Kamis, 26 Maret 2015

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraan

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraan


A. Buat Cerita/Cerpen/Novel dsb.

Ukiran Sang Pendalang

Agung adalah anak seorang pendalang. Bapaknya sudah melakoni pekerjaan tersebut kurang lebih sekitar 14 tahun. Keluarga Agung termasuk keluarga pecinta budaya, salah satunya wayang. Daerah Yogyakarta provinsi Jawa Tengah adalah daerah dimana Agung tinggal. Pada suatu hari, ” Gung, sini Le!”, panggil Bapak Agung.
“Iya,ono opo Pak?” jawab Agung.
“Le, Bapak sudah tua sudah waktunya Bapak berhenti jadi pendalang dan sekarang giliran kamu yang meneruskan pekerjaan Bapak ini”, kata Bapak Agung sambil menepuk pundak anak semata wayangnya.
“ Hah, opo Pak? Agung harus jadi dalang seperti Bapak? Ya nggak mungkinlah
Pak. Mengko opo omonge konco-konco ku lek Agung jadi dalang? Malu pak. Agung ndak mau pokoknya”, jawab Agung.
“Kamu ini gimana to Le? Kenapa harus malu jadi dalang? Itu pekerjaan halal. Seharusnya kamu sebagai generasi muda harus ikut melestarikan budaya bangsa kita”, jawab Bapak Agung bijak.
“ Bukannya Agung nggak mau Pak, tapi aku malu sama teman-temanku Pak!” tegas Agung pada Bapaknya.
“Kamu ini lo Le.., budaya Indonesia itu harus dilestarikan bukannya malah dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja”, sahut Ibu Agung yang sedang menjahit baju sindennya.
“Terserah Bu, pokoknya Agung ndak mau jadi dalang”, tegas Agung.
Keesokan harinya Bapak Agung tidak membersihkan wayang-wayang koleksinya sepeti biasanya. Beliau masih terbaring di atas tempat tidur dan sulit dibangunkan. Hari itu benar-benar aneh sekali.
Selang beberapa jam ”Hmm,,,Bu Agung mana? Bapak mau ngomong penting sama dia“, suara Bapak terdengar lemah.
“Iya, sebentar Pak Ibu panggilkan”, jawab Ibu Agung.
“ Gung,, Agung di pangil Bapak ni Le”, seru ibu Agung.
“Ada pa to Buk? Bapak kenapa?”, sahut Agung sambil berjalan ke arah kamar Bapaknya.
“Gung, terusin profesi Bapak ya, jangan malu dengan budaya sendiri Nak. Sekarang budaya dan seni pewayangan semakin langka tak ada yang mau meneruskan. Bapak tahu Agung punya bakat seperti Bapak. Kamu harus percaya bahwa dunia menunggumu dengan bakat kamu”, jawab Bapak lirih. Aliran air mata menetes di pipi Bapak Agung. Denyut nadi sudah tidak terasa di tangan, nafas terakhir pun dihembuskan. Bapak Agung meninggal dunia. Ditangannya terdapat dua lembar kertas, satu kertas berisi surat dari dokter yang menerangkan bahwa selama ini Bapak Agung mengidap paru-paru basah yang sudah parah. Kertas kedua berisi sebuah surat yang isinya :
Surat tersebut dipandangi oleh Agung, tanpa terasa tetesan air mata mengalir di pipi Agung. “Ibu,, Bapak meninggal maafin Agung, Pak. Agung janji akan meneruskan profesi Bapak, Agung janji”, teriak Agung sambil memeluk tubuh Bapaknya yang sudah tak berdaya. Sambil menangis, “Sabar Nak. Agung harus bisa memenuhi permintaanan Bapak, kamu pasti bisa Nak”, kata Ibunya sambil memeluk Agung.
Hari demi hari dilewati Agung tanpa Bapak disampingnya. Bapak yang selalu menceritakan kisah pewayangan, Bapak yang mengajarinya cara berdalang walaupun terkadang dia jengkel dengan omongan Bapaknya yang mengajari dia menjadi dalang.
“Nah,, begitu Nak berlatihlah tanpa berputus asa pasti Bapakmu disana akan senang melihat usahamu”, kata ibunya sambil membawakan ketela rebus dengan teh hangat untuk Agung.
“Ya Bu, pasti Bapak senang”, tutur Agung sambil tersenyum.
“Oh iya, besok itu ada acara di tetangga sebelah. Beberapa bulan yang lalu Bapak disuruh untuk mendalang. Tetapi Bapak sekarang sudah tidak ada. Gimana kalau Agung yang menggantikan bapak mendalang?” tanya Ibu Agung dengan hati-hati.
“Hmm,, boleh juga Bu”, jawab Agung dengan antusias.
” Oh, itu bagus Nak tunjukkan kemampuanmu kalau Agung bisa seperti Bapak!” tutur Ibu.
Keesokan harinya Agung sudah berdandan rapi ,“Bagaimana Bu, sudah ganteng belum anak ibu ini?” tanya Agung sambil membenahkan blangkon dan baju dalang Bapaknya yang dipakainya sekarang.
“Waah, ganteng tenan anak’e Ibu persis kayak Bapakmu dulu”, kata ibu Agung sambil tersenyum senang.
Ditempat acara. “Assalamu’alaikum Bapak-Ibu sekalian, sekarang Agung akan menghibur anda semua”, kata Agung gugup.
Pewayangan dimulai, padahal permainannya saat itu cukup bagus, tetapi tetap saja ada yang mengejek Agung “Nak, kalau ndak bisa maen wayang ndak usah main”, ujar salah satu penonton.
” Ya, betul itu kalau ndak bisa main pergi sana”, ujar penonton yang lain.
Agung menunduk malu karena ejekan itu. ”Sabar ya Nak!” kata Ibu sambil memeluk pundak putranya. Akhirnya mereka pulang dengan kesedihan dan rasa malu terutama Agung.
“Agung ndak mau jadi dalang lagi Bu!” kata Agung.
“Agung ndak boleh bilang begitu, itu adalah pengalaman Nak!” kata ibu Agung.
“Ya Bu, ini adalah pengalaman yang gagal dan Agung sudah merasa di permalukan dengan ini semua”, jawab Agung dengan marah.
” Le, ingat apa kata Bapak kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan”, tutur Ibu Agung dengan mata berkaca – kaca.
” Agung ndak peduli Bu!” jawab Agung keras. Agung langsung masuk kamar, dia memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ransel.
“Le, Agung mau kemana?“ kata Ibu.
” Agung mau pergi dari rumah Bu! Agung malu”, kata Agung sambil pergi meninggalkan rumah dan ibunya.
“Gung, jangan pergi Nak, siapa yang akan meneruskan profesi Bapakmu?” kata Ibu Agung sambil memegang tangan anaknya, tapi kepergian Agung tidak dapat dicegah, kemauannya untuk pergi meninggalkan rumah sangatlah kuat.
Agung pergi dari rumah tanpa arah dan tujuan. Didalam tasnya hanya terdapat 4 pasang baju dan 2 pasang celana. Dompet gambar batik pemberian ayahnya hanya berisikan uang Rp. 50.000,00.
“Apakah cukup dengan uang Rp. 50.000,00 aku bertahan. Huff…berarti aku harus cari kerja”, gumam Agung. Langkah Agung tiba-tiba dihentikan saat ada kakek tua yang membuat wayang dari lidi.
“Hmm, Kek ini semua Kakek yang membuatnya?” tanya Agung kepada Kakek. “Iyo Le, kamu mau tak ajarin?” jawab kakek tua itu. “Kakek mau nggak ngajarin aku membuat ini?” tanya Agung. “Tenan, Le kamu mau tak ajarin? Jarang sekali anak muda seperti kamu mau menyukai budaya Indonesia terutama wayang. Memangnya Bapakmu kerja apa tho Le?” kata Kakek tua. “Bapakku pendalang Kek , tapi beliau sudah meninggal”, jelas Agung. “Innalillahi aku turut berduka Le, ya sudah nanti mau apa ndak tak ajari?” tanya kakek.
“Oh iya Kek,mau sekali, jenengku Agung Suwanto, panggil saja aku Agung,” jawab agung semangat. “Ayo ikut ke rumahku, tak ajari disana”, tawar Kakek tua. “Iya, makasih Kek! Hmm.., Agung boleh ndak numpang di rumah Kakek untuk sementara?” tanya Agung. ”Oh, Kakek malah seneng Le”. kata Kakek sambil tertawa dan berjalan pulang bersama Agung.
Sesampainya di rumah Kakek.
“Weleh-weleh Kek, rumah Kakek banyak sekali wayangnya, ini semua Kakek yang membuatnya?” tanya Agung sambil tercengang memandangi rumah Kakek yang kecil tapi penuh dengan wayang.
”Iya Nak,sejak dulu Kakek sudah terbiasa membuat wayang sendiri”, jelas Kakek.
”Wah Kakek hebat tenan!” kata Agung tercengang. Hari demi hari dilalui Agung di rumah kakek. Dia belajar membuat wayang. Ternyata hasilnya tak sejelek yang di bayangkan oleh Agung.
Setelah beberapa hari Agung menginap di rumah Kakek,
”Le, ayo makan dulu”, suruh Kakek tua itu.
”Iya Kek”, jawab Agung sambil menuju tempat makan.
”Gung, bukannya Kakek mengusir kamu, tapi apakah Ibumu di rumah tidak kangen dengan kamu Nak? Kamu sudah tiga minggu di sini dan pastinya Ibumu resah memikirkan kamu. Lagi pula teman – temanmu pasti juga mencarimu”, tutur Kakek tua kepada Agung.
” Iya Kek, itu benar tapi Agung takut gagal. Kalau gagal Bapak Agung disana pasti kecewa. Agung juga ndak mau bikin malu Ibu lagi”, jawab Agung.
“Gung, kegagalan itu kunci kesuksesan, kalau kita tidak gagal kita juga tidak akan sukses”, nasehat Kakek tua.
“Iya Kek, Ibu Agung juga pernah bilang begitu. Tapi kalau nanti Agung pulang apakah warga tidak lagi mengejek Agung karena permainan wayangku yang jelek?” katanya sambil menerawang.
Sambil tertawa kakek berucap, ”Kakek dulu juga sama seperti kamu Gung, dulu warga sering mencaci dan mengejek Kakek, katanya wong ndak bisa main wayang kok mau jadi dalang. Waktu itu Kakek juga sangat merasa sedih, rasanya Kakek putus asa. Tapi Kakek selalu ingat nasehat Ibu Kakek, kalau Kakek gak boleh putus asa karena kegagalan adalah kunci kesuksesan. Kata-kata itu yang selalu di ucapkan oleh Ibu Kakek,” cerita Kakek. “Kakek betul juga, sekarang Agung harus pulang dan meneruskan apa yang Bapak inginkan. Kalau begitu Agung pulang dulu ya Kek”, kata Agung dengan antusias. “Habiskan makananmu dulu Nak, nanti baru kamu boleh pulang”, tutur Kakek. Dengan lahap Agung menyantap makanan yang dihidangkan di hadapannya. “Kek, Agung pulang dulu ya? Terimakasih atas kebaikan Kakek selama ini”, pamit Agung. ” Ya, sama-sama. Hati-hati ya Le, kakek do’akan usahamu menjadi dalang berhasil”, doa Kakek.
“ Ya Kek, amiiin. Agung pulang dulu, Assalamu’alaikum”, pamit Agung sambil meninggalkan Kakek. Diperjalanan, tanpa sengaja dia menemukan koran yang jatuh di jalan. Apa ini? Hah..gak mungkin ini! Wayang milik budaya Indonesia, bukan milik Negara lain. Tiba – tiba Agung merasa gusar, dia mempercepat langkahnya ke rumah.
“Assalamu’alaikum Buk Agung pulang!” teriak Agung dari luar sambil masuk kedalam rumah. “ Waalaikum salam….anakku Agung. Kamu kemana aja to Le……Ibu kangen”, kata ibu Agung sambil memeluk anaknya.
“Bu….., maafin Agung ya….. Agung kemarin egois?” pinta Agung pada Ibunya.
“Ibu sudah maafin Agung. Bagaimana keadaan kamu? kemana saja kamu selama ini Nak?”, tanya ibu dengan penasaran.
“ Alhamdulillah Agung baik – baik saja Bu, selama ini Agung tinggal dengan seorang Kakek yang baik hati, beliau merawat dan menjaga Agung dengan baik”, ungkap Agung sambil menenangkan Ibunya.
“ Syukurlah Nak,.. Oh, iya mengenai amanat Bapakmu, ndak usah terlalu difikirkan ya Le, Ibu ikhlas kalau memang kamu tidak mau menjadi penerus Bapakmu”, tutur Ibunya dengan wajah yang serius.
“Tapi Bu, mulai sekarang Agung ingin menjadi dalang. Agung ingin seperti Bapak“, katanya meyakinkan.
“Sebagai generasi penerus bangsa Agung merasa harus ikut memajukan dan melestarikan budaya Indonesia terutama pewayangan yang sekarang telah di klaim milik Negara lain Bu”, kata Agung tegar.
“Ibu bangga sama kamu Nak”, kata ibu Agung terharu.
Keesokan harinya Agung bangun pagi-pagi sekali, kemudian mengeluarkan wayang-wayang peninggalan ayahnya dan juga wayang hasil buatannya sendiri. Dia membersihkan dan menata rapi wayang-wayang tersebut di tempat ayahnya biasa mendalang. Setelah selesai dia membuka lebar pintu depan. Kemudian memasang spanduk lebar yang bertuliskan “ SANGGAR PEWAYANGAN ”. Dan dibawah tulisan tersebut terdapat kalimat yang bertuliskan “ Sebagai Generasi Muda mari kita lestarikan Kebudayaan Indonesia”. Kemudian Agung menyebarkan brosur yang berisi ajakan untuk selalu melestarikan budaya bangsa lewat orang-orang dan menampilkannya di internet juga ditelevisi. Nama Agung pun menjadi semakin terkenal dengan sebutan “Dalang Muda”. Untuk memantapkan usahanya tersebut Agung mendaftarkan wayang sebagai seni budaya Indonesia kepada UNESCO. Sementara menunggu hasil keputusan UNESCO, Agung semakin giat menyebarkan semangat menjaga seni wayang dengan memainkannya sampai lintas Jawa-Bali. Nama Agung pun semakin terkenal.
Setelah menunggu beberapa bulan, Agung mendapatkan surat dari UNESCO bahwa seni wayang sudah di patenkan. Membaca surat tersebut Agung tersenyum senang, dia merasa yakin ayahnya pasti bangga dengan usahanya selama ini.
“Pak,, Agung ternyata bisa meneruskan perjuangan Bapak”, bisik Agung dalam hatinya.
Sekarang semakin banyak anak muda yang ikut masuk kedalam sanggarnya. Agung juga melatih para kaum muda yang ingin menjadi dalang, atau yang hanya ingin mengetahui lebih dalam tentang kebudayaan Indonesia.
Semakin banggalah ibu Agung atas prestasi yang telah di ukir oleh anaknya. Agung pun merasa semakin tertantang untuk mengajak kaum muda agar selalu melestarikan budaya bangsa. Dan benar saja, berkat ketekunannya, Agung menjadi dalang yang sukses sampai mancanegara.


Manihing Tersenyum

Ketika sang senja mulai beranjak ke peraduannya, semilir sang bayu mulai membelai tubuhku. Dingin yang kurasakan, namun mataku tidak tetap memandang indahnya sang surya yang hampir tenggelam di pantai berpasir putih. Setelah menghilang, aku mulai beranjak dan pergi meninggalkan pantai. Kurasakan butiran pasir yang lebut di telapak kakiku yang tanpa alas. Kutinggalkan jejak langkah kaki di pasir nan lembut hingga hilang tersapu ombak dan pasirpun rata kembali. Di rumah, kurebahkan badan di ranjang bambu beralaskan tikar yang sudah cukup tua, bahkan sudah mulai lapuk karena umur ranjang tersebut juga sudah sangat tua, melebihi umurku. Kututup mata, tertidur, terlelap, kudengar bunyi ayam berkokok yang membangunkanku dari mimpi yang indah.
Pagi-pagi buta aku bangun, pekerjaanku setiap pagi adalah pergi ke pasar membantu ibuku menjual sayuran di pasar. Sayuran yang kami jual adalah hasil dari kebun kami sendiri. Ayah yang menanam di ladang, apabila dagangan ibu di pasar sudah laku,terlebih maka iapun segera bergegas menyusul ayah ke ladang. Sedangkan aku melakukan pekerjaan rumah tangga terlebih dahulu. Menyapu, mencuci, dan memasak. Apabila masakan sudah matang, aku langsung mengantarnya ke ladang karena ayah dan ibu tidak pernah makan siang di rumah. Sesekali aku membantu pekerjaan di ladang apabila sedang panen atau ada pekerjaan yang harus cepat diselesaikan. Begitulah kegiatanku sehari-hari. Aku hanyalah seorang gadis yang tinggal di sebuah desa yang ada di Lampung. Kegiatanku sehari-hari hanya menenun di rumah karena itu memang sudah pekerjaan turun temurun yang sudah diwariskan oleh nenek moyang. Pendidikanku hanya sampai SMA karena selain perguruan tinggi yang cukup jauh, orang tuapun tak sanggup untuk membiayaiku ke perguruan tinggi. Apabila akan melanjutkan studi harus pergi ke kota atau ke luar pulau. Teman-teman sebayaku juga bernasib sama. Oleh karena itu, sampai sekarang aku masih tinggal di desa. 
“Manihing...Manihing....Manihing.....” Kudengar suara ibu dari belakang rumah.
“Ada apa Mak, kenapa teriak-teriak?”
“Abakmu Manihing, Abakmu.”
“ Abak kenapa Mak?”
“Abakmu terluka, ambilkan obat merah!”
“Ini Mak.”
Ibu langsung berlari ke ladang, aku segera menyusulnya. Ternyata kaki ayah terkena cangkul, sehingga terluka dan berdarah. Aku membantu membersihkan luka ayah dan kuberi obat merah lalu kubalut dengan kain bersih yang kubawa. Ibu membantu ayah berjalan pulang, sedangkan aku membawa peralatan makan dan alat-alat yang digunakan di ladang. Ayah beristirahat di kamar sampai tertidur pulas. Sementara ibu masih melanjutkan menenun bersamaku. Mataku mulai terkantuk-kantuk, kulirik jam dinding dan jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas. Kulihat ibu, dia masih terlihat belum ngantuk. Kuhampiri dan kubawakan secangkir the panas, kental, manis. The kesukaan ibu, berbeda ayah, kalu ayah minum the pahit tanpa gula.
“Kalau kau ngantuk, tidur saja Manihing! Sudah larut malam, nanti Amak menyusul.”
“Baiklah, Bu.”
Kulangkahkan kaki menuju kamar, berbaring dan terlelap, sampai suara ayam berkokok membangunkanku. Seperti biasa, aku bangun mandi dan pergi ke pasar. Sepulang dari pasar ibu pergi ke ladang aku memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Ayah masih sakit sehingga beliau tidak pergi ke ladang. Hari ini aku diajak teman-teman di desaku untuk berwisata ke Pantai Marina. Tapi aku tak berani bilang ke ayah, apalagi beliau masih sakit pasti membutuhkuan sesuatu, dan hanya aku yang ada di rumah. Pantai Marina adalah kawasan wisata pantai di Teluk Lampung di wilayah Lampung selatan. Pantai ini memiliki pemandangan yang indah dengan batu-batu karang yang bentuknya beraneka ragam. Sudah kubanyangkan aku akan menghabiskan hariku di sana bermain dengan teman-teman kampungku, berlarian di atas lebutnya butiran pasir putih. 
Kulihat jam dinding sudah menunjuk angka 8, hari juga sudah mulai panas. Aku gelisah, karena teman-temanku sebentar lagi pasti menghampiriku.sepertinya ayah dari tadi memperhatikan kegelisahanku.
“Kenapa kau dari tadi mondar-mandir? Lirak-lirik jam?”
“Begina Bak, hari ini aku diajak teman-teman berwisata ke pantai.”
“Dengan anak-anak berndalan itu?”
“Mereka tidak berandalan Bak.”
“Mereka teman-teman Manihing, sebenarnya mereka baik Bak.”
“Sudahlah tinggal di rumah, kau tak tahu Abakmu sedang sakit, kau malah pergi.”
Sedih rasanya, bagaimana jika teman-teman nanti datang kesini, aku jawab apa? Apa aku pergi saja dan tak perlu bilang Abak. Kusiapkan semua keperluan Abak untuk sehari ini, lalu aku pergi diam-diam lewat pintu belakang. Kusiapkan makanan di meja makan, sehingga apabila ayah lapar tinggal mengambil saja. Kusiapkan juga air hangat di termos, apabila beliau ingin mandi tak perlu merebus air dulu. Dan kusiapkan beberapa obat serta perban di meja. Diam-diam aku pergi sebelum tema-teman datang ke rumahku.
Kutunggu mereka di ujung jalan. Mengapa mereka belum keihatan ya? Tak lama kemudian kudengar suara teman-temanku, mereka datang berlima.
“Manihing....!”
“Kaliman? Kamu ikut juga?”
“Pasti, karena mendengar kamu juga ikut, maka akupun semangat ikut.”
“Bisa aja kamu.”
Kami berenam pun berjalan menuju jalan raya, menunggu angkutan desa yang lewat, cukup lama kami menunggu maklum di desa sehingga angkutan juga jarang lewat sehingga kami harus sabar menunggu. Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengobrol sambil bercanda. Angkutan yang kami tunggu pun lewat. Kurang lebih dua jam kami di angkot karena jalannya lambat, tak jarang pula di setiap persimapangan ngetem sambil menunggu penumpang. Dari jauh sudah terlihat hamparan air laut yang hijau, tampak rata dan sepertinya tak ada batas antara langit dengan laut. Indahnya, aku sudah tak sabar lagi untuk segera tiba di pantai. Terakhir aku pergi ke pantai ketika aku masih sekolah SMA kelas 1, berarti sudah empat tahun lalu.
“Pantai.....pantai.....”
“Serbu...”
Kamipun berlari menuju pantai. Semilir angin semakin menambah indahnya pantai. Ombak yang berkejar-kejaran tiada henti seolah menggambarkan kehidupan ini yang terus berjalan dan berlari. Betapa indahnya ciptaan-Mu. Sambil bermain air serta pasir yang putih sesekali kami berteriak dan berlari-larian saat ombak datang, dan menyapu rata istana buatanku dari pasir putih. Ketika aku membangun ulang istana pasir itu, tiba-tiba Kaliman datang menghampiriku.
“Bagus sekali istananya.Gambaran masa depan ya?”
“Eh...Kaliman, mengagetkan saja.
Kami berdua akhirnya duduk menatap laut hijau sambil berbincang. Setelah sekian lama kami ngobrol kesana-kemari, aku mersakan kenyamanan bercerita dengannya. Namun, mengapa hati ini mulai gelisah, perasaanku mulai campur aduk, entah apa yang aku rasakan? Apakah aku mulai jatuh cinta kepadanya? Nggak mungkin, ini hanya perasaannku saja karena aku jarang bercerita dengan orang lain, selain orang tuaku. Apalagi seorang cowok. Aku juga harus sadar dia anak ketua adat yang sekarang sedang menjalankan studi di kota, sementara aku hanya tamatan SMA, pasti Kaliman juga sudah punya pacar di kampus, teman-temannya pasti cantik-cantik. Kaliman juga orang yang pandai dan taat beragama, anyak gadis-gadis lain yang terpesona kepadanya.
Sorot matanya begitu tajam saat memadang mataku, jantungku semakin berdetak saat dia berada di dekatku. Apakah dia menatap ke semua orang dengan tatapan mata yang tajam? Atau hanya kepadaku saja? Ah... aku teralu besar kepala. Jika dia menatapku. Sampai kami meyaksikan matahari yang singgah ke peraduannya. Kami semua pulang untung masih ada angkutan terkahir walaupun sampai di rumah kami sudah malam. 
“Dari kau Manihing?” Tanya Amak.
“Tadi Manihing bermain ke pantai dengan teman-teman.”
“Mengapa kau sampai malam? Dan kau tak minta ijin Abakmu tadi. Lain kali kau harus ijin kalau mau pergi. Sekarang kau mandi dan makan, sebelum kau diceramahi Abakmu.
Hari sudah malam, aku terasa lelah seharian bermain di pantai. Aku tidak membantu menenun. Sambil berbaring, terbayang wajah Kaliman waktu bersama-sama tadi, senyumnya yang manis, matanya yang tajam membuatkau terpesona padanya. Kutertelap sambil membayangkan wajah Kaliman. Tak terasa pagi yang indah telah menyambutku.rutinitas pagi kulakukan seperti biasa. Ayah sudah sembuh dan beliau sudah ppagi ke ladang sejak pagi buta. 
Sore ini aku latihan menari di rumah ketua adat, aku baru sadar di sana pasti ada Kaliman, mudah-mudahan dia belum ke kota. Biasanya hari minggu sore dia ke kota karena hari senin ada kuliah dan kembali lagi biasanya hari jumat sore. Aku dan beberapa teman sudah datang ke rumah ketua adat, disana kami berlatih sendiri sambil menunggu sang pelatih datang. Sesekali aku melongok ke paintu, melihat apakah Kaliman masih ada atau sudah pergi. Namun, tak kulihat batang hidungnya sekalipun. Sepertinya kaliman memang sudah berangkat ke kota. Mengapa hati ini terasa kecewa saat aku tak bisa melihatnya.
Kekecewaanku sedikit terobati, ketika sang pelatih tari memperkenalkan tarian baru kepada kami. Betapa indahnya tarian itu. Taian baru yang diperkenalkan kepada kami adalah tari sembah. Sebelumnya aku pernah melihat tarian ini saat saudara sepupuku menikah. Tarian itu itu memang sangat indah dan menghibur. Tari sembah biasanya diadakan oleh masyarakat Lampung untuk menyambut dan memberikan penghormatan kepada kepada para tamu atau undangan yang datang. Tarian ini sering dinamakan sebagai tarian penyambutan. 
Setelah pelatih selesai membawakan satu tarian sebagai contoh. Kami semua mulai baris sesuai posisi dan mulai berlatih menari. Walaupun agak susah, tapi sang pelatih tetap tekun mengajari kami satu persatu. Selain untuk melestarikan budaya di daerah kami, tarian ini juga dapat digunakan sewaktu-waktu apabila ada pernikahan atau saat menyambut para tamu. Seperti pejabat-pejabat.
“Gimana latihan tarinya?” Tanya Abak
“Aku dilatih tari sembah, Bak. Tarian baru, tapi cukup sulit.”
“Asal kau mau berlatih pasti bisa Manihing, daripada kau keluyuran nggak jelas lebih baik kau ikut berlatih tari seperti itu kan bermanfaat.”
“Iya Bak. Aku mandi dulu Bak.”
Setiap minggu sore kami berlatih tari. Sudah beberapa tarian yang dapat kami tampilkan. Tari sembah pun sudah mahir kami pergakan dan pernah kami pertunjukkan saat ada pernikahan di kampung kami. Sanggar kamipun mulai dikenal di kampung-kampung lain, sehinggga kami sering diundang untuk menari pada acara pernikahan atau penyambutan para pejabat. 
Kegiatanku semakin bertambah, selain menenun dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sekarang aku sering diundang untuk mengisi acara dengan teman lain yang sesanggar. Suatu hari kami diundang di kampus tempat Kaliman kuliah. Ohh....betapa senangnya aku mendengar berita itu. Kami diminta mengisi acara wisuda. Aku berharap di sana bertemu dengan Kaliman. Ketika acara dimulai, muncullah seorang pembawa acara dari pintu samping. Betapa terkejutnya aku ketika kulihat wajah pembawa acara itu adalah Kaliman.
Kurasakan jantungku semakin berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Apakah dia melihatku? Ya Tuhan...Dia tampak berwibawa sekali dengan mengenakan jas, maklumlah karena ini acara resmi. Setelah mendengar sambutan dari rektor, kami pun dipanggil oleh pembawa acara untuk tampil. Perasaan ini semakin tak menentu, selain baru pertama kali tampil dalam acara resmi seperti ini aku pun semakin salah tingkah ketika Kaliman melihatku menari. Aku hanya bisa berdoa agar taria yang kami bawakan berjalan lancar. Aku bersyukur doaku terkabul. Suara riuh dan tepuk tangan dari penonton merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Setelah acara selesai Kaliman mendekati dan menyalamiku.
“Selamat ya, tariannya bagus. Kamu juga cantik sekali hari ini.”
“Terima kasih, itu juga berkat ayah kamu yang berinisiatif mendirikan sanggar di kampung kita.”
“Kamu pulang bareng siapa?”
“Aku pulang dengan rombongan.”
“Sebenarnya aku ingin mengajak kamu pulang bareng. Apa kamu bawa ganti?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu biar aku bilang ke rombongan kalau kamu bareng aku.”
Segera aku berganti pakaian tari dengan kaos santai. Aku diboncengkan Kaliman dengan menggunakan motor vespa. Sepanjang jalan aku hanya diam. Aku tidak tau harus ngomong apa? Yang ada hanyalah perasaanku yang campur aduk tak karuan. Ini kan bukan jalan menuju kampung kami, akan membawaku kemanakah Kaliman? Aku hendak bertanya, tapi...akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.
“Kita mau kemana?”
“Nanti kau lihat sendiri saja.”
Aku pun tak bertanya lagi, asyik juga ya melakukan perjalanan dengan motor. Tak lama kemudian kami pun sampai di pantai yang dulu kami kunjungi bersama. Setelah dia sandarkan motornya, kami duduk di bawah pohon beraskan tiikar kecil yang selalu dia bawa di motor. 
“Sudah lama aku ingin mengajakmu kesini. Tapi baru kali ini aku diberi kesempatan untuk berdua denganmu. Kamu tau apa yang aku rasakan selama ini? Sudah lama aku memendam perasaan ini untukmu, sejak kita masih sama-sama duduk di bangku SMA. Tapi baru aku ungkapan sekarang, entah kamu memiliki perasaan yang sama atau tidak. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan selma ini. Manihing maukah kauu jadi kekasihku?”
“Sebenarnya, sudah lama aku juga memendam perasaan yang sama. Namun, apa daya aku tak banyak berharap. Karena aku takut sakit hati, takut kalau kamu juga tak mau mencintaiku.”
“Jadi kamu menerimaku jadi pacarmu?”
Aku hanya mengangguk, Kaliman memelukku erat. Pasir putih, angin, dan lautlah yang menjadi saksi cinta kita saat itu. Kami pulang bersama, Kaliman mengantarkanku sampai rumah. Betapa indahnya hidup ini. Sungguh aku sangat bahagia. Segala sesuatu yang aku impikan kini telah menjadi kenyataan. Semua terasa indah, sungguh indah.
Kebahagiaan itu tiba-tiba sirna ketika orang tuaku mengetahui bahwa aku berpacaran dengan Kaliman. Orang tuaku melarang kami berpacaran dengan alasan adat yang harus dijunjung tinggi. Aku kecewa, sangat kecewa ketika mendengar itu. Aku dan keluarga tinggal di Lampung Tengah, setiap tempat memiliki adat yang berbeda begitu juga dengan tempat tinggalku. Adat istiadat di Lampung Tengah adalah masyarakat adat pepadun. Upacara adat Lampung Tengah umumnya ditandai dengan adanya bentuk perkawinan “jujur” dengan menurut garis keturunan patrilineal yang ditandai dengan adanya pemberian uang kepada pihak mempelai wanita untuk menyiapkan “sesan” berupa alat-alat rumah tangga. Sesan tersebut akan diserahkan kepada pihak laki-laki pada saat upacara perkawinan berlangsung yang sekaligus sebagai penyerahan mempelai wanita kepada keluarga laki-laki. Dengan demikian secara hukum adat maka putus pula hubungan secara adat antara mempelai wanita dari keluarganya. 
“Kenapa Abak melarangku berhubungan dengan Kaliman?”
“Karena kamu tak sederajat dengannya. Dia anak orang terpandang dan berpendidikan tinggi, sementara kamu hanya anak seorang petani dan hanya tamatan SMA.”
“Tapi, Bak. Cinta tidak mengenal derajat dan tingkat pendidikan?” 
“Tapi abak tetap tidak merestui, mau ditaruh di mana muka Abak? Bagaimana pendapat orang, pasti semua orang akan meremehkan kita.”
“Aku mohon Bak, aku sangat mencintai Kaliman.”
“Dengan apa kita akan menyiapkan sesan? Menjual ladang? Lalu orang tuamu harus kerja di mana? Nganggur? Mengahrap belas kasihan dari besan?”
Aku menyadari bahwa keluargaku memang hanya pas-pasan secara materi. Pendapatan sehari-hari memang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku juga masih ingat ketika aku masih sekolah. Abak sering meminjam uang kepada tetangga untuk membayar SPP. Kemudian beliau baru membayar ketika panen. Sering itu dilakukan tak hanya untuk membayar SPP untuk kebutuhan yang lain juga. Aku sedih, tapi aku juga tak mau mengorbankan perasaanku.
Aku menemui Kaliman di sanggar karena itu hari sabtu, aku tau Kaliman pasti di rumah. Kudapati dia sedang membaca buku dan kumendekatinya. Kuceritakan semua yang kualami selama semiggu ini. Kaliman hanya terdiam mendengar ceritaku, aku menyerahkan semuanya ke Kaliman, apapun resikonya. Tappi kaliman juga ingin mempertahankan hubungan kita. 
“Setelah aku lulus sarjana, aku akan bekerja. Dan hasil pendapatanku kita tabung, setelah terkumpul kita gunakan untuk menyiapkan sesan. Bagaimana pendapatmu?”
“Mungkin itu semua memang mudah kita rencanakan, tapi kita nggak tahu, bagaimana nantinya? Apakah orang tuamu setuju?”
“Aku nggak tau, kamu juga tau orang tuaku juga orang yang keras terhadap pendirian.”
“Benarkan? Mungkin semua yang kita rencanakan kini hanya kenangan saja.”
“Aku pulang saja Kaliman.”
“Kenapa?”
“Aku ingin menenangkan pikiran.”
Terlalu sakit menerima kenyataan ini. Sepertimya aku tak sanggup lagi setiap hari mendengar ceramahan abak dan amak. Aku ingin pergi. Sempat terpikir di benakku, seandainya aku pergi merantau ke luar kota dan aku melupakan Kaliman saja. Daripada aku menahan rindu terus menerus seperti ini namun aku selalu dilarang oleh orang tua. Namun, pikiran itu tiba-tiba kuurungkan ketika aku mengingat jasa kedua orang tuaku yang telah membesarkanku hingga aku menjadi seperti ini.
Setahun kemudian, aku menjadi orang yang lebih berguna. Tak lagi memikirkan masalah pribadiku saja. Aku sudah bisa menari dengan baik dan dipercaya untuk melatih tari di daerahku. Beberapa lomba sudah kuikuti, dan tak sedikit juga yang aku menangkan. Melalui budaya daerah inilah kebudayaan Indonesia menjadi semakin kaya. Aku tersenyum bangga.


Sahabat Sejati

Awalnya aku tidak percaya sahabat sejati itu memang ada, sama sekali tidak percaya! Bagiku semua itu bulshit adanya. Sahabat yang selalu ada untukku, berbagi suka duka bersama, dan menjunjung tinggi semangat persaudaraan, bagiku tidak pernah ada di dunia ini. Satu pun tidak akan pernah ada. Semua akan hilang dan meninggalkanku!

Tapi, suatu ketika ada sebuah rahasia besar yang mengubah paradigmaku mengenai sahabat sejati. Ada yang terlupakan dari semua ini. Terselip begitu saja. Aku mengacuhkan hal berharga itu. Aku memang masih memahami konsep sahabat sejati hanya hoax belaka, kecuali, dengan satu kemungkinan : jika kau membuka hatimu untuk menerima sesuatu yang riskan itu, sahabat sejati itu mungkin bukanlah sebuah omong kosong belaka.

Aku berdiri mematung di kantin. Bergeming seraya fokus melihat dengan pandangan jijik. Sosis merah dilumuri saus yang seolah – olah menggiurkan, bakso yang begitu kenyal, keripik yang rasanya sangat gurih, mie yang terlihat sangat liat sekali, dan otak – otak yang tak ubahnya seperti makanan – makanan rusak. Aku begitu phobia melihat makanan – makanan itu. Ya, baru melihatnya saja aku sudah seperti itu, apalagi memakananya, dijamin aku akan koma beberapa bulan!

Semua makanan rusak itu begituku benci, karena gara – gara makanan – makanan itu sahabatku, Anita, meninggal dunia! Anita, sahabat terbaikku (dan kupikir juga sahabat sejatiku), terkena kanker otak yang disebabkan oleh makanan – makanan yang  banyak mengandung boraks, formalin, dan entah bahan kimia apa yang terkandung di dalamnya. Dokter mendiagnosis di dalam tubuhnya sudah ada 6 g boraks yang mengendap sejak bertahun – tahun (itu belum termasuk zat – zat kimia lainnya seperti, pewarna dan pengawet).

Sel – sel kanker yang ada di tubuh Anita berkembang begitu cepat. Daya tahan tubuhnya juga tak kuat menahan serangan demi serangan yang diluncurkan oleh racun –racun itu. Ditambah lagi Anita tidak suka makan sayur – sayuran dan buah – buahan. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Dan, semenjak saat itu aku begitu membenci makanan itu. Makanan rusak itu.

“Rara …” Yani teman sekelasku, kelas 7.8 tepatnya, berlari kearahku. Rambut panjangnya yang digerai bergoyang – goyang di terpa angin. Menurutku ia cukup manis. “Jajan, yuk.  Aku punya uang jajan lebih, nih. Hasil lomba pidato kemarin. Aku ingin mentraktir kamu. Syukur – syukur bisa menghilangkan dukamu atas kehilangan Anita. Mau, ya!”

Aku merasakan ada kejanggalan di perkaannya itu. Aku berpikir seperkian detik sebelum menemukan jawaban yang cocok untuknya, “Maksudmu? Oh! Kamu senang Anita meninggal? Lalu, kamu merayakan kepergian Anita dengan mentraktir aku, begitu? Kamu jahat, Yan!”

Aku benar – benar tak habis pikir dengan Yani. Anita itu sahabat terbaikku, tidak boleh ada yang memperlakukannya seperti itu. Menyebalkan!

“Kok, kamu bicaranya ketus seperti itu, sih?  Sekalipun aku tidak pernah bahagia dengan kepergian Anita. Itu tidak mungkin.” Tukas Yani dengan mata yang berkaca- kaca. “Aku hanya tidak ingin melihatmu bersemedi dengan kesedihanmu itu. Aku ingin jadi teman baikmu.”

“Kamu tidak akan bisa menggantikan Anita, Yani!” emosiku semakin meluap, “Aku  sangat menyayangi Anita, wajar kalau aku sedih atas kepergiannya.”

“Tapi ini terlalu jauh, Ra. Kamu menjadi sangat berbeda. Akhir – akhir ini kamu begitu emosian, suka menyendiri, pembangkang, dan sangat tertutup. Kamu bukan Rara yang aku kenal.”

“Terserah!” Sebelum aku benar – benar pergi meinggalkan Yani, aku sempat melirik sosis yang ia lahap begitu nikmat. “Racun.” Ucapku tegas dan dalam. Aku melihat ekpresi wajah Yani mendadak khawatir. Aku pun berlalu setelah membuatnya depresi berat.

Sepulang sekolah aku menunggu kereta di stasiun Kebayoran Lama, tepatnya di kawasan Jakarta Selatan. Rumahku di Tanah Abang. Sementara aku bersekolah di SMPN ** Jakarta, kecamatan  Kebayoran baru. Otomatis dengan begitu, aku harus menggunakan kereta untuk sampai ke rumahku.

Huek! Aroma khas dari keringat para manusia merasuki hidungku dengan sangat semangat saat aku masuk ke dalam kereta. Desak – desakkan penumpang membuat hatiku semakin kesal. Para pedagang pun menambah kebisingan. Ah … izinkan aku pingsan!!!

Kejengkelan hatiku semakin merajalela saat aku mengingat kembali perkataan Yani tadi pagi.

“Tapi ini terlalu jauh, Ra. Kamu menjadi sangat berbeda. Akhir – akhir ini kamu begitu emosian, suka menyendiri, pembangkang, dan sangat tertutup. Kamu bukan Rara yang aku kenal.”

Ishh! Memangnya dia tahu apa tentang hidupku? Menyebalkan! Luka hatiku saja belum sembuh benar atas kehilangan Anita. Aku trauma! Dia adalah sahabat terbaikku, selalu bersamaku, kami berbagi suka dan duka. Yani itu tidak tahu apa – apa. Seharusnya dia tak perlu ikut campur urusanku!

Memang benar, akhir – akhir ini sifatku begitu berubah, aku akui itu. Jujur, hidupku hampa. Tak ada motivasi. Tak ada semangat. Bahkan aku tidak ingin berteman dengan siapapun. Aku tidak mau menyayangi siapapun lagi. Sudah cukup aku kehilangan Anita, tidak lagi untuk yang kedua kalinya.

Jangan dekat dengan siapapun, jangan menyayangi siapapun, dan jangan percaya pada sahabat sejati karena sahabat sejati tidak pernah ada, dengan begitu kau tidak akan pernah menangis akan kehilangan. Itulah prinsipku saat ini. Aku berusaha untuk membenci atau lebih tepatnya menjauhi siapapun saat ini. Egois dan bodoh memang. Rasa trauma sudah mendarah daging dalam jiwaku. Aku seperti kehilangan jati diri. Biarkan! Aku tidak peduli.

Aku bergegas turun dari  kereta di stasiun Tanah Abang. Setelah memastikan aku berdiri di tempat yang aman, aku pun merapikan ikatan sepatuku agar tidak terinjak – injak. Lalu, membenarkan letak tas punggungku.

Kebetulan, tepat di sampingku ada penjual cermin, tentu saja aku berkaca sebentar dan terkejut sebentar. Wajahku seperti kepiting goreng, direbus, diberi beberapa cabe, digoreng lagi, lalu hangus! Berlebihan memang, tapi hal itu cukup menggambarkan bahwa karbon monoksida bus Metromini sanggup membuat wajahku seperti ini. Rambutku yang sebahu aku ikat. Tak dapat dipungkiri Jakarta memang sangat panas!

Setelah puas melihat bentuk wajahku yang tak karuan, aku kembali berjalan. Namun, tiba – tiba saja mataku terfokus pada satu titik. Aku melihat seorang gadis kecil sedang mengais – ngais tong sampah yang ada di dekatnya. Lalu gadis itu berjalan ke gerbong tua yang sudah tidak terpakai lagi. Ia duduk disana sambil memakan apa yang dia ambil dari tong sampah.

B. Puisi

Indahnya negeri ini
dalam buaian ibu pertiwi
negri ini di penuhi dengan keberagaman
nuansa keindahan budaya indonesia

Bangsa ini kaya akan budaya
penuh dengan symphoni yang indah
mengapa tidak kita lestarikan ?
mengapa tidak kita pertahankan ?

Ini bangsa kita..
ini negri kita..
ini kebudayaan kita..
kita hidup, kita dewasa dalam negeri tercinta ini

Kini saatnya untuk kita saling bersatu
saling melestarikan budaya
saling menjaga apa yang akan kita lestarikan
dan mempertahankan nuansa budaya indonesia.

Socializer Widget By Blogger Yard
SOCIALIZE IT →
FOLLOW US →
SHARE IT →

0 komentar:

Posting Komentar