teman-teman di desaku untuk berwisata ke Pantai Marina. Tapi aku tak berani bilang ke ayah, apalagi beliau masih sakit pasti membutuhkuan sesuatu, dan hanya aku yang ada di rumah. Pantai Marina adalah kawasan wisata pantai di Teluk Lampung di wilayah Lampung selatan. Pantai ini memiliki pemandangan yang indah dengan batu-batu karang yang bentuknya beraneka ragam. Sudah kubanyangkan aku akan menghabiskan hariku di sana bermain dengan teman-teman kampungku, berlarian di atas lebutnya butiran pasir putih. 
Kulihat jam dinding sudah menunjuk angka 8, hari juga sudah mulai panas. Aku gelisah, karena teman-temanku sebentar lagi pasti menghampiriku.sepertinya ayah dari tadi memperhatikan kegelisahanku.
“Kenapa kau dari tadi mondar-mandir? Lirak-lirik jam?”
“Begina Bak, hari ini aku diajak teman-teman berwisata ke pantai.”
“Dengan anak-anak berndalan itu?”
“Mereka tidak berandalan Bak.”
“Mereka teman-teman Manihing, sebenarnya mereka baik Bak.”
“Sudahlah tinggal di rumah, kau tak tahu Abakmu sedang sakit, kau malah pergi.”
Sedih rasanya, bagaimana jika teman-teman nanti datang kesini, aku jawab apa? Apa aku pergi saja dan tak perlu bilang Abak. Kusiapkan semua keperluan Abak untuk sehari ini, lalu aku pergi diam-diam lewat pintu belakang. Kusiapkan makanan di meja makan, sehingga apabila ayah lapar tinggal mengambil saja. Kusiapkan juga air hangat di termos, apabila beliau ingin mandi tak perlu merebus air dulu. Dan kusiapkan beberapa obat serta perban di meja. Diam-diam aku pergi sebelum tema-teman datang ke rumahku.
Kutunggu mereka di ujung jalan. Mengapa mereka belum keihatan ya? Tak lama kemudian kudengar suara teman-temanku, mereka datang berlima.
“Manihing....!”
“Kaliman? Kamu ikut juga?”
“Pasti, karena mendengar kamu juga ikut, maka akupun semangat ikut.”
“Bisa aja kamu.”
Kami berenam pun berjalan menuju jalan raya, menunggu angkutan desa yang lewat, cukup lama kami menunggu maklum di desa sehingga angkutan juga jarang lewat sehingga kami harus sabar menunggu. Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengobrol sambil bercanda. Angkutan yang kami tunggu pun lewat. Kurang lebih dua jam kami di angkot karena jalannya lambat, tak jarang pula di setiap persimapangan ngetem sambil menunggu penumpang. Dari jauh sudah terlihat hamparan air laut yang hijau, tampak rata dan sepertinya tak ada batas antara langit dengan laut. Indahnya, aku sudah tak sabar lagi untuk segera tiba di pantai. Terakhir aku pergi ke pantai ketika aku masih sekolah SMA kelas 1, berarti sudah empat tahun lalu.
“Pantai.....pantai.....”
“Serbu...”
Kamipun berlari menuju pantai. Semilir angin semakin menambah indahnya pantai. Ombak yang berkejar-kejaran tiada henti seolah menggambarkan kehidupan ini yang terus berjalan dan berlari. Betapa indahnya ciptaan-Mu. Sambil bermain air serta pasir yang putih sesekali kami berteriak dan berlari-larian saat ombak datang, dan menyapu rata istana buatanku dari pasir putih. Ketika aku membangun ulang istana pasir itu, tiba-tiba Kaliman datang menghampiriku.
“Bagus sekali istananya.Gambaran masa depan ya?”
“Eh...Kaliman, mengagetkan saja.
Kami berdua akhirnya duduk menatap laut hijau sambil berbincang. Setelah sekian lama kami ngobrol kesana-kemari, aku mersakan kenyamanan bercerita dengannya. Namun, mengapa hati ini mulai gelisah, perasaanku mulai campur aduk, entah apa yang aku rasakan? Apakah aku mulai jatuh cinta kepadanya? Nggak mungkin, ini hanya perasaannku saja karena aku jarang bercerita dengan orang lain, selain orang tuaku. Apalagi seorang cowok. Aku juga harus sadar dia anak ketua adat yang sekarang sedang menjalankan studi di kota, sementara aku hanya tamatan SMA, pasti Kaliman juga sudah punya pacar di kampus, teman-temannya pasti cantik-cantik. Kaliman juga orang yang pandai dan taat beragama, anyak gadis-gadis lain yang terpesona kepadanya.
Sorot matanya begitu tajam saat memadang mataku, jantungku semakin berdetak saat dia berada di dekatku. Apakah dia menatap ke semua orang dengan tatapan mata yang tajam? Atau hanya kepadaku saja? Ah... aku teralu besar kepala. Jika dia menatapku. Sampai kami meyaksikan matahari yang singgah ke peraduannya. Kami semua pulang untung masih ada angkutan terkahir walaupun sampai di rumah kami sudah malam. 
“Dari kau Manihing?” Tanya Amak.
“Tadi Manihing bermain ke pantai dengan teman-teman.”
“Mengapa kau sampai malam? Dan kau tak minta ijin Abakmu tadi. Lain kali kau harus ijin kalau mau pergi. Sekarang kau mandi dan makan, sebelum kau diceramahi Abakmu.
Hari sudah malam, aku terasa lelah seharian bermain di pantai. Aku tidak membantu menenun. Sambil berbaring, terbayang wajah Kaliman waktu bersama-sama tadi, senyumnya yang manis, matanya yang tajam membuatkau terpesona padanya. Kutertelap sambil membayangkan wajah Kaliman. Tak terasa pagi yang indah telah menyambutku.rutinitas pagi kulakukan seperti biasa. Ayah sudah sembuh dan beliau sudah ppagi ke ladang sejak pagi buta. 
Sore ini aku latihan menari di rumah ketua adat, aku baru sadar di sana pasti ada Kaliman, mudah-mudahan dia belum ke kota. Biasanya hari minggu sore dia ke kota karena hari senin ada kuliah dan kembali lagi biasanya hari jumat sore. Aku dan beberapa teman sudah datang ke rumah ketua adat, disana kami berlatih sendiri sambil menunggu sang pelatih datang. Sesekali aku melongok ke paintu, melihat apakah Kaliman masih ada atau sudah pergi. Namun, tak kulihat batang hidungnya sekalipun. Sepertinya kaliman memang sudah berangkat ke kota. Mengapa hati ini terasa kecewa saat aku tak bisa melihatnya.
Kekecewaanku sedikit terobati, ketika sang pelatih tari memperkenalkan tarian baru kepada kami. Betapa indahnya tarian itu. Taian baru yang diperkenalkan kepada kami adalah tari sembah. Sebelumnya aku pernah melihat tarian ini saat saudara sepupuku menikah. Tarian itu itu memang sangat indah dan menghibur. Tari sembah biasanya diadakan oleh masyarakat Lampung untuk menyambut dan memberikan penghormatan kepada kepada para tamu atau undangan yang datang. Tarian ini sering dinamakan sebagai tarian penyambutan. 
Setelah pelatih selesai membawakan satu tarian sebagai contoh. Kami semua mulai baris sesuai posisi dan mulai berlatih menari. Walaupun agak susah, tapi sang pelatih tetap tekun mengajari kami satu persatu. Selain untuk melestarikan budaya di daerah kami, tarian ini juga dapat digunakan sewaktu-waktu apabila ada pernikahan atau saat menyambut para tamu. Seperti pejabat-pejabat.
“Gimana latihan tarinya?” Tanya Abak
“Aku dilatih tari sembah, Bak. Tarian baru, tapi cukup sulit.”
“Asal kau mau berlatih pasti bisa Manihing, daripada kau keluyuran nggak jelas lebih baik kau ikut berlatih tari seperti itu kan bermanfaat.”
“Iya Bak. Aku mandi dulu Bak.”
Setiap minggu sore kami berlatih tari. Sudah beberapa tarian yang dapat kami tampilkan. Tari sembah pun sudah mahir kami pergakan dan pernah kami pertunjukkan saat ada pernikahan di kampung kami. Sanggar kamipun mulai dikenal di kampung-kampung lain, sehinggga kami sering diundang untuk menari pada acara pernikahan atau penyambutan para pejabat. 
Kegiatanku semakin bertambah, selain menenun dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sekarang aku sering diundang untuk mengisi acara dengan teman lain yang sesanggar. Suatu hari kami diundang di kampus tempat Kaliman kuliah. Ohh....betapa senangnya aku mendengar berita itu. Kami diminta mengisi acara wisuda. Aku berharap di sana bertemu dengan Kaliman. Ketika acara dimulai, muncullah seorang pembawa acara dari pintu samping. Betapa terkejutnya aku ketika kulihat wajah pembawa acara itu adalah Kaliman.
Kurasakan jantungku semakin berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Apakah dia melihatku? Ya Tuhan...Dia tampak berwibawa sekali dengan mengenakan jas, maklumlah karena ini acara resmi. Setelah mendengar sambutan dari rektor, kami pun dipanggil oleh pembawa acara untuk tampil. Perasaan ini semakin tak menentu, selain baru pertama kali tampil dalam acara resmi seperti ini aku pun semakin salah tingkah ketika Kaliman melihatku menari. Aku hanya bisa berdoa agar taria yang kami bawakan berjalan lancar. Aku bersyukur doaku terkabul. Suara riuh dan tepuk tangan dari penonton merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Setelah acara selesai Kaliman mendekati dan menyalamiku.
“Selamat ya, tariannya bagus. Kamu juga cantik sekali hari ini.”
“Terima kasih, itu juga berkat ayah kamu yang berinisiatif mendirikan sanggar di kampung kita.”
“Kamu pulang bareng siapa?”
“Aku pulang dengan rombongan.”
“Sebenarnya aku ingin mengajak kamu pulang bareng. Apa kamu bawa ganti?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu biar aku bilang ke rombongan kalau kamu bareng aku.”
Segera aku berganti pakaian tari dengan kaos santai. Aku diboncengkan Kaliman dengan menggunakan motor vespa. Sepanjang jalan aku hanya diam. Aku tidak tau harus ngomong apa? Yang ada hanyalah perasaanku yang campur aduk tak karuan. Ini kan bukan jalan menuju kampung kami, akan membawaku kemanakah Kaliman? Aku hendak bertanya, tapi...akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.
“Kita mau kemana?”
“Nanti kau lihat sendiri saja.”
Aku pun tak bertanya lagi, asyik juga ya melakukan perjalanan dengan motor. Tak lama kemudian kami pun sampai di pantai yang dulu kami kunjungi bersama. Setelah dia sandarkan motornya, kami duduk di bawah pohon beraskan tiikar kecil yang selalu dia bawa di motor. 
“Sudah lama aku ingin mengajakmu kesini. Tapi baru kali ini aku diberi kesempatan untuk berdua denganmu. Kamu tau apa yang aku rasakan selama ini? Sudah lama aku memendam perasaan ini untukmu, sejak kita masih sama-sama duduk di bangku SMA. Tapi baru aku ungkapan sekarang, entah kamu memiliki perasaan yang sama atau tidak. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan selma ini. Manihing maukah kauu jadi kekasihku?”
“Sebenarnya, sudah lama aku juga memendam perasaan yang sama. Namun, apa daya aku tak banyak berharap. Karena aku takut sakit hati, takut kalau kamu juga tak mau mencintaiku.”
“Jadi kamu menerimaku jadi pacarmu?”
Aku hanya mengangguk, Kaliman memelukku erat. Pasir putih, angin, dan lautlah yang menjadi saksi cinta kita saat itu. Kami pulang bersama, Kaliman mengantarkanku sampai rumah. Betapa indahnya hidup ini. Sungguh aku sangat bahagia. Segala sesuatu yang aku impikan kini telah menjadi kenyataan. Semua terasa indah, sungguh indah.
Kebahagiaan itu tiba-tiba sirna ketika orang tuaku mengetahui bahwa aku berpacaran dengan Kaliman. Orang tuaku melarang kami berpacaran dengan alasan adat yang harus dijunjung tinggi. Aku kecewa, sangat kecewa ketika mendengar itu. Aku dan keluarga tinggal di Lampung Tengah, setiap tempat memiliki adat yang berbeda begitu juga dengan tempat tinggalku. Adat istiadat di Lampung Tengah adalah masyarakat adat pepadun. Upacara adat Lampung Tengah umumnya ditandai dengan adanya bentuk perkawinan “jujur” dengan menurut garis keturunan patrilineal yang ditandai dengan adanya pemberian uang kepada pihak mempelai wanita untuk menyiapkan “sesan” berupa alat-alat rumah tangga. Sesan tersebut akan diserahkan kepada pihak laki-laki pada saat upacara perkawinan berlangsung yang sekaligus sebagai penyerahan mempelai wanita kepada keluarga laki-laki. Dengan demikian secara hukum adat maka putus pula hubungan secara adat antara mempelai wanita dari keluarganya. 
“Kenapa Abak melarangku berhubungan dengan Kaliman?”
“Karena kamu tak sederajat dengannya. Dia anak orang terpandang dan berpendidikan tinggi, sementara kamu hanya anak seorang petani dan hanya tamatan SMA.”
“Tapi, Bak. Cinta tidak mengenal derajat dan tingkat pendidikan?” 
“Tapi abak tetap tidak merestui, mau ditaruh di mana muka Abak? Bagaimana pendapat orang, pasti semua orang akan meremehkan kita.”
“Aku mohon Bak, aku sangat mencintai Kaliman.”
“Dengan apa kita akan menyiapkan sesan? Menjual ladang? Lalu orang tuamu harus kerja di mana? Nganggur? Mengahrap belas kasihan dari besan?”
Aku menyadari bahwa keluargaku memang hanya pas-pasan secara materi. Pendapatan sehari-hari memang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku juga masih ingat ketika aku masih sekolah. Abak sering meminjam uang kepada tetangga untuk membayar SPP. Kemudian beliau baru membayar ketika panen. Sering itu dilakukan tak hanya untuk membayar SPP untuk kebutuhan yang lain juga. Aku sedih, tapi aku juga tak mau mengorbankan perasaanku.
Aku menemui Kaliman di sanggar karena itu hari sabtu, aku tau Kaliman pasti di rumah. Kudapati dia sedang membaca buku dan kumendekatinya. Kuceritakan semua yang kualami selama semiggu ini. Kaliman hanya terdiam mendengar ceritaku, aku menyerahkan semuanya ke Kaliman, apapun resikonya. Tappi kaliman juga ingin mempertahankan hubungan kita. 
“Setelah aku lulus sarjana, aku akan bekerja. Dan hasil pendapatanku kita tabung, setelah terkumpul kita gunakan untuk menyiapkan sesan. Bagaimana pendapatmu?”
“Mungkin itu semua memang mudah kita rencanakan, tapi kita nggak tahu, bagaimana nantinya? Apakah orang tuamu setuju?”
“Aku nggak tau, kamu juga tau orang tuaku juga orang yang keras terhadap pendirian.”
“Benarkan? Mungkin semua yang kita rencanakan kini hanya kenangan saja.”
“Aku pulang saja Kaliman.”
“Kenapa?”
“Aku ingin menenangkan pikiran.”
Terlalu sakit menerima kenyataan ini. Sepertimya aku tak sanggup lagi setiap hari mendengar ceramahan abak dan amak. Aku ingin pergi. Sempat terpikir di benakku, seandainya aku pergi merantau ke luar kota dan aku melupakan Kaliman saja. Daripada aku menahan rindu terus menerus seperti ini namun aku selalu dilarang oleh orang tua. Namun, pikiran itu tiba-tiba kuurungkan ketika aku mengingat jasa kedua orang tuaku yang telah membesarkanku hingga aku menjadi seperti ini.
Setahun kemudian, aku menjadi orang yang lebih berguna. Tak lagi memikirkan masalah pribadiku saja. Aku sudah bisa menari dengan baik dan dipercaya untuk melatih tari di daerahku. Beberapa lomba sudah kuikuti, dan tak sedikit juga yang aku menangkan. Melalui budaya daerah inilah kebudayaan Indonesia menjadi semakin kaya. Aku tersenyum bangga.


Sahabat Sejati

Awalnya aku tidak percaya sahabat sejati itu memang ada, sama sekali tidak percaya! Bagiku semua itu bulshit adanya. Sahabat yang selalu ada untukku, berbagi suka duka bersama, dan menjunjung tinggi semangat persaudaraan, bagiku tidak pernah ada di dunia ini. Satu pun tidak akan pernah ada. Semua akan hilang dan meninggalkanku!

Tapi, suatu ketika ada sebuah rahasia besar yang mengubah paradigmaku mengenai sahabat sejati. Ada yang terlupakan dari semua ini. Terselip begitu saja. Aku mengacuhkan hal berharga itu. Aku memang masih memahami konsep sahabat sejati hanya hoax belaka, kecuali, dengan satu kemungkinan : jika kau membuka hatimu untuk menerima sesuatu yang riskan itu, sahabat sejati itu mungkin bukanlah sebuah omong kosong belaka.

Aku berdiri mematung di kantin. Bergeming seraya fokus melihat dengan pandangan jijik. Sosis merah dilumuri saus yang seolah – olah menggiurkan, bakso yang begitu kenyal, keripik yang rasanya sangat gurih, mie yang terlihat sangat liat sekali, dan otak – otak yang tak ubahnya seperti makanan – makanan rusak. Aku begitu phobia melihat makanan – makanan itu. Ya, baru melihatnya saja aku sudah seperti itu, apalagi memakananya, dijamin aku akan koma beberapa bulan!

Semua makanan rusak itu begituku benci, karena gara – gara makanan – makanan itu sahabatku, Anita, meninggal dunia! Anita, sahabat terbaikku (dan kupikir juga sahabat sejatiku), terkena kanker otak yang disebabkan oleh makanan – makanan yang  banyak mengandung boraks, formalin, dan entah bahan kimia apa yang terkandung di dalamnya. Dokter mendiagnosis di dalam tubuhnya sudah ada 6 g boraks yang mengendap sejak bertahun – tahun (itu belum termasuk zat – zat kimia lainnya seperti, pewarna dan pengawet).

Sel – sel kanker yang ada di tubuh Anita berkembang begitu cepat. Daya tahan tubuhnya juga tak kuat menahan serangan demi serangan yang diluncurkan oleh racun –racun itu. Ditambah lagi Anita tidak suka makan sayur – sayuran dan buah – buahan. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Dan, semenjak saat itu aku begitu membenci makanan itu. Makanan rusak itu.

“Rara …” Yani teman sekelasku, kelas 7.8 tepatnya, berlari kearahku. Rambut panjangnya yang digerai bergoyang – goyang di terpa angin. Menurutku ia cukup manis. “Jajan, yuk.  Aku punya uang jajan lebih, nih. Hasil lomba pidato kemarin. Aku ingin mentraktir kamu. Syukur – syukur bisa menghilangkan dukamu atas kehilangan Anita. Mau, ya!”

Aku merasakan ada kejanggalan di perkaannya itu. Aku berpikir seperkian detik sebelum menemukan jawaban yang cocok untuknya, “Maksudmu? Oh! Kamu senang Anita meninggal? Lalu, kamu merayakan kepergian Anita dengan mentraktir aku, begitu? Kamu jahat, Yan!”

Aku benar – benar tak habis pikir dengan Yani. Anita itu sahabat terbaikku, tidak boleh ada yang memperlakukannya seperti itu. Menyebalkan!

“Kok, kamu bicaranya ketus seperti itu, sih?  Sekalipun aku tidak pernah bahagia dengan kepergian Anita. Itu tidak mungkin.” Tukas Yani dengan mata yang berkaca- kaca. “Aku hanya tidak ingin melihatmu bersemedi dengan kesedihanmu itu. Aku ingin jadi teman baikmu.”

“Kamu tidak akan bisa menggantikan Anita, Yani!” emosiku semakin meluap, “Aku  sangat menyayangi Anita, wajar kalau aku sedih atas kepergiannya.”

“Tapi ini terlalu jauh, Ra. Kamu menjadi sangat berbeda. Akhir – akhir ini kamu begitu emosian, suka menyendiri, pembangkang, dan sangat tertutup. Kamu bukan Rara yang aku kenal.”

“Terserah!” Sebelum aku benar – benar pergi meinggalkan Yani, aku sempat melirik sosis yang ia lahap begitu nikmat. “Racun.” Ucapku tegas dan dalam. Aku melihat ekpresi wajah Yani mendadak khawatir. Aku pun berlalu setelah membuatnya depresi berat.

Sepulang sekolah aku menunggu kereta di stasiun Kebayoran Lama, tepatnya di kawasan Jakarta Selatan. Rumahku di Tanah Abang. Sementara aku bersekolah di SMPN ** Jakarta, kecamatan  Kebayoran baru. Otomatis dengan begitu, aku harus menggunakan kereta untuk sampai ke rumahku.

Huek! Aroma khas dari keringat para manusia merasuki hidungku dengan sangat semangat saat aku masuk ke dalam kereta. Desak – desakkan penumpang membuat hatiku semakin kesal. Para pedagang pun menambah kebisingan. Ah … izinkan aku pingsan!!!

Kejengkelan hatiku semakin merajalela saat aku mengingat kembali perkataan Yani tadi pagi.

“Tapi ini terlalu jauh, Ra. Kamu menjadi sangat berbeda. Akhir – akhir ini kamu begitu emosian, suka menyendiri, pembangkang, dan sangat tertutup. Kamu bukan Rara yang aku kenal.”

Ishh! Memangnya dia tahu apa tentang hidupku? Menyebalkan! Luka hatiku saja belum sembuh benar atas kehilangan Anita. Aku trauma! Dia adalah sahabat terbaikku, selalu bersamaku, kami berbagi suka dan duka. Yani itu tidak tahu apa – apa. Seharusnya dia tak perlu ikut campur urusanku!

Memang benar, akhir – akhir ini sifatku begitu berubah, aku akui itu. Jujur, hidupku hampa. Tak ada motivasi. Tak ada semangat. Bahkan aku tidak ingin berteman dengan siapapun. Aku tidak mau menyayangi siapapun lagi. Sudah cukup aku kehilangan Anita, tidak lagi untuk yang kedua kalinya.

Jangan dekat dengan siapapun, jangan menyayangi siapapun, dan jangan percaya pada sahabat sejati karena sahabat sejati tidak pernah ada, dengan begitu kau tidak akan pernah menangis akan kehilangan. Itulah prinsipku saat ini. Aku berusaha untuk membenci atau lebih tepatnya menjauhi siapapun saat ini. Egois dan bodoh memang. Rasa trauma sudah mendarah daging dalam jiwaku. Aku seperti kehilangan jati diri. Biarkan! Aku tidak peduli.

Aku bergegas turun dari  kereta di stasiun Tanah Abang. Setelah memastikan aku berdiri di tempat yang aman, aku pun merapikan ikatan sepatuku agar tidak terinjak – injak. Lalu, membenarkan letak tas punggungku.

Kebetulan, tepat di sampingku ada penjual cermin, tentu saja aku berkaca sebentar dan terkejut sebentar. Wajahku seperti kepiting goreng, direbus, diberi beberapa cabe, digoreng lagi, lalu hangus! Berlebihan memang, tapi hal itu cukup menggambarkan bahwa karbon monoksida bus Metromini sanggup membuat wajahku seperti ini. Rambutku yang sebahu aku ikat. Tak dapat dipungkiri Jakarta memang sangat panas!

Setelah puas melihat bentuk wajahku yang tak karuan, aku kembali berjalan. Namun, tiba – tiba saja mataku terfokus pada satu titik. Aku melihat seorang gadis kecil sedang mengais – ngais tong sampah yang ada di dekatnya. Lalu gadis itu berjalan ke gerbong tua yang sudah tidak terpakai lagi. Ia duduk disana sambil memakan apa yang dia ambil dari tong sampah.

B. Puisi

Indahnya negeri ini
dalam buaian ibu pertiwi
negri ini di penuhi dengan keberagaman
nuansa keindahan budaya indonesia

Bangsa ini kaya akan budaya
penuh dengan symphoni yang indah
mengapa tidak kita lestarikan ?
mengapa tidak kita pertahankan ?

Ini bangsa kita..
ini negri kita..
ini kebudayaan kita..
kita hidup, kita dewasa dalam negeri tercinta ini

Kini saatnya untuk kita saling bersatu
saling melestarikan budaya
saling menjaga apa yang akan kita lestarikan
dan mempertahankan nuansa budaya indonesia.

Manusia dan Kebudayaan

Manusia dan Kebudayaan


Manusia

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti “manusia yang tahu”), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.


Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.
Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua.
Manusia adalah mahluk yang luar biasa kompleks. Kita merupakan paduan antara mahluk material dan mahluk spiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi manusia menurut beberapa ahli:
NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang
 ABINENO J. I
Manusia adalah “tubuh yang berjiwa” dan bukan “jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana”
 UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik
SOKRATES
Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar
 KEES BERTENS
Manusia adalah suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan
 I WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa
OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY
Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan
 ERBE SENTANU
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain
 PAULA J. C & JANET W. K
manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinan

Hakekat Manusia

Menurut bahasa, hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Dikalangan tasawuf orang mencari hakikat diri manusia yang sebenarnya, karena itu muncul kata-kata diri mencari sebenar-benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari hakikat jasad, hati, roh, nyawa, dan rahasia.
     
      Pembicaraan manusia dapat ditinjau dalam berbagai perspektif, misalnya perspektif filasafat, ekonomi, sosiologi, antropologi, psikologi, dan spiritualitas Islam atau tasawuf, anatar lain :
a.  Dalam perspektif filsafat.
      Disimpulkan bahwa manusia merupakan hewan yang berpikir karena memiliki nalar intelektual. Dengan nalar intelektual itulah manusia dapat berpikir, menganalisis, memperkirakan, meyimpulkan, membandingkan, dan sebagainya. Nalar intelektual ini pula yang membuat manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang jelek, antara yang salah dan yang benar.

1. Hakekat Manusia
            Pada saat-saat tertentu dalam perjalanan hidupnya, manusia mempertanyakan tentang asal-usul alam semesta dan asal-usul keber-ada-an dirinya sendiri. Terdapat dua aliran  pokok  filsafat   yang  memberikan  jawaban  atas pertanyaan  tersebut,  yaitu Evolusionisme dan  Kreasionisme  (J.D.  Butler, 1968). Menurut Evolusionisme,  manusia adalah  hasil  puncak  dari  mata   rantai  evolusi  yang  terjadi  di  alam  semesta.  Manusia  sebagaimana  halnya alam  semesta ada  dengan sendirinya berkembang dari alam  itu sendiri, tanpa Pencipta. Penganut aliran ini antara lain Herbert Spencer, Charles Darwin, dan  Konosuke  Matsushita. Sebaliknya, Kreasionisme menyatakan bahwa asal usul manusia sebagaimana halnya alam semesta adalah ciptaan suatu Creative Cause atau Personality, yaitu Tuhan YME. Penganut aliran ini antara lain Thomas Aquinas dan Al-Ghazali. Memang  kita  dapat  menerima  gagasan  tentang  adanya  proses  evolusi  di  alam semesta termasuk pada  diri  manusia,  tetapi  tentunya kita   menolak pandangan  yang menyatakan adanya manusia di alam semesta semata-mata sebagai hasil evolusi dari alam itu sendiri, tanpa Pencipta.
2.  Wujud dan Potensi Manusia.
            Wujud  Manusia. menurut  penganut  aliran  Materialisme yaitu  Julien  de  La Mettrie bahwa  esensi  manusia  semata-mata  bersifat  badani,  esensi  manusia  adalah tubuh atau fisiknya.  Sebab itu, segala hal yang bersifat kejiwaan, spiritual atau rohaniah dipandangnya  hanya  sebagai  resonansi  dari  berfungsinya  badan  atau  organ  tubuh. Tubuhlah yang mempengaruhi jiwa. Contoh: Jika ada organ tubuh luka muncullah rasa sakit.  Pandangan  hubungan  antara  badan  dan  jiwa  seperti  itu  dikenal  sebagai Epiphenomenalisme (J.D. Butler, 1968). Bertentangan  dengan  gagasan  Julien  de  La  Metrie,  menurut Plato salah seorang  penganut  aliran  Idealisme -bahwa  esensi   manusia  bersifat  kejiwaan/spiritual/rohaniah. Memang  Plato  tidak   mengingkari  adanya  aspek  badan,  namun menurut  dia  jiwa  mempunyai  kedudukan  lebih  tinggi  daripada  badan.
b.     Dalam Perspektif Ekonomi.
      Dalam perspektif ekonomi, manusia adalah makhluk ekonomi, yang dalam kehidupannya tidak dapat lepas dari persoalan-persoalan ekonomi. Komunikasi interpersonal untuk memenuhi hajat-hajat ekonomi atau kebutuhan-kebutuhan hidup sangat menghiasi kehidupan mereka.

c.      Dalam Perspektif Sosiologi.
      Manusia adalah makhluk social yang sejak lahir hingga matinya tidak pernah lepas dari manusia lainnya. Bahkan, pola hidup bersama yang saling membutuhkan dan saling ketergantungan menjadi hal yang dinafikkan dalam kehidupan sehari-hari manusia.

d.     Dalam Perspektif Antropologi.
      Manusia adalah makhluk antropologis yang mengalami perubahan dan evolusi. Ia senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan yang dinamis.

e.      Dalam Perspektif Psikologi.
      Manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa. Jiwa merupakan hal yang esensisal dari diri manusia dan kemanusiaannya. Dengan jiwa inilah, manusia dapat berkehendak, berpikir, dan berkemauan.

Kepribadian Bangsa Timur

Kepribadian diartikan sebagai suatu pola sikap yang mencerminkan sifat atau karakter seseorang dengan lingkungannya. Kepribadian bangsa timur dapat diartikan sebagai suatu sikap yang dimiliki oleh suatu negara yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya. Kepribadian bangsa timur pada umumnya merupakan kepribadian yang mempunyai sifat tepo seliro atau memiliki sifat toleransi yang tinggi. Dalam berdemokrasi bangsa timur umumnya aktif dalam mengutarakan aspirasi rakyat. Seperti di negara Korea, dalam berdemokrasi mereka duduk sambil memegang poster protes dan di Negara Thailand, mereka berdemokrasi dengan tertib dan damai.

Kepribadian bangsa timur juga identik dengan tutur kata yang lemah lembut dan sopan dalam bergaul maupun dalam berpakaian. Terdapat ciri khas dalam berbagai negara yang mencerminkan negara tersebut memiliki suatu kepribadian yang unik. Misalnya masyarakat Indonesia khususnya daerah Jawa. Sebagian besar mereka bertutur kata dengan lembut dan sopan. Dan terdapat beberapa aturan atau larangan yang tidak boleh dilakukan menurut versi orang dulu yang sebenarnya menurut orang Jawa itu suatu nasihat yang membangun. Misalnya tidak boleh duduk di depan pintu. Hal tersebut merupakan ciri khas kepribadian yang unik.



Bangsa timur erat kaitannya dengan rasa sosialisasi dan rasa solidaritas yang tinggi. Misalnya saling tolong menolong dan bergotong royong yang dilakukan bersama-sama. Hal tersebut bagi bangsa timur merupakan suatu sikap yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan. Bangsa timur juga memiliki kebudayaan yang masih kental dari negara atau daerah masing-masing. Masih ada adat-adat atau upacara tertentu yang masih dilaksanakan oleh bangsa timur. Misalnya bangsa Indonesia masih banyak yang melaksanakan upacara-upacara adat dan tarian khas dari masing-masing daerah. Contohnya daerah Bali yang masih melaksanakan tarian khas daerahnya yaitu tarian pendet, kecak, tarian barong. Terbuka dengan negara lain merupakan salah satu kepribadian yang dimilki oleh bangsa timur. Mereka menjalin kerjasama antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain yang tergabung dalam ASEAN.

Kebudayaan

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Tokoh - tokoh Kebudayaan

DAFTAR NAMA TOKOH SENI/BUDAYA ;

A. TOKOH SENI RUPA
TOKOH SENI RUPA MANCA NEGARA
Hieronymous Bosch, 1450-1516 (Pelukis-Belanda)
Frans Hals, 1580/85-1666 (Pelukis-Belanda)
Leonardo da Vinci (Arsitek, Pelukis – Italia)
Michelangelo (Pemahat, Pelukis – Italia)
Vincent van Gogh (Pelukis – Belanda)
Rembrand Van Rijn (Pelukis – Belanda)
Pablo Piccaso (Pelukis – Spanyol)
Rubens (Pelukis – Belanda)
Titian
Teodhore Gericault (Pelukis – Prancis) 
Jacques Louis David, 1748-1825 (Pelukis – Prancis) 
Ingres, 1780-1867 (Pelukis – Prancis)
Claudio Monet, (Pelukis – Prancis)
Edouard Manet,  (Pelukis – Prancis)
Piere Auguste Renoir, (Pelukis – Prancis)
Salvador Dalí, (Pelukis – Spanyol)
Edgar Degas, 19 Juli 1834 (Pelukis – Paris) 

TOKOH SENI RUPA INDONESIA ;
Affandi (Pelukis)
Agus Djaya (Pelukis – Art Consultant)
Basuki Abdullah (Pelukis)
Raden Saleh (Pelukis)
Hendra Gunawan (Pelukis)
Lee Man Fong (Pelukis)
Otto Djaya (Pelukis)
Dullah (Pelukis)
Soedjojono (Pelukis)
Wakidi (Pelukis)
Soenaryo (Pelukis)
I Nyoman Nuarta (Pematung)
I Nyoman Gunarsa (Pelukis)
Antonio Blanco (Pelukis)
Lee Mayor (Pelukis)
Rudolf Bonet (Pelukis)
Heng Ngantung (Pelukis)
F. Widayanto (Keramikus)

B. TOKOH SENI PANGGUNG/PERTUNJUKAN
TOKOH SENI PANGGUNG MANCA NEGARA
Shakespeare, (Sandiwara – Inggris)
Verdi, 1800 an (Drama – Italia)
Wagner, 1800 an (Drama – Jerman)
Puccini, 1900 an (Drama – Italia)
Boris Christoff, (Drama -            )
Sherley Verrett, (Drama -         )
TOKOH SENI PANGGUNG INDONESIA
Sardono W. Kusumo (Koreografer)
Bagong Kusudiarjo (Koreografer – Pelukis)
Didiek Ninithowok (Koreografer)
Srimulat (Drama – Lawak)
Ki Siswondo (Ketoprak)
Cak Doerasim (Ludruk)
Ki Nartosabdo (Pedhalangan-Wayang Kulit)
Ki Timbul Hadiprajitno (Pedhalangan-Wayang Kulit)
Ki Anom Soeroto (Pedhalangan-Wayang Kulit)
Ki Mantep Darsono (Pedhalangan-Wayang Kulit)
Ki Enthus Soesmono (Pedhalangan-Wayang Kulit)
Retno Maruti (Tari Tradisional Jawa)
Guntur Soekarno (Koreografer)

C. TOKOH SENI MUSIK
TOKOH SENI MUSIK MANCA NEGARA
Mozart (Komponis – Austria)
Ludwig van Beethoven (Komponis – Jerman)
TOKOH SENI MUSIK INDONESIA
Ebiet G. Ade (Pencipta Lagu – Penyanyi)
Iwan Fals (Pencipta Lagu – Penyanyi)
H. Rhoma Irama (Pencipta Lagu – Penyanyi)
Titiek Puspa (Pencipta Lagu – Penyanyi)
Broery Marantika (Penyanyi)
Harvey Malaiholo (Penyanyi)
Gesang (Pencipta Lagu – Penyanyi)
Didie Kempot (Pencipta Lagu – Penyanyi)
Jadug Ferianto (Pemusik)
Franki Sahilatua (Pencipta Lagu – Penyanyi)

D. TOKOH SENI SASTRA
TOKOH SASTRA MANCA NEGARA
William Shakespeare  (1564) …………………………………  Romeo and Juliet
Walmiki (India) ……………………………………………………  Kisah Ramayana
TOKOH SASTRA INDONESIA
Prapanca (Dang Acarya Nadendra) …………….  Kakawin Negarakertagama
Mpu Sedah (Kerajaan Kadiri) …………………………..  Kakawin  Mahabharata
Yasadipura I (Pujangga) …………………………………………  Serat Bima Suci
Mangkunegara IV (Pujangga) …………………………………  Serat Wedatama
Paku Buana IV (Pujangga) ……………………………………  Serat Wulang Reh
Ngabehi Rangga Warsito (Pujangga) ……………………..  Serat Jaka Lodang
Buya Hamka (Sastrawan) …………………………………………..  Laila Majnun
Chairil Anwar (Penyair) ………………………………  Aku Ini Binatang Jalang
HB. Jassin (Pengarang-Kritikus)
WS. Rendra (Penyair-Dramawan) ………………………….  Panembahan Reso

E. TOKOH KEBUDAYAAN
TOKOH KEBUDAYAAN INDONESIA
Bung Karno
Gus Dur
Emha Ainun Najib 
Kang Sobari
Soejiwo Tejo
Butet Kertarajasa

Unsur-unsur Kebudayaan

Ketika melakukan kunjungan ke luar daerah, ke luar kota, bahkan sampai ke luar negeri, kita akan selalu menemukan tujuh aspek budaya dalam masyrakat yang kita kunjungi tersebut, yaitu :
1). Sistem bahasa
2). Sistem peralatan hidup dan teknologi
3). Sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup
4). Sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial
5). Ilmu pengetahuan
6). Kesenian
7). Sistem kepercayaan, atau agama
Ketujuh hal ini, oleh Clyde Kluckhohn dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culture (dalam Gazalba, 1989: 10)., disebut sebagai 7 unsur kebudayaan yang bersifat universal (Culture Universals).
Artinya, ketujuh unsur ini akan selalu kita temukan dalam setiap keadaan atau masyarakat di dunia. Unsur-unsur ini merupakan perwujudan usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup dan memelihara kesistensi diri dan kelompoknya.
Cultural Activity
Untuk kepentingan ilmiah dan memudahkan identifikasi, para sarjana membagi ketujuh kebudayaan universal tersebut ke alam unsur-unsur kebudayaan yang lebih kecil. Ralph Linton misalnya, ia membagi cultural universal tersebut ke dalam sub-sub tertentu yang disebut cultural activity atau kegiatan budaya.
Pada sistem bahasa, kegiatan budaya mecakup bahasa lisan atau tulian. Pada sistem peralatan hidup dan teknologi-baik modern maupun tradisional, tercakup alat-alat rumah tangga, perumahan, senjata, teknologi komunikasi, dan banyak lagi.
Pada sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup, kegiatan budaya mencakup pertanian, peternakan, sistem produksi, perbankan, dan sebagainya.
Pada sistem kemasyarakatan, kegiatan budayanya meliputi tata kekerabatan, organisasi kemasyarakatan, organisasi politik, tata hukum, perkawinan, dan lainnya.
Pada sistem kesenian, bagian-bagian kecil semacam seni tari, seni musik, seni suara, seni pahat, dan seni lukis, termasuk ke dalam kegiatan budayanya. Adapun pada sistem keagamaan, kegiatan budayanya mencakup ritual ibadah, kitab suci, dan lainnya.

Wujud Kebudayaan

Tiga Wujud Kebudayaan Menurut Dimensi Wujudnya

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
1.  Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2.  Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3.  Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Orientasi Nilai Kebudayaan

Kluckhohn   dalam   Pelly   (1994)   mengemukakan   bahwa   nilai   budaya merupakan  sebuah  konsep  beruanglingkup  luas  yang  hidup  dalam  alam  fikiran sebahagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang paling berharga dalam hidup. Rangkaian konsep itu satu sama lain saling berkaitan dan merupakan sebuah sistem nilai – nilai budaya.
Secara  fungsional  sistem  nilai  ini  mendorong  individu  untuk  berperilaku seperti  apa  yang  ditentukan.  Mereka  percaya,  bahwa  hanya  dengan  berperilaku seperti itu mereka akan berhasil (Kahl, dalam Pelly:1994). Sistem nilai itu menjadi pedoman yang melekat erat secara emosional pada diri seseorang atau sekumpulan orang, malah merupakan tujuan hidup yang diperjuangkan. Oleh karena itu, merubah sistem nilai manusia tidaklah mudah, dibutuhkan waktu. Sebab, nilai – nilai tersebut merupakan  wujud  ideal  dari  lingkungan  sosialnya.  Dapat  pula  dikatakan  bahwa sistem   nilai   budaya   suatu   masyarakat   merupakan   wujud   konsepsional   dari kebudayaan mereka, yang seolah – olah berada diluar dan di atas para individu warga masyarakat itu.
Ada lima masalah pokok kehidupan manusia dalam setiap kebudayaan yang dapat ditemukan secara universal. Menurut Kluckhohn dalam Pelly (1994) kelima masalah pokok tersebut adalah: (1) masalah hakekat hidup, (2) hakekat kerja atau karya manusia, (3) hakekat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu, (4) hakekat hubungan manusia dengan alam sekitar, dan (5) hakekat dari hubungan manusia dengan manusia sesamanya.
Berbagai   kebudayaan   mengkonsepsikan   masalah   universal   ini   dengan berbagai  variasi  yang  berbeda  –  beda.  Seperti  masalah  pertama,  yaitu  mengenai hakekat hidup manusia. Dalam banyak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Budha misalnya, menganggap hidup itu buruk dan menyedihkan. Oleh karena itu pola kehidupan masyarakatnya berusaha untuk memadamkan hidup itu guna mendapatkan   nirwana,   dan   mengenyampingkan   segala   tindakan   yang   dapat menambah rangkaian hidup kembali (samsara) (Koentjaraningrat, 1986:10). Pandangan  seperti  ini  sangat  mempengaruhi  wawasan  dan  makna  kehidupan  itu secara keseluruhan. Sebaliknya banyak kebudayaan yang berpendapat bahwa hidup itu baik. Tentu konsep – konsep kebudayaan yang berbeda ini berpengaruh pula pada sikap dan wawasan mereka.
Masalah kedua mengenai hakekat kerja atau karya dalam kehidupan. Ada kebudayaan yang memandang bahwa kerja itu sebagai usaha untuk kelangsungan hidup (survive) semata. Kelompok ini kurang tertarik kepada kerja keras. Akan tetapi ada juga yang menganggap kerja untuk mendapatkan status, jabatan dan kehormatan. Namun, ada yang berpendapat bahwa kerja untuk mempertinggi prestasi. Mereka ini berorientasi kepada prestasi bukan kepada status.
Masalah ketiga mengenai orientasi manusia terhadap waktu. Ada budaya yang memandang penting masa lampau, tetapi ada yang melihat masa kini sebagai focus usaha dalam perjuangannya. Sebaliknya ada yang jauh melihat kedepan. Pandangan yang berbeda dalam dimensi waktu ini sangat mempengaruhi perencanaan hidup masyarakatnya.
Masalah keempat berkaitan dengan kedudukan fungsional manusia terhadap alam. Ada yang percaya bahwa alam itu dahsyat dan mengenai kehidupan manusia. Sebaliknya ada yang menganggap alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk dikuasai manusia. Akan tetapi, ada juga kebudayaan ingin mencari harmoni dan keselarasan dengan alam. Cara pandang ini akan berpengaruh terhadap pola aktivitas masyarakatnya.
Masalah kelima menyangkut hubungan antar manusia. Dalam banyak kebudayaan hubungan ini tampak dalam bentuk orientasi berfikir, cara bermusyawarah, mengambil keputusan dan bertindak. Kebudayaan yang menekankan hubungan horizontal (koleteral) antar individu, cenderung untuk mementingkan hak azasi, kemerdekaan dan kemandirian seperti terlihat dalam masyarakat – masyarakat eligaterian. Sebaliknya kebudayaan yang menekankan hubungan vertical cenderung untuk mengembangkan orientasi keatas (kepada senioritas, penguasa atau pemimpin). Orientasi ini banyak terdapat dalam masyarakat paternalistic (kebapaan). Tentu saja pandangan ini sangat mempengaruhi proses dinamika dan mobilitas social masyarakatnya.
Inti permasalahan disini seperti yang dikemukakan oleh Manan dalam Pelly (1994) adalah siapa yang harus mengambil keputusan. Sebaiknya dalam system hubungan vertical keputusan dibuat oleh atasan (senior) untuk semua orang. Tetapi dalam  masyarakat  yang  mementingkan  kemandirian  individual,  maka  keputusan dibuat dan diarahkan kepada masing – masing individu.
Pola orientasi nilai budaya yang hitam putih tersebut di atas merupakan pola yang ideal untuk masing – masing pihak. Dalam kenyataannya terdapat nuansa atau variasi  antara  kedua  pola  yang  ekstrim  itu  yang  dapat  disebut  sebagai  pola transisional. Kerangka Kluckhohn mengenai lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientasi nilai budaya manusia dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel Skema Kluckhohn: Lima Masalah Dasar Yang Menentukan Orientasi
Nilai Budaya Manusia
Masalah Dasar Dalam Hidup
Orientasi Nilai Budaya
Konservatif
Transisi
Progresif
Hakekat Hidup
Hidup itu buruk
Hidup itu baik
Hidup itu sukar tetapi harus diperjuangkan
Hakekat Kerja/karya
Kelangsungan hidup
Kedudukan dan kehormatan / prestise
Mempertinggi prestise
Hubungan Manusia Dengan Waktu
Orientasi ke masa lalu
Orientasi ke masa kini
Orientasi ke masa depan
Hubungan Manusia Dengan Alam
Tunduk kepada alam
Selaras dengan alam
Menguasai alam
Hubungan Manusia Dengan Sesamanya
Vertikal
Horizontal/ kolekial
Individual/mandiri

Dimodifikasi dari Pelly (1994:104)
Meskipun cara mengkonsepsikan lima masalah pokok dalam kehidupan manusia yang universal itu sebagaimana yang tersebut diatas berbeda – beda untuk tiap masyarakat dan kebudayaan, namun dalam tiap lingkungan masyarakat dan kebudayaan tersebut lima hal tersebut di atas selalu ada.
Sementara itu Koentjaraningrat telah menerapkan kerangka Kluckhohn di atas untuk menganalisis masalah nilai budaya bangsa Indonesia, dan menunjukkan titik – titik   kelemahan   dari   kebudayaan   Indonesia   yang   menghambat   pembangunan nasional. Kelemahan utama antara lain mentalitas meremehkan mutu, mentalitas suka menerabas, sifat tidak percaya kepada diri sendiri, sifat tidak berdisiplin murni, mentalitas suka mengabaikan tanggungjawab.
Kerangka Kluckhohn itu juga telah dipergunakan dalam penelitian dengan kuesioner untuk mengetahui secara objektif cara berfikir dan bertindak suku – suku di Indonesia umumnya yang menguntungkan dan merugikan pembangunan.
Selain itu juga, penelitian variasi orientasi nilai budaya tersebut dimaksudkan disamping untuk mendapatkan gambaran sistem nilai budaya kelompok – kelompok etnik di Indonesia, tetapi juga untuk menelusuri sejauhmana kelompok masyarakat itu memiliki system orientasi nilai budaya yang sesuai dan menopang pelaksanaan pembangunan nasional.

Perubahaan Kebudayaan

Pengertian perubahan kebudayaan adalah suatu keadaan dalam masyarakat yang terjadi karena ketidak sesuaian diantara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan.

Contoh : 
Masuknya mekanisme pertanian mengakibatkan hilangnya beberapa jenis teknik pertanian tradisional seperti teknik menumbuk padi dilesung diganti oleh teknik “Huller” di pabrik penggilingan padi. Peranan buruh tani sebagai penumbuk padi jadi kehilangan pekerjaan. 
Semua terjadi karena adanya salah satu atau beberapa unsur budaya yang tidak berfungsi lagi, sehingga menimbulkan gangguan keseimbangan didalam masyarakat. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian yaitu : kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi dan filsafat bahkan perubahan dalam bentuk juga aturan-aturan organisasi social. Perubahan kebudayaan akan berjalan terus-menerus tergantung dari dinamika masyarakatnya. 

Ada faktor-faktor yang mendorong dan menghambat perubahan kebudayaan yaitu:
a. Mendorong perubahan kebudayaan 
Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi mudah berubah, terutama unsur-unsur teknologi dan ekonomi ( kebudayaan material).
Adanya individu-individu yang mudah menerima unsure-unsur perubahan kebudayaan, terutama generasi muda.
Adanya faktor adaptasi dengan lingkungan alam yang mudah berubah.

b. Menghambat perubahan kebudayaan 
Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi sukar berubah 
seperti :adat istiadat dan keyakinan agama ( kebudayaan non material)
Adanya individu-individu yang sukar menerima unsure-unsur perubahan terutama generasi tu yang kolot.
Ada juga faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan : 

1. Faktor intern 
• Perubahan Demografis 
Perubahan demografis disuatu daerah biasanya cenderung terus bertambah, akan mengakibatkan terjadinya perubahan diberbagai sektor kehidupan, c/o: bidang perekonomian, pertambahan penduduk akan mempengaruhi persedian kebutuhan pangan, sandang, dan papan. 

• Konflik social 
Konflik social dapat mempengaruhi terjadinya perubahan kebudayaan dalam suatu masyarakat. c/o: konflik kepentingan antara kaum pendatang dengan penduduk setempat didaerah transmigrasi, untuk mengatasinya pemerintah mengikutsertakan penduduk setempat dalam program pembangunan bersama-sama para transmigran. 

• Bencana alam 
Bencana alam yang menimpa masyarakat dapat mempngaruhi perubahan c/o; bencana banjir, longsor, letusan gunung berapi masyarkat akan dievakuasi dan dipindahkan ketempat yang baru, disanalah mereka harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan budaya setempat sehingga terjadi proses asimilasi maupun akulturasi. 

• Perubahan lingkungan alam 
Perubahan lingkungan ada beberapa faktor misalnya pendangkalan muara sungai yang membentuk delta, rusaknya hutan karena erosi atau perubahan iklim sehingga membentuk tegalan. Perubahan demikian dapat mengubah kebudayaan hal ini disebabkan karena kebudayaan mempunyai daya adaptasi dengan lingkungan setempat.

2. Faktor ekstern 

• Perdagangan 
Indonesia terletak pada jalur perdagangan Asia Timur denga India, Timur Tengah bahkan Eropa Barat. Itulah sebabnya Indonesia sebagai persinggahan pedagang-pedagang besar selain berdagang mereka juga memperkenalkan budaya mereka pada masyarakat setempat sehingga terjadilah perubahan budaya dengan percampuran budaya yang ada.

• Penyebaran agama 
Masuknya unsur-unsur agama Hindhu dari India atau budaya Arab bersamaan proses penyebaran agama Hindhu dan Islam ke Indonesia demikian pula masuknya unsur-unsur budaya barat melalui proses penyebaran agama Kristen dan kolonialisme.

• Peperangan 
Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia umumnya menimbulkan perlawanan keras dalam bentuk peperangan, dalam suasana tersebut ikut masuk pula unsure-unsur budaya bangsa asing ke Indonesia.

Kaitan Manusia dan Kebudayaan

Manusia dan kebudayaan merupakan dua hal yang sangat erat berkaitan satu sama lain. Manusia di alam dunia inimemegang peranan yang unik, dan dapat dipandang dari berbagai segi. Dalam ilmu sosial manusia merupakan makhluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi). Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosialofi), Makhluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik), makhluk yan g berbudaya dan lain sebagainya.

-    Contoh hubungan manusia dan kebudayaan
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah : manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia. Tetapi apakah sesederhana itu hubungan keduanya ?
   Dalani sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, clan setclah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dcngannya. Tampak baliwa keduanya akhimya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang dapat kita  lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan - peraturan
   kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya hams patuh kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.Apabila manusia melupakan bahwa masyarakat adalah ciptaan manusia, dia akan menjadi terasing atau tealinasi (Berger, dalam terjemahan M.Sastrapratedja, 1991; hal : xv)
Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat, oleh karena itu mempunyai hubungan keterkaitan yang erat satu sama lain. Pada kondisi sekarang ini kita tidak dapat lagi membedakan mana yang lebih awal muncul manusia atau kebudayaan. Analisa terhadap keberadaan keduanya hams menyertakan pembatasan masalah dan waktu agar penganalisaan dapat dilakukan dengan lebih cermat.





Sumber1 Sumber2 Sumber3 Sumber4 Sumber5 Sumber6