Selasa, 17 November 2015
Organisasi yang Baik
Unknown
No comments
NAMA : IQBAL REZA RAMADHAN
NNPM : 15114411
KELAS : 2KA28
Tipe Organisasi yang Diinginkan:
tipe organsasi yang saya inginkan adalah Tipe organisasi Fungsional, dimana Tipe ini diciptakan oleh F.W.Taylor . Dalam tipe ini ada pimpinan yang mempunyai bawahan yang jelas sebab setiap atasan berwenang memberi komando kepada setiap bawahan sepanjang ada hubungannya dengan fungsi atasan tersebut. kenapa saya mengiinkan ini? dikarenakan tipe organsisasi ini memiliki kejelasan antara atasan dan bawahan dimana perintahnya bisa tersampaikan dengan baik.
Faktor-Faktor yang menentukan Tipe Organisasi:
1. Faktor Pribadi :
a) Faktor personal, misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan kepribadian
b) Pengalaman kerja. Pengalaman kerja seorang karyawan sangat berpengaruh terhadap tingkat komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru beberapa tahun bekerja dan karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja dalam organisasi tentu memiliki tingkat komitmen yang berlainan
2. Faktor dalam Organisasi :
a) Karakteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, tantangan dalam pekerjaan, konflik peran, tingkat kesulitan dalam pekerjaan
b) Karakteristik struktur, misalnya besar kecilnya organisasi, bentuk organisasi, kehadiran serikat pekerjan, dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi terhadap karyawan
a) Nilai-nilai kemanusiaan. Pondasi yang utaman dalam membangun komitmen karyawan adalah adanya kesungguhan dari organisasi untuk bisa memprioritaskan nilai-nilai kemanusiaan.
b) Komunikasi dua arah yang komprehensif. Komitmen organisasi dibangun atas dasar kepercayaan, dan kepercayaan pasti membutuhkan komunikasi dua arah. Tanpa adanya komunikasi dua arah mustahil komitmen organisasi dapat dibangun dengan baik.
c) Rasa kebersamaan dan kerukunan. Penelitian yang dilakukan oleh Kantar (dalam Dessler, 1995) menemukan bahwa seperti dalam masyarakat utopis, organisasi yang ingin meraih kebersamaan, seluruh faktor ini bersama-sama menciptakan rasa senasip dan kerukunan, yang pada tahap selanjutnya memberi kontribusi pada komitmen karyawan.
d) Visi dan Misi. Dessler (1995) menyatakan bahwa pwmimpin dapat memberi inspirasi bagi tumbuhnya performansi dan komitmen karyawan yang tinggi dengan cara memberi kesempatan pada karyawan untuk dapat mengerti dan memahami visi dan misi bersama dalam sebuah organisasi.
e) Nilai sebagai dasar perekrutan. Nilai personal merupakan dasar kesesuaian seseorang untuk menunjukkan kesesuaian dengan organisasi.
f) Kestabilan kerja. Karyawan dengan kestabilan yang tinggi akan memperoleh komitmen organisasi yang tinggi pula.
g) Pengahayatan finansial. Herzberg et.al (1959) menyatakan bahwa faktor hygiene seperti gaji hanya akan menghasilkan motivasi dalam jangka yang pendek. Oleh karena itu insentif yang diberikan kepada individu yang telah berhasil melampaui target dari apa yang ditetapkan perlu dihargai jerih payah kerja kerasnya.
3. Faktor Luar Organisasi
a) Persaingan global dalam hal sumber daya manusia, artinya seluruh individu saling bersaing secara global dalam meni ngkatkan keahlian atau skill dalam bidang tertentu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bagan Organisasi:

Contoh Organisasi Niaga
Unknown
No comments
NAMA : IQBAL REZA RAMADHAN
NNPM : 15114411
KELAS : 2KA28
ORGANISASI NIAGA : PT ARNOTT’S INDONESIA
NNPM : 15114411
KELAS : 2KA28
ORGANISASI NIAGA : PT ARNOTT’S INDONESIA
TUGAS IV TOU
Pendahuluan.
Arnott's Indonesia adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam industri makanan seperti Good time, Tim tam, Nyam nyam, Stikko, Venezia dan Prestige. Arnott’s Indonesia merupakan perusahaan biskuit terbesar didunia berdiri sejak tahun 1865 dan hingga kini telah menguasai hampir 60% pangsa pasar dunia. Berbekal pengalaman lebih dari 134 tahun, menjadikan Arnott's Indonesia sebagai market leader dalam industri dan distribusi biskuit yang memiliki kualitas dan bahan baku terbaik.
Kelebihan dan Kekurangan Organisasi
Kelebihan :
1. Sudah berdiri sejak lama dan sudah memiliki banyak sekali pengalaman dalam bidangnya..
2. Memiliki teknologi yang sudah canggih.
3. Banyaknya lapangan pekerjaan yang sering dibuka
Kekurangan :
1. Sistem pegawai masih kontrak.
2. pengolahan limbah yang masih kurang baik.
Konflik :
1. konfik antar karyawan
dimana para karyawan saling bersaing dalam hal perpanjangan kontrak.
2. konflik antar perusahaan dan masyarakat.
dimana adanya protes dari warga sekitar tentang limbah yang disebabkan.
Pengaruh :
Sebagai perusahaan yang besar konflik yang ada didalam tersebut tidak terlalu berpengaruh
terhadap perusahaan yang sudah besar seperti ini.
Analisa :
Perusahaan PT ARNOTTS INDONESIA walaupun memiliki kekurangan tetap bisa ditutupi oleh kelebihan yang dipunyanya. oleh karena itu tidak ada hambatan apapun yang menjadikan perusahaan ini sebagai perusahaan terbesar.
Senin, 12 Oktober 2015
Organisasi
Unknown
No comments

Organisasi adalah perkumpulan atau wadah bagi sekelompok orang untuk bekerjasama, terkendali dan terpimpin untuk tujuan tertentu. Organisasi biasanya memanfaatkan suatu sumber daya tertentu misalnya lingkungan, cara atau metode, material, mesin, uang, dan beberapa sumberdaya lain dalam rangka mencapai tujuan organisasi tersebut. Orang orang yang terkumpul dalam sebuah organisasi sepakat untuk mencapai tujuan tertentu melalui sumber daya secara sistematis dan rasional yang terkendali dan adanya pemimpin organisasi yang akan memimpin operasional organisasi dengan terencana.
CIRI-CIRI ORGANISASI

Ilmu organisasi merupakan ilmu yang penting dimiliki, karena dalam kehidupan kita tidak lepas dari organisasi. Di mulai dari lingkungan yang sederhana dari keluarga, hingga struktur yang rumit seperti organisasi pemerintahan.
Adapun ciri-ciri organisasi:
– Mempunyai tujuan & sasaran
– Mempunyai keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati
– Adanya kerja sama dari sekelompok orang
– Mempunyai koordinasi tugas dan wewenang
UNSUR-UNSUR ORGANSASI MODERN
Setiap bentuk organisasi akan mempunyai unsur-unsur yang antara lain sebagai berikut:

Man
Man (orang-orang), dalam kehidupan organisasi atau ketatalembagaan sering disebut dengan istilah pegawai atau personnel. Pegawai atau personnel terdiri dari semua anggota atau warga organisasi, yang menurut fungsi dan tingkatannya terdiri dari unsur pimpinan (administrator) sebagai unsur pimpinan tertinggi dalam organisasi, para manajer yang memimpin suatu unit satuan kerja sesuai dengan fungsinya masing-masing dan para pekerja (nonmanagement/workers). Semua itu secara bersama-sama merupakan kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
Kerjasama
Kerjasama merupakan suatu perbuatan bantu-membantu akan suatu perbuatan yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, semua anggota atau semua warga yang menurut tingkatan-tingkatannya dibedakan menjadi administrator, manajer, dan pekerja (workers), secara bersama-sama merupakan kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
Tujuan Bersama
Tujuan merupakan arah atau sasaran yang dicapai. Tujuan menggambarkan tentang apa yang akan dicapai atau yang diharapkan. Tujuan merupakan titik akhir tentang apa yang harus dikerjakan. Tujuan juga menggambarkan tentang apa yang harus dicapai melalui prosedur, program, pola (network).
Peralatan (Equipment)
Unsur yang keempat adalah peralatan atau equipment yang terdiri dari semua sarana, berupa materi, mesin-mesin, uang, dan barang modal lainnya (tanah, gedung/bangunan/kantor).
Lingkungan (Environment)
Faktor lingkungan misalnya keadaan sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi. kebijaksanaan (policy), strategi, anggaran (budgeting), dan peraturan-peraturan (regulation) yang telah ditetapkan. Dan juga beberapa tujuan tertentu,
TEORI ORGANISASI
Teori Organisasi muncul pada abad 19 yang dilatar belakangi oleh revolusi Inggris dan kelahiran perusahaan raksasa yang ada di Amerika Serikat.
Teori klasik kadang disebut teori tradisional yang berisi konsep-konsep tentang organisasi mulai tahun seribu elapan ratusan.Dalam hal ini,organisasi secara umum digambarkan oleh para teoritis klasik sebagai sangat sentralisasi dan tugas-tugasnya terspesialiassi,serta menberikan petunjuk mekanisme structural yang kaku tidak mengandung kreatifitas. Teori klasik berkembang dalam 3 aliran yang dibangun atas dasar anggapan-anggapan yang sama dan mempunyai efek yang sama, yaitu :teori birokrasi,teori administrasi dan teori manajemen ilmiah.
Teori organisasi Neoklasik. Teori neoklasik dikenal sebagai teori hubungan manusiawi dan dikembangkan atas dasar teori klasik.Anggapan dasar teori ini adalah menekankan pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai individu maupun sebagai bagian kelompok kerjanya,sebagai sekelompok orang dengan tujuan bersama. Percobaan-percobaan di Howthrone yang dilakukan dari tahun 1924 sanmpai 1932 menandai permulaan perkembangan teori hubungan manusiawi.Percobaan ini merupakan kristalisasi teori neokalsik.Penemuan Howthrone telah menambah dimensi baru bagi teori organisasi.Dan pada akhirnya percobaan-percobaan Howthrone menunjukkan bagaimana kegiatan kelompok-kelompok kerja kohesif sangat berpengaruh pada operasi organisasi.
Bagaimana Organisasi Yang Baik Itu?
Menurut pendapat saya organisasi yang baik bisa di katakan organisasi yang terorganisir,organisasi yang mempunyai visi dan misi atau tujuan yang jelas,organisasi yang mempunyai perencanaan yang matang,organisasi yang mempunyai kreatifitas dan inofatif dalam membuat perencanaan,organisasi yang bisa berkembang sesuai dengan tujuan dan visi misi yang sudah menjadi kesepakatan. Selain itu untuk mewujudkan suatu organisasi yang baik kerjasama yang baik bisa menjadi awal sebuah organisasi bisa berjalan dengan lancar dan baik,di samping itu juga perlu adanya komunikasi yang baik pula. Tanpa ada kerjasama dan komunikasi yang baik,sebuah organisasi tidak akan bisa bertahan lama,padahal suatu organisasi yang baik dilihat petama kali dari bisa bertahan lama ¨tidak cepat bubar¨ atau sebaliknya ¨konsisten¨.SUMBER1, SUMBER2, SUMBER3
Jumat, 01 Mei 2015
Tugas Ilmu Budaya Dasar 2
Unknown
No comments
Tugas Ilmu Budaya Dasar 2
======================================
Manusia Dan Cinta Kasih
Pengertian Cinta Kasih
Cinta adalah rasa sangat suka atau sayang (kepada) ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau sangat menaruh belas kasihan. Dengan demikian cinta kasih dapat diatikan sebagai Baca Selengkapnya .....
Manusia Dan Penderitaan
Pengertian Penderitaan
Penderitaan adalah bahasa yang sering kita dengar. Penderitaan berasal dari kata derita.Kata derita berasal dari bahasa Sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. penderitaan bisa bersifat lahir dan bersifat batin. Setiap manusia Baca Selengkapnya ...
Manusia dan Penderitaan
Unknown
No comments
Manusia dan Penderitaan
Pengertian Penderitaan
Penderitaan adalah bahasa yang sering kita dengar. Penderitaan berasal dari kata derita.Kata derita berasal dari bahasa Sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. penderitaan bisa bersifat lahir dan bersifat batin. Setiap manusia memiliki penderitaan yang berbeda –beda. Manusia dikatakan menderita apa bila dia memiliki masalah, depresi karena tekanan hidup, dan lain lain.
Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Akibat penderitaan yang bermacam-macam. Ada yang mendapat hikmah besar dari suatu penderitaan, ada pula yang menyebabkan kegelapan dalam hidupnya. Oleh karena itu, penderitaan belum tentu tidak bermanfaat. Penderitaan juga dapat ‘menular’ dari seseorang kepada orang lain, apalagi kalau yang ditulari itu masih sanak saudara.
Menurut agama penderitaan itu adalah teguran dari tuhan. Penderitaan ada yang ringan dan berat contoh penderitaan yang ringan adalah ketika seseorang mengalami kegagalan dalam menggapai keinginannya. Sedangkan contoh dari penderitaan berat adalah ketika seorang manusia mengalami kejadian pahit dalam hidupnya hingga ia merasa tertekan jiwanya sampai terkadang Ingin mengakhiri hidupnya.
Penderitaan adalah termasuk realitas manusia di dunia. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan.Suatu pristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan.
Tentang Siksaan
Penderitaan biasanya di sebabkan oleh siksaan. Baik fisik ataupun jiwanya.Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatu pemerintah.Arti siksaan, siksaan berupa jasmani dan rohani bersifat psikis, kebimbangan, kesepian, ketakutan.
Siksaan Yang Sifatnya Psikis :
Kebimbangan.
memiliki arti tidak dapat menetukan pilihan mana yang akan dipilih.
Kesepian.
merupakan rasa sepi yang dia alami pada dirinya sendiri / jiwanya walaupun ia dalam lingkungan orang ramai.
Ketakutan.
adalah sebuah sesuatu yang tidak dinginkan yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin. Bila rasa takut itu dibesar – besarkan tidak pada tempatnya, maka disebut sebagai phobia.
Kekalutan Mental
Gejala-gejala permulaan pada orang yang mengalami kekalutan mental adalah sebagai berikut :
- nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
- nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
- Selalu iri hati dan curiga, ada kalanya dihinggapi khayalan, dikejar-kejar sehingga dia menjadi sangat agresif, berusaha melakukan pengrusakan atau melakukan detruksi diri dan bunuh diri.
- Komunikasi sosial putus dan ada yang disorientasi social
- Kepribadian yang lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri, ( orang-orang melankolis)
- Terjadinya konflik sosial – budaya akibat dari adanya norma yang berbeda antara dirinya dengan lingkungan masyarakat.
Tahap – tahap gangguan jiwa :
- Gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohaninya.
- Usaha mempertahankan diri dengan cam negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara benahan dirinya salah; pada orang yang tidak menderita gantran kejiwaan bila menghadapi persoalan, justru lekas memecahkan problemnya, sehingga tidak menekan perasaannya. Jadi bukan melarikan diri dan persoalan, tetapi melawan atau memecahkan persoalan.
- Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan
- Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan meningkatnya jumlah penderita penyakit jiwa, terutama gangguan kecemasan.
- Dipicu oleh faktor psychoeducational. Faktor ini terjadi karena adanya kesalahan dalam proses pendidikan anak sejak kecil, mekanisme diri dalam memecahkan masalah. Konflik-konflik di masa kecil yang tidak terselesaikan, perkembangan yang terhambat serta tiap fase perkembangan yang tidak mampu dicapai secara optimal dapat memicu gangguan jiwa yang lebih parah.
- Faktor sosial atau lingkungan juga dapat berperan bagi timbulnya gangguan jiwa, misalnya budaya, kepadatan populasi hingga peperangan. Jika lingkungan sosial baik, sehat tidak mendukung untuk mengalami gangguan jiwa maka seorang anak tidak akan terkena gangguan jiwa. Demikian pula sebaliknya. Gangguan jiwa tidak dapat menular, tetapi mempunyai kemungkinan dapat menurun dari orang tuanya. Namun hal ini tidak berlaku secara absolut.
Sebab-sebab Timbulnya Kekalutan Mental :
- Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna.
- Terjadinya konflik sosial-budaya akibat adanya norma yang berbeda antara yang bersangkutan dan yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi.
- Cara pematangan bathin yang salah dengan memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan sosial; overacting sebagai overkompensasi dan tampak emosional.
Proses – proses kekalutan mental:
Positif, bila trauma (luka jiwa) yang dialami seseorang, akan disikapi untuk mengambil hikmah dari kesulitan yang dihadapinya, setelah mencari jalan keluar maksimal, tetapi belum mendapatkannya tetapi dikembalikan kepada sang pencipta yaitu Allah SWT, dan bertekad untuk tidak terulang kembali dilain waktu.
Negatif, bila trauma yang dialami tidak dapat dihilangkan, sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang dicita-citakan. Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin. Sedangkan perjuangan merupakan usaha manusia untuk keluar dari penderitaan.
Penderitaan dan Perjuangan
Setiap manusia pasti mengalami penderitaan, baik secara berat ataupun ringan. Penderitaan adalah bagian kehidupan manusia yang bersifat kodrati. Karena itu terserah kepada manusia itu sendiri untuk berusaha mengurangi penderitaan itu semaksimal mungkin, bahkan menghindari atau menghilangkan sama sekali. Manusia adalah makhluk berbudaya, dengan budayanya itu ia berusaha mengatasi penderitaan yang mengancam atau dialaminya. Hal ini membuat manusia itu kreatif, baik bagi penderita sendiri maupun bagi orang lain yang melihat atau mengamati penderitaan.
Penderitaan dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekwensi manusia hidup, bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia, melainkan juga menderita. Karena itu manusia hidup tidak boleh pesimis, yang menganggap hidup sebagai rangkaian penderitaan. Manusia harus optimis, ia harus berusaha mengatasi kesulitan hidupnya. Allah berfirman dalam surat Arra’du ayat 11, bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang kecuali orang itu sendiri yang berusaha merubahnya.
Pembebasan dari penderitaaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan namun yang Tuhanlah yang yang menentukan hasilnya.
Penderitaan dan Sebab-Sebabnya
Berita mengenai penderitaan manusia silih berganti mengisi lembaran koran, layar TV, pesawat radio, dengan maksud agar semua orang yang menyaksikan ikut merasakan dari jauh penderitaan manusia. Dengan demikian dapat mengunggah hati manusia untuk berbuat sesuatu.
Media massa adalah alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada asyarakat luas. Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap anatara sesama manusia, terutama bagi mereka yang simpati. Tetapi tidak kalah pentingnya komunikasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni, sehingga para pembaca dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari karya tersebut.
Pengaruh Penderitaan
Penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan.
Orang yang merasa dirinya menderita akan mendapat tekanan dari dalam jiwanya dan rasa malu. Tak jarang banyak manusia yang ingin mengakhir hidupnya karena tidak kuat menopang siksaan dalam hidupnya. Ini terjadi di karenakan kekalutan mental. Kekalutan mental merupakan suatu keadaan dimana jiwa seseorang mengalami kekacuan dan kebingungan dalam dirinya sehingga ia merasa tidak berdaya.
Gejala- gejala permulaan pada orang yang mengalami kekalutan mental sebagai berikut :
a) Fisiknya sering merasa pusing, sesak napas, demam dan nyeri pada lambung.
b) Jiwanya sering menunjukkan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis (kurangnya emosi, motivasi, atau antusiasme).
Terkadang kekalutan mental bisa berujung pada gangguan jiwa dikarenakan kepribadiaan yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna sehingga orang tersebut merasa rendah diri.
Manusia dan Cinta Kasih
Unknown
No comments
Manusia dan Cinta Kasih
Pengertian Cinta Kasih
Cinta adalah rasa sangat suka atau sayang (kepada) ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau sangat menaruh belas kasihan. Dengan demikian cinta kasih dapat diatikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Terdapat perbedaan antara cinta dan kasih, cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada yang dicintai. Cinta samasekali bukan nafsu.
Perbedaan antara cinta dengan nafsu adalah sebagai berikut:
1.Cinta bersifat manusiawi
2.Cinta bersifat rokhaniah sedangkan nafsu bersifat jasmaniah.
3.Cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu cenderung menuntut.
Cinta juga selalu menyatakan unsur - unsur dasar tertentu yaitu:
1.Pengasuhan, contohnya cinta seorang ibu kepada anaknya.
2.Tanggung jawab, adalah tindakan yang benar – benar bedasarkan atas suka rela.
3.Perhatian, merupakan suatu perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan pribadi orang lain, agar mau membuka dirinya.
4.Pengenalan, merupakan keinginan untuk mengetahui rahasia manusia.
Cinta Menurut Ajaran Agama
Mungkin bisa dikatakan bahwa cinta adalah hal yang sangat berarti bagi diri kita sepanjang hidup kita , kasih dimana sesuatu yang memiliki hal yang sangat berarti untuk saling mengasihi antara sesame manusia. Bila kata cinta dan kasih digabungkan menjadi satu menjadi cinta kasih ,akan menjadi kata yang sangat bermakna bagi hidup kita. Cinta sendiri sangat sakral bagi hidup kita saling mencintai , saling menyayangi dan saling pengertian , dimana semua ini berhubungan dengan perasaan yang ada dalam hati yang timbul dari ketertarikan pada suatu lawan jenis yang menjadi ingin rasa memiliki dan menjadi sepasang yang tak ingin lepas dari sesuatu tersebut. Kasih yang menjadi pelengkap dari kata cinta yang satu sama lain saling mengasihi dan menjaga hati dengan baik . tetapi cinta jangan dilaksanakan dengan NAFSU dan GENGSI . kenapa dengan NAFSU dan GENGSI karena kita memilih orang tersebut bukan karena iri yang hanya mengikuti hawa nafsu saja dan malu terhadap lingkungan sekitar. Pasti anda pernah mendengar pepatah “ kalau jodoh ga kan kemana”, nah dalam hal ini bisa dikatakan kita memilih dengan sabar jangan terburu buru ,kita telaah mana yang cocok dengan diri kita. Bila kita laksanakan dengan baik , kita akan merasa nyaman dan senang. Zaman sekarang bisa dikatakan semakin ke zaman akan semakin cepat orang merasakan cinta kasih, lalu satu lagi, pacar akan menuruti kata pacarnya dibandingkan dengan orang tuanya , nah kita harus tahu betul , apakan cinta kasih kita direstui atau tidak, karena apabila tidak maka akan menjadi hubungan tidak baik
Cinta dalam agama islam. Simpang siur tentang cinta dalam agama islam , bisa diartikan sebenarnya tidak boleh dikarenakan belum muhrim , karena dalam agama islam belum boleh mencintai dan memiliki lawan jenis sebelum menikah , apabila sudah menikah , baru boleh mencintai dan meiliki.
Sebenarnya cinta dalam agama islam adalah cinta kita terhadap sang pencipta , kita cinta terhadap semua yang telah diciptakan demi meneruskan hidup di dunia yang harus kita syukuri atas segala rahmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita di dunia , jangan lah kau mendustai apa yang telah diberikan oleh Allah Swt , kita harus cinta melaksanakan segala apa yang telah diperintahkan dan menjauhi segala larangannnya.
Kasih Sayang
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S.Porwadarminta, kasih sayang adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Apabila suatu hubungan cinta diakhiri dengan sebuah pernikahan maka hal ini akan menimbulkan perasaan yang lebh dewasa lagi dan juga menuntut agar suatu hubungan tersebut lebih bertanggung jawab, perasaan inilah yang disebut dengan kasih sayang, mengasihi, atau saling menumpahkan kasih sayang.
Kemesraan
Kemesraan berasal dari kata mesra yang berarti erat atau karib sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan juga bersumber dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat diartikan sama dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan kasih.
Tingkatan kemesraan dapat dibedakan berdasarkan umur, yaitu:
Kemesraan dalam Tingkat Remaja, terjadi dalam masa puber atau genetal pubertas yaitu dimana masa remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan dorongan seksualitasnya kuat.
Kemesraan dalam Rumah Tangga, terjadi antara pasangan suami istri dalam perkawinan. Biasanya pada tahun tahun wal perkawinan, kemesraan masih sangat terasa, namun bisa sudah agak lama biasanya semakin berkurang.
Kemesraan Manusia Usia Lanjut, Kemsraan bagi manusia berbeda dengan pada usia sebelumnya. Pada masa ini diwujudkan dengan jalan – jalan dan sebagainya.
Pemujaan
Pemujaan adalah dimana kita memuja atau mengagungkan sesuatu yang kita senangi.Pemujaan dapat dilakukan dalam berbagai aspek seperti memuja pada leluhur,memuja pada agama tertentu dan kepercayan yang ada.seperti Pemujaan pada leluhuradalah suatu kepercayaa bahwa para leluhur yang telah meninggal masih memiliki kemampuan untuk ikut mempengaruhi keberuntungan orang yang masih hidup. Dalam beberapa budaya Timur, dan tradisi penduduk asli Amerika, tujuan pemujaan leluhur adalah untuk menjamin kebaikan leluhur dan sifat baik pada orang hidup, dan kadang-kadang untuk meminta suatu tuntunan atau bantuan dari leluhur. Fungsi sosial dari pemujaan leluhur adalah untuk meningkatkan nilai-nilai kekeluargaan, seperti bakti pada orang tua, kesetiaan keluarga, serta keberlangsungan garis keturunan keluarga.
Belas Kasihan
Cinta sesama ini diberikan istilah belas kasihan untuk membedakan antara cinta kepada orang tua, pria-wanita,cinta kepada Tuhan.Perbuatan atau sifat menaruh belas kasihan adalah orang yang berahlak.Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan.Masalahnya sanggupkah dia menggugah potensi belas kasihanya itu.Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.
Dalam esai on love ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuaan tanpa syarat.itu berarti,dalam rasa belas kasihan tidak terkandung unsure pamrih.Belas kasihan yang kita tumpahkan benar-benar dari lubuk hati yang ikhlas.Kalau kita memberikan uang pada pengemis agar mendapatkan pujian,itu berarti tidak ikhlas,berarti ada tujuan tertentu.Hal seperti itu banyak terjadi dalam masyarakat.
Cara-cara menumpahkan belas kasihan
Dalam kehidupam banyak sekali yang harus kita kasihani dan banyak cara kita menumpahkan belas kasihan.yang perlu kita kasihani antara lain: Yatim piatu, orang-orang jompo yang tidak mempunyai ahli waris, pengemis yang benar-benar tidak mampu bekerja.orang sakit dirumah sakit, orang cacat, masyarakat kita yang hidup menderita dan sebagainya.Orang –orang itu umumnya menderita lahir dan batin dan umumnya sedikit tangan yang menaruh belas kasihan.Berbagai macam cara orang memberikan belas kasihan bergantung kepada situasi dan kondisi,Ada yang memberikan uang, ada yang memberikan barang, ada yang memberikan pakaian, makanan dan sebagainya.
Perbuatan atau menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan. Belas kasihan yang kita tumpahkan benar-benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas.
Cinta Kasih Erotic
Cinta kasih kesaudaraan merupakan cinta kasih antara oran-orang yan sama-sama sebanding. Berlawanan dengan kedua jenis cinta kasih tersebut ialah cinta kasih erotis, yaitu kehausan akan penyatuan yang sempurna. Pada hakekatnya cinta kasih tersebut bersifat ekslusif bukanuiversal. Pertama - tama cinta kasih erotis kerap kali dicampurbaurkan dengan pengalamanyang eksplosif berupa jatuh cinta. Tetapi seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu, pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakekatnya hanyalah sementara saja. Untuk mereka intimitas atau kemesraan itu terutama diperoleh dengan cara hubungan seksual.
Keinginan seksual menuju kepada penyatuan diri, tetapi sekali-kali ukan merupakan nafsu fisis belaka, untuk meredakan ketegagan yang menyakitkan. Keinginan seksual degan udah dapat dicampuri oleh tiap-tiap eprasaan yag mendalam, sedangkan cinta kasih merupakan satu diantaranya. Cinta kasih dapat merangsang keinginan untukbersatu secara seksual. Daya tarik seksual untuk sementara waktu menimbulkan khayalan penyatuan.
Dalam cinta kasih erotis terdapat ekslusivitas yangtidak terdapat dalam cinta kasih persaudaraan dan cinta kasih keibuan. Sering kita jumpai seapsang orang-orang yang sedang saling mencintai tanpa merasakan cinta kasih terhadap setiap orang lainnya. Cinta kasih mereka sebenarnya merupakan egoism dua orang , mereka adalah dua orang yang saling menemukan kesamaan. Cinta kasih erotis mengeksklusifkan cinta kasih terhadap orang lain hanyalah dalam segi-segi fusi erotis dan keitsertaan dengan semua aspek kehidupan orang-orang lain, tapi bukan dalam arti cinta kasih yang mendalam.
Cinta kasih erotis apabila ia benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorag sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam dalamnya. Hal ini memang merupakan dasar gagasan bahwa suatu pernikahan tradisional, yang kedua mempelainya tidak pernah meiliki jodohnya sendiri. Dalam kebudayaan barat/zaman sekarang, gagasan itu ternyata tidak dapat diterima sama sekali. Ada pula orang yang memandang bahwa factor yang penting di dalam cinta kasih erotis itu adalah keinginan.
Denan demikian maka, baik pandangan bahwa cinta kasih erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain daripada perbuatan kemauan. Oleh karena itu, gagasan bahwa hubungan pernikahan mudah saja dapat diputuskan apabila orang tidak bersukses didalamnya, merupakan gagasan bahwa hubungan semacam itu, didalam keadaan bagaimanapun, tidak boleh diputuskan
Manusia dan Cinta Kasih
Dari awal manusia dilahirkan ke dunia, mereka sudah mengenal dan merasakan cinta kasih. Cinta kasih dapat kita dapatkan dari banyak orang, seperti cinta kasih dari orang tua, cinta kasih dari keluarga, cinta kasih dari teman, cinta kasih dari seorang kekasih, cinta kasih dari sahabat. Cinta kasih terbukti mampu membentuk sifat baik dalam diri seseorang. Seseorang yang dibesarkan degan cinta kasih akan menanamkan cinta kasih dalam perilakunya.
Cinta kasih yang saya rasakan dari orang tua sangatlah besar. Mereka membesar kan saya dengan cinta yang tulus. Terkadang saya sering mendapat omelan dari orang tua saya, tapi saya menyadari bahwa itu semua untuk kebaikan saya. Pengorbanan seorang ibu saat melahirkan, pengabdian seorang ibu dalam membesarkan saya, serta kerja keras seorang ayah adalah bukti cinta kasih yang sangat tulus saya rasakan dari orang tua saya. Orang tua saya juga selalu mengajarkan saya untuk saling mengasihi satu sama lain antara kakak beradik. Seabagai seorang anak bungsu saya, saya memiliki kakak yang senantiasa melindungi dan menjadi orang tua kedua buat saya.
Mereka sangat memperhatikan saya.
Selain dari keluarga , cinta kasih juga saya rasakan dari sahabat dan teman. Sahabat yang sesungguhnya adalah seorang yang menaruh kasih disetiap waktu. Mereka menjadi tempat kita bercerita dan bersandar. Seorang yang mau menjadi pendengar yang baik. Beruntungnya saya memiliki sosok seperti ini dalam kehidupan saya. Mereka dapat menjadi saudara untuk saya. Disaat saya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita saya, mereka selalu ada dan menyediakan waktu.
Cinta kasih juga dapat kita rasakan dalam dunia kerja kita. Pengalaman yang pernah saya rasakan adalah bagaiana saya saling membantu dalam pekerjaan, saling menghargai dan saling bertoleransi. Tentunya ini sangat bermanfaat juga dalam pekerjaan kita. Selain itu dalam kehidupan bertetangga kita juga harus menanamkan cinta kasih. Saat hari raya keagamaan saya terbiasa untuk saling berkunjung .
Manusia tidak bisa dilepaskan dari cinta kasih. Karena cinta kasih menyangkut hubungan manusia dengan sesamanya.
Kamis, 26 Maret 2015
Tugas Softskill 1
Unknown
No comments
Tugas Softskill 1
==================
Manusia dan Kebudayaan
Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti “manusia yang tahu”), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan ..... Selengkapnya
Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraa
A. Buat Cerita/Cerpen/Novel dsb.
Ukiran Sang Pendalang
Agung adalah anak seorang pendalang. Bapaknya sudah melakoni pekerjaan tersebut kurang lebih sekitar 14 tahun. Keluarga Agung termasuk keluarga pecinta budaya, salah satunya wayang. Daerah Yogyakarta provinsi Jawa Tengah adalah daerah dimana Agung tinggal. Pada suatu hari, ” Gung, sini Le!”, panggil Bapak Agung.
“Iya,ono opo Pak?” jawab Agung.
“Le, Bapak sudah tua sudah waktunya Bapak berhenti jadi pendalang dan sekarang giliran kamu yang meneruskan pekerjaan Bapak ini”, kata Bapak Agung sambil menepuk pundak anak semata........ Selengkapnya
“Iya,ono opo Pak?” jawab Agung.
“Le, Bapak sudah tua sudah waktunya Bapak berhenti jadi pendalang dan sekarang giliran kamu yang meneruskan pekerjaan Bapak ini”, kata Bapak Agung sambil menepuk pundak anak semata........ Selengkapnya
Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraan
Unknown
No comments
Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraan
A. Buat Cerita/Cerpen/Novel dsb.
Ukiran Sang Pendalang
Agung adalah anak seorang pendalang. Bapaknya sudah melakoni pekerjaan tersebut kurang lebih sekitar 14 tahun. Keluarga Agung termasuk keluarga pecinta budaya, salah satunya wayang. Daerah Yogyakarta provinsi Jawa Tengah adalah daerah dimana Agung tinggal. Pada suatu hari, ” Gung, sini Le!”, panggil Bapak Agung.
“Iya,ono opo Pak?” jawab Agung.
“Le, Bapak sudah tua sudah waktunya Bapak berhenti jadi pendalang dan sekarang giliran kamu yang meneruskan pekerjaan Bapak ini”, kata Bapak Agung sambil menepuk pundak anak semata wayangnya.
“ Hah, opo Pak? Agung harus jadi dalang seperti Bapak? Ya nggak mungkinlah
Pak. Mengko opo omonge konco-konco ku lek Agung jadi dalang? Malu pak. Agung ndak mau pokoknya”, jawab Agung.
“Kamu ini gimana to Le? Kenapa harus malu jadi dalang? Itu pekerjaan halal. Seharusnya kamu sebagai generasi muda harus ikut melestarikan budaya bangsa kita”, jawab Bapak Agung bijak.
“ Bukannya Agung nggak mau Pak, tapi aku malu sama teman-temanku Pak!” tegas Agung pada Bapaknya.
“Kamu ini lo Le.., budaya Indonesia itu harus dilestarikan bukannya malah dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja”, sahut Ibu Agung yang sedang menjahit baju sindennya.
“Terserah Bu, pokoknya Agung ndak mau jadi dalang”, tegas Agung.
Keesokan harinya Bapak Agung tidak membersihkan wayang-wayang koleksinya sepeti biasanya. Beliau masih terbaring di atas tempat tidur dan sulit dibangunkan. Hari itu benar-benar aneh sekali.
Selang beberapa jam ”Hmm,,,Bu Agung mana? Bapak mau ngomong penting sama dia“, suara Bapak terdengar lemah.
“Iya, sebentar Pak Ibu panggilkan”, jawab Ibu Agung.
“ Gung,, Agung di pangil Bapak ni Le”, seru ibu Agung.
“Ada pa to Buk? Bapak kenapa?”, sahut Agung sambil berjalan ke arah kamar Bapaknya.
“Gung, terusin profesi Bapak ya, jangan malu dengan budaya sendiri Nak. Sekarang budaya dan seni pewayangan semakin langka tak ada yang mau meneruskan. Bapak tahu Agung punya bakat seperti Bapak. Kamu harus percaya bahwa dunia menunggumu dengan bakat kamu”, jawab Bapak lirih. Aliran air mata menetes di pipi Bapak Agung. Denyut nadi sudah tidak terasa di tangan, nafas terakhir pun dihembuskan. Bapak Agung meninggal dunia. Ditangannya terdapat dua lembar kertas, satu kertas berisi surat dari dokter yang menerangkan bahwa selama ini Bapak Agung mengidap paru-paru basah yang sudah parah. Kertas kedua berisi sebuah surat yang isinya :
“Iya,ono opo Pak?” jawab Agung.
“Le, Bapak sudah tua sudah waktunya Bapak berhenti jadi pendalang dan sekarang giliran kamu yang meneruskan pekerjaan Bapak ini”, kata Bapak Agung sambil menepuk pundak anak semata wayangnya.
“ Hah, opo Pak? Agung harus jadi dalang seperti Bapak? Ya nggak mungkinlah
Pak. Mengko opo omonge konco-konco ku lek Agung jadi dalang? Malu pak. Agung ndak mau pokoknya”, jawab Agung.
“Kamu ini gimana to Le? Kenapa harus malu jadi dalang? Itu pekerjaan halal. Seharusnya kamu sebagai generasi muda harus ikut melestarikan budaya bangsa kita”, jawab Bapak Agung bijak.
“ Bukannya Agung nggak mau Pak, tapi aku malu sama teman-temanku Pak!” tegas Agung pada Bapaknya.
“Kamu ini lo Le.., budaya Indonesia itu harus dilestarikan bukannya malah dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja”, sahut Ibu Agung yang sedang menjahit baju sindennya.
“Terserah Bu, pokoknya Agung ndak mau jadi dalang”, tegas Agung.
Keesokan harinya Bapak Agung tidak membersihkan wayang-wayang koleksinya sepeti biasanya. Beliau masih terbaring di atas tempat tidur dan sulit dibangunkan. Hari itu benar-benar aneh sekali.
Selang beberapa jam ”Hmm,,,Bu Agung mana? Bapak mau ngomong penting sama dia“, suara Bapak terdengar lemah.
“Iya, sebentar Pak Ibu panggilkan”, jawab Ibu Agung.
“ Gung,, Agung di pangil Bapak ni Le”, seru ibu Agung.
“Ada pa to Buk? Bapak kenapa?”, sahut Agung sambil berjalan ke arah kamar Bapaknya.
“Gung, terusin profesi Bapak ya, jangan malu dengan budaya sendiri Nak. Sekarang budaya dan seni pewayangan semakin langka tak ada yang mau meneruskan. Bapak tahu Agung punya bakat seperti Bapak. Kamu harus percaya bahwa dunia menunggumu dengan bakat kamu”, jawab Bapak lirih. Aliran air mata menetes di pipi Bapak Agung. Denyut nadi sudah tidak terasa di tangan, nafas terakhir pun dihembuskan. Bapak Agung meninggal dunia. Ditangannya terdapat dua lembar kertas, satu kertas berisi surat dari dokter yang menerangkan bahwa selama ini Bapak Agung mengidap paru-paru basah yang sudah parah. Kertas kedua berisi sebuah surat yang isinya :
Surat tersebut dipandangi oleh Agung, tanpa terasa tetesan air mata mengalir di pipi Agung. “Ibu,, Bapak meninggal maafin Agung, Pak. Agung janji akan meneruskan profesi Bapak, Agung janji”, teriak Agung sambil memeluk tubuh Bapaknya yang sudah tak berdaya. Sambil menangis, “Sabar Nak. Agung harus bisa memenuhi permintaanan Bapak, kamu pasti bisa Nak”, kata Ibunya sambil memeluk Agung.
Hari demi hari dilewati Agung tanpa Bapak disampingnya. Bapak yang selalu menceritakan kisah pewayangan, Bapak yang mengajarinya cara berdalang walaupun terkadang dia jengkel dengan omongan Bapaknya yang mengajari dia menjadi dalang.
“Nah,, begitu Nak berlatihlah tanpa berputus asa pasti Bapakmu disana akan senang melihat usahamu”, kata ibunya sambil membawakan ketela rebus dengan teh hangat untuk Agung.
“Ya Bu, pasti Bapak senang”, tutur Agung sambil tersenyum.
“Oh iya, besok itu ada acara di tetangga sebelah. Beberapa bulan yang lalu Bapak disuruh untuk mendalang. Tetapi Bapak sekarang sudah tidak ada. Gimana kalau Agung yang menggantikan bapak mendalang?” tanya Ibu Agung dengan hati-hati.
“Hmm,, boleh juga Bu”, jawab Agung dengan antusias.
” Oh, itu bagus Nak tunjukkan kemampuanmu kalau Agung bisa seperti Bapak!” tutur Ibu.
Keesokan harinya Agung sudah berdandan rapi ,“Bagaimana Bu, sudah ganteng belum anak ibu ini?” tanya Agung sambil membenahkan blangkon dan baju dalang Bapaknya yang dipakainya sekarang.
“Waah, ganteng tenan anak’e Ibu persis kayak Bapakmu dulu”, kata ibu Agung sambil tersenyum senang.
Ditempat acara. “Assalamu’alaikum Bapak-Ibu sekalian, sekarang Agung akan menghibur anda semua”, kata Agung gugup.
Pewayangan dimulai, padahal permainannya saat itu cukup bagus, tetapi tetap saja ada yang mengejek Agung “Nak, kalau ndak bisa maen wayang ndak usah main”, ujar salah satu penonton.
” Ya, betul itu kalau ndak bisa main pergi sana”, ujar penonton yang lain.
Agung menunduk malu karena ejekan itu. ”Sabar ya Nak!” kata Ibu sambil memeluk pundak putranya. Akhirnya mereka pulang dengan kesedihan dan rasa malu terutama Agung.
“Agung ndak mau jadi dalang lagi Bu!” kata Agung.
“Agung ndak boleh bilang begitu, itu adalah pengalaman Nak!” kata ibu Agung.
“Ya Bu, ini adalah pengalaman yang gagal dan Agung sudah merasa di permalukan dengan ini semua”, jawab Agung dengan marah.
” Le, ingat apa kata Bapak kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan”, tutur Ibu Agung dengan mata berkaca – kaca.
” Agung ndak peduli Bu!” jawab Agung keras. Agung langsung masuk kamar, dia memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ransel.
“Le, Agung mau kemana?“ kata Ibu.
” Agung mau pergi dari rumah Bu! Agung malu”, kata Agung sambil pergi meninggalkan rumah dan ibunya.
“Gung, jangan pergi Nak, siapa yang akan meneruskan profesi Bapakmu?” kata Ibu Agung sambil memegang tangan anaknya, tapi kepergian Agung tidak dapat dicegah, kemauannya untuk pergi meninggalkan rumah sangatlah kuat.
Agung pergi dari rumah tanpa arah dan tujuan. Didalam tasnya hanya terdapat 4 pasang baju dan 2 pasang celana. Dompet gambar batik pemberian ayahnya hanya berisikan uang Rp. 50.000,00.
“Apakah cukup dengan uang Rp. 50.000,00 aku bertahan. Huff…berarti aku harus cari kerja”, gumam Agung. Langkah Agung tiba-tiba dihentikan saat ada kakek tua yang membuat wayang dari lidi.
“Hmm, Kek ini semua Kakek yang membuatnya?” tanya Agung kepada Kakek. “Iyo Le, kamu mau tak ajarin?” jawab kakek tua itu. “Kakek mau nggak ngajarin aku membuat ini?” tanya Agung. “Tenan, Le kamu mau tak ajarin? Jarang sekali anak muda seperti kamu mau menyukai budaya Indonesia terutama wayang. Memangnya Bapakmu kerja apa tho Le?” kata Kakek tua. “Bapakku pendalang Kek , tapi beliau sudah meninggal”, jelas Agung. “Innalillahi aku turut berduka Le, ya sudah nanti mau apa ndak tak ajari?” tanya kakek.
“Oh iya Kek,mau sekali, jenengku Agung Suwanto, panggil saja aku Agung,” jawab agung semangat. “Ayo ikut ke rumahku, tak ajari disana”, tawar Kakek tua. “Iya, makasih Kek! Hmm.., Agung boleh ndak numpang di rumah Kakek untuk sementara?” tanya Agung. ”Oh, Kakek malah seneng Le”. kata Kakek sambil tertawa dan berjalan pulang bersama Agung.
Sesampainya di rumah Kakek.
“Weleh-weleh Kek, rumah Kakek banyak sekali wayangnya, ini semua Kakek yang membuatnya?” tanya Agung sambil tercengang memandangi rumah Kakek yang kecil tapi penuh dengan wayang.
”Iya Nak,sejak dulu Kakek sudah terbiasa membuat wayang sendiri”, jelas Kakek.
”Wah Kakek hebat tenan!” kata Agung tercengang. Hari demi hari dilalui Agung di rumah kakek. Dia belajar membuat wayang. Ternyata hasilnya tak sejelek yang di bayangkan oleh Agung.
Setelah beberapa hari Agung menginap di rumah Kakek,
”Le, ayo makan dulu”, suruh Kakek tua itu.
”Iya Kek”, jawab Agung sambil menuju tempat makan.
”Gung, bukannya Kakek mengusir kamu, tapi apakah Ibumu di rumah tidak kangen dengan kamu Nak? Kamu sudah tiga minggu di sini dan pastinya Ibumu resah memikirkan kamu. Lagi pula teman – temanmu pasti juga mencarimu”, tutur Kakek tua kepada Agung.
” Iya Kek, itu benar tapi Agung takut gagal. Kalau gagal Bapak Agung disana pasti kecewa. Agung juga ndak mau bikin malu Ibu lagi”, jawab Agung.
“Gung, kegagalan itu kunci kesuksesan, kalau kita tidak gagal kita juga tidak akan sukses”, nasehat Kakek tua.
“Iya Kek, Ibu Agung juga pernah bilang begitu. Tapi kalau nanti Agung pulang apakah warga tidak lagi mengejek Agung karena permainan wayangku yang jelek?” katanya sambil menerawang.
Sambil tertawa kakek berucap, ”Kakek dulu juga sama seperti kamu Gung, dulu warga sering mencaci dan mengejek Kakek, katanya wong ndak bisa main wayang kok mau jadi dalang. Waktu itu Kakek juga sangat merasa sedih, rasanya Kakek putus asa. Tapi Kakek selalu ingat nasehat Ibu Kakek, kalau Kakek gak boleh putus asa karena kegagalan adalah kunci kesuksesan. Kata-kata itu yang selalu di ucapkan oleh Ibu Kakek,” cerita Kakek. “Kakek betul juga, sekarang Agung harus pulang dan meneruskan apa yang Bapak inginkan. Kalau begitu Agung pulang dulu ya Kek”, kata Agung dengan antusias. “Habiskan makananmu dulu Nak, nanti baru kamu boleh pulang”, tutur Kakek. Dengan lahap Agung menyantap makanan yang dihidangkan di hadapannya. “Kek, Agung pulang dulu ya? Terimakasih atas kebaikan Kakek selama ini”, pamit Agung. ” Ya, sama-sama. Hati-hati ya Le, kakek do’akan usahamu menjadi dalang berhasil”, doa Kakek.
“ Ya Kek, amiiin. Agung pulang dulu, Assalamu’alaikum”, pamit Agung sambil meninggalkan Kakek. Diperjalanan, tanpa sengaja dia menemukan koran yang jatuh di jalan. Apa ini? Hah..gak mungkin ini! Wayang milik budaya Indonesia, bukan milik Negara lain. Tiba – tiba Agung merasa gusar, dia mempercepat langkahnya ke rumah.
“Assalamu’alaikum Buk Agung pulang!” teriak Agung dari luar sambil masuk kedalam rumah. “ Waalaikum salam….anakku Agung. Kamu kemana aja to Le……Ibu kangen”, kata ibu Agung sambil memeluk anaknya.
“Bu….., maafin Agung ya….. Agung kemarin egois?” pinta Agung pada Ibunya.
“Ibu sudah maafin Agung. Bagaimana keadaan kamu? kemana saja kamu selama ini Nak?”, tanya ibu dengan penasaran.
“ Alhamdulillah Agung baik – baik saja Bu, selama ini Agung tinggal dengan seorang Kakek yang baik hati, beliau merawat dan menjaga Agung dengan baik”, ungkap Agung sambil menenangkan Ibunya.
“ Syukurlah Nak,.. Oh, iya mengenai amanat Bapakmu, ndak usah terlalu difikirkan ya Le, Ibu ikhlas kalau memang kamu tidak mau menjadi penerus Bapakmu”, tutur Ibunya dengan wajah yang serius.
“Tapi Bu, mulai sekarang Agung ingin menjadi dalang. Agung ingin seperti Bapak“, katanya meyakinkan.
“Sebagai generasi penerus bangsa Agung merasa harus ikut memajukan dan melestarikan budaya Indonesia terutama pewayangan yang sekarang telah di klaim milik Negara lain Bu”, kata Agung tegar.
“Ibu bangga sama kamu Nak”, kata ibu Agung terharu.
Keesokan harinya Agung bangun pagi-pagi sekali, kemudian mengeluarkan wayang-wayang peninggalan ayahnya dan juga wayang hasil buatannya sendiri. Dia membersihkan dan menata rapi wayang-wayang tersebut di tempat ayahnya biasa mendalang. Setelah selesai dia membuka lebar pintu depan. Kemudian memasang spanduk lebar yang bertuliskan “ SANGGAR PEWAYANGAN ”. Dan dibawah tulisan tersebut terdapat kalimat yang bertuliskan “ Sebagai Generasi Muda mari kita lestarikan Kebudayaan Indonesia”. Kemudian Agung menyebarkan brosur yang berisi ajakan untuk selalu melestarikan budaya bangsa lewat orang-orang dan menampilkannya di internet juga ditelevisi. Nama Agung pun menjadi semakin terkenal dengan sebutan “Dalang Muda”. Untuk memantapkan usahanya tersebut Agung mendaftarkan wayang sebagai seni budaya Indonesia kepada UNESCO. Sementara menunggu hasil keputusan UNESCO, Agung semakin giat menyebarkan semangat menjaga seni wayang dengan memainkannya sampai lintas Jawa-Bali. Nama Agung pun semakin terkenal.
Setelah menunggu beberapa bulan, Agung mendapatkan surat dari UNESCO bahwa seni wayang sudah di patenkan. Membaca surat tersebut Agung tersenyum senang, dia merasa yakin ayahnya pasti bangga dengan usahanya selama ini.
“Pak,, Agung ternyata bisa meneruskan perjuangan Bapak”, bisik Agung dalam hatinya.
Sekarang semakin banyak anak muda yang ikut masuk kedalam sanggarnya. Agung juga melatih para kaum muda yang ingin menjadi dalang, atau yang hanya ingin mengetahui lebih dalam tentang kebudayaan Indonesia.
Semakin banggalah ibu Agung atas prestasi yang telah di ukir oleh anaknya. Agung pun merasa semakin tertantang untuk mengajak kaum muda agar selalu melestarikan budaya bangsa. Dan benar saja, berkat ketekunannya, Agung menjadi dalang yang sukses sampai mancanegara.
Hari demi hari dilewati Agung tanpa Bapak disampingnya. Bapak yang selalu menceritakan kisah pewayangan, Bapak yang mengajarinya cara berdalang walaupun terkadang dia jengkel dengan omongan Bapaknya yang mengajari dia menjadi dalang.
“Nah,, begitu Nak berlatihlah tanpa berputus asa pasti Bapakmu disana akan senang melihat usahamu”, kata ibunya sambil membawakan ketela rebus dengan teh hangat untuk Agung.
“Ya Bu, pasti Bapak senang”, tutur Agung sambil tersenyum.
“Oh iya, besok itu ada acara di tetangga sebelah. Beberapa bulan yang lalu Bapak disuruh untuk mendalang. Tetapi Bapak sekarang sudah tidak ada. Gimana kalau Agung yang menggantikan bapak mendalang?” tanya Ibu Agung dengan hati-hati.
“Hmm,, boleh juga Bu”, jawab Agung dengan antusias.
” Oh, itu bagus Nak tunjukkan kemampuanmu kalau Agung bisa seperti Bapak!” tutur Ibu.
Keesokan harinya Agung sudah berdandan rapi ,“Bagaimana Bu, sudah ganteng belum anak ibu ini?” tanya Agung sambil membenahkan blangkon dan baju dalang Bapaknya yang dipakainya sekarang.
“Waah, ganteng tenan anak’e Ibu persis kayak Bapakmu dulu”, kata ibu Agung sambil tersenyum senang.
Ditempat acara. “Assalamu’alaikum Bapak-Ibu sekalian, sekarang Agung akan menghibur anda semua”, kata Agung gugup.
Pewayangan dimulai, padahal permainannya saat itu cukup bagus, tetapi tetap saja ada yang mengejek Agung “Nak, kalau ndak bisa maen wayang ndak usah main”, ujar salah satu penonton.
” Ya, betul itu kalau ndak bisa main pergi sana”, ujar penonton yang lain.
Agung menunduk malu karena ejekan itu. ”Sabar ya Nak!” kata Ibu sambil memeluk pundak putranya. Akhirnya mereka pulang dengan kesedihan dan rasa malu terutama Agung.
“Agung ndak mau jadi dalang lagi Bu!” kata Agung.
“Agung ndak boleh bilang begitu, itu adalah pengalaman Nak!” kata ibu Agung.
“Ya Bu, ini adalah pengalaman yang gagal dan Agung sudah merasa di permalukan dengan ini semua”, jawab Agung dengan marah.
” Le, ingat apa kata Bapak kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan”, tutur Ibu Agung dengan mata berkaca – kaca.
” Agung ndak peduli Bu!” jawab Agung keras. Agung langsung masuk kamar, dia memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ransel.
“Le, Agung mau kemana?“ kata Ibu.
” Agung mau pergi dari rumah Bu! Agung malu”, kata Agung sambil pergi meninggalkan rumah dan ibunya.
“Gung, jangan pergi Nak, siapa yang akan meneruskan profesi Bapakmu?” kata Ibu Agung sambil memegang tangan anaknya, tapi kepergian Agung tidak dapat dicegah, kemauannya untuk pergi meninggalkan rumah sangatlah kuat.
Agung pergi dari rumah tanpa arah dan tujuan. Didalam tasnya hanya terdapat 4 pasang baju dan 2 pasang celana. Dompet gambar batik pemberian ayahnya hanya berisikan uang Rp. 50.000,00.
“Apakah cukup dengan uang Rp. 50.000,00 aku bertahan. Huff…berarti aku harus cari kerja”, gumam Agung. Langkah Agung tiba-tiba dihentikan saat ada kakek tua yang membuat wayang dari lidi.
“Hmm, Kek ini semua Kakek yang membuatnya?” tanya Agung kepada Kakek. “Iyo Le, kamu mau tak ajarin?” jawab kakek tua itu. “Kakek mau nggak ngajarin aku membuat ini?” tanya Agung. “Tenan, Le kamu mau tak ajarin? Jarang sekali anak muda seperti kamu mau menyukai budaya Indonesia terutama wayang. Memangnya Bapakmu kerja apa tho Le?” kata Kakek tua. “Bapakku pendalang Kek , tapi beliau sudah meninggal”, jelas Agung. “Innalillahi aku turut berduka Le, ya sudah nanti mau apa ndak tak ajari?” tanya kakek.
“Oh iya Kek,mau sekali, jenengku Agung Suwanto, panggil saja aku Agung,” jawab agung semangat. “Ayo ikut ke rumahku, tak ajari disana”, tawar Kakek tua. “Iya, makasih Kek! Hmm.., Agung boleh ndak numpang di rumah Kakek untuk sementara?” tanya Agung. ”Oh, Kakek malah seneng Le”. kata Kakek sambil tertawa dan berjalan pulang bersama Agung.
Sesampainya di rumah Kakek.
“Weleh-weleh Kek, rumah Kakek banyak sekali wayangnya, ini semua Kakek yang membuatnya?” tanya Agung sambil tercengang memandangi rumah Kakek yang kecil tapi penuh dengan wayang.
”Iya Nak,sejak dulu Kakek sudah terbiasa membuat wayang sendiri”, jelas Kakek.
”Wah Kakek hebat tenan!” kata Agung tercengang. Hari demi hari dilalui Agung di rumah kakek. Dia belajar membuat wayang. Ternyata hasilnya tak sejelek yang di bayangkan oleh Agung.
Setelah beberapa hari Agung menginap di rumah Kakek,
”Le, ayo makan dulu”, suruh Kakek tua itu.
”Iya Kek”, jawab Agung sambil menuju tempat makan.
”Gung, bukannya Kakek mengusir kamu, tapi apakah Ibumu di rumah tidak kangen dengan kamu Nak? Kamu sudah tiga minggu di sini dan pastinya Ibumu resah memikirkan kamu. Lagi pula teman – temanmu pasti juga mencarimu”, tutur Kakek tua kepada Agung.
” Iya Kek, itu benar tapi Agung takut gagal. Kalau gagal Bapak Agung disana pasti kecewa. Agung juga ndak mau bikin malu Ibu lagi”, jawab Agung.
“Gung, kegagalan itu kunci kesuksesan, kalau kita tidak gagal kita juga tidak akan sukses”, nasehat Kakek tua.
“Iya Kek, Ibu Agung juga pernah bilang begitu. Tapi kalau nanti Agung pulang apakah warga tidak lagi mengejek Agung karena permainan wayangku yang jelek?” katanya sambil menerawang.
Sambil tertawa kakek berucap, ”Kakek dulu juga sama seperti kamu Gung, dulu warga sering mencaci dan mengejek Kakek, katanya wong ndak bisa main wayang kok mau jadi dalang. Waktu itu Kakek juga sangat merasa sedih, rasanya Kakek putus asa. Tapi Kakek selalu ingat nasehat Ibu Kakek, kalau Kakek gak boleh putus asa karena kegagalan adalah kunci kesuksesan. Kata-kata itu yang selalu di ucapkan oleh Ibu Kakek,” cerita Kakek. “Kakek betul juga, sekarang Agung harus pulang dan meneruskan apa yang Bapak inginkan. Kalau begitu Agung pulang dulu ya Kek”, kata Agung dengan antusias. “Habiskan makananmu dulu Nak, nanti baru kamu boleh pulang”, tutur Kakek. Dengan lahap Agung menyantap makanan yang dihidangkan di hadapannya. “Kek, Agung pulang dulu ya? Terimakasih atas kebaikan Kakek selama ini”, pamit Agung. ” Ya, sama-sama. Hati-hati ya Le, kakek do’akan usahamu menjadi dalang berhasil”, doa Kakek.
“ Ya Kek, amiiin. Agung pulang dulu, Assalamu’alaikum”, pamit Agung sambil meninggalkan Kakek. Diperjalanan, tanpa sengaja dia menemukan koran yang jatuh di jalan. Apa ini? Hah..gak mungkin ini! Wayang milik budaya Indonesia, bukan milik Negara lain. Tiba – tiba Agung merasa gusar, dia mempercepat langkahnya ke rumah.
“Assalamu’alaikum Buk Agung pulang!” teriak Agung dari luar sambil masuk kedalam rumah. “ Waalaikum salam….anakku Agung. Kamu kemana aja to Le……Ibu kangen”, kata ibu Agung sambil memeluk anaknya.
“Bu….., maafin Agung ya….. Agung kemarin egois?” pinta Agung pada Ibunya.
“Ibu sudah maafin Agung. Bagaimana keadaan kamu? kemana saja kamu selama ini Nak?”, tanya ibu dengan penasaran.
“ Alhamdulillah Agung baik – baik saja Bu, selama ini Agung tinggal dengan seorang Kakek yang baik hati, beliau merawat dan menjaga Agung dengan baik”, ungkap Agung sambil menenangkan Ibunya.
“ Syukurlah Nak,.. Oh, iya mengenai amanat Bapakmu, ndak usah terlalu difikirkan ya Le, Ibu ikhlas kalau memang kamu tidak mau menjadi penerus Bapakmu”, tutur Ibunya dengan wajah yang serius.
“Tapi Bu, mulai sekarang Agung ingin menjadi dalang. Agung ingin seperti Bapak“, katanya meyakinkan.
“Sebagai generasi penerus bangsa Agung merasa harus ikut memajukan dan melestarikan budaya Indonesia terutama pewayangan yang sekarang telah di klaim milik Negara lain Bu”, kata Agung tegar.
“Ibu bangga sama kamu Nak”, kata ibu Agung terharu.
Keesokan harinya Agung bangun pagi-pagi sekali, kemudian mengeluarkan wayang-wayang peninggalan ayahnya dan juga wayang hasil buatannya sendiri. Dia membersihkan dan menata rapi wayang-wayang tersebut di tempat ayahnya biasa mendalang. Setelah selesai dia membuka lebar pintu depan. Kemudian memasang spanduk lebar yang bertuliskan “ SANGGAR PEWAYANGAN ”. Dan dibawah tulisan tersebut terdapat kalimat yang bertuliskan “ Sebagai Generasi Muda mari kita lestarikan Kebudayaan Indonesia”. Kemudian Agung menyebarkan brosur yang berisi ajakan untuk selalu melestarikan budaya bangsa lewat orang-orang dan menampilkannya di internet juga ditelevisi. Nama Agung pun menjadi semakin terkenal dengan sebutan “Dalang Muda”. Untuk memantapkan usahanya tersebut Agung mendaftarkan wayang sebagai seni budaya Indonesia kepada UNESCO. Sementara menunggu hasil keputusan UNESCO, Agung semakin giat menyebarkan semangat menjaga seni wayang dengan memainkannya sampai lintas Jawa-Bali. Nama Agung pun semakin terkenal.
Setelah menunggu beberapa bulan, Agung mendapatkan surat dari UNESCO bahwa seni wayang sudah di patenkan. Membaca surat tersebut Agung tersenyum senang, dia merasa yakin ayahnya pasti bangga dengan usahanya selama ini.
“Pak,, Agung ternyata bisa meneruskan perjuangan Bapak”, bisik Agung dalam hatinya.
Sekarang semakin banyak anak muda yang ikut masuk kedalam sanggarnya. Agung juga melatih para kaum muda yang ingin menjadi dalang, atau yang hanya ingin mengetahui lebih dalam tentang kebudayaan Indonesia.
Semakin banggalah ibu Agung atas prestasi yang telah di ukir oleh anaknya. Agung pun merasa semakin tertantang untuk mengajak kaum muda agar selalu melestarikan budaya bangsa. Dan benar saja, berkat ketekunannya, Agung menjadi dalang yang sukses sampai mancanegara.
Manihing Tersenyum
Ketika sang senja mulai beranjak ke peraduannya, semilir sang bayu mulai membelai tubuhku. Dingin yang kurasakan, namun mataku tidak tetap memandang indahnya sang surya yang hampir tenggelam di pantai berpasir putih. Setelah menghilang, aku mulai beranjak dan pergi meninggalkan pantai. Kurasakan butiran pasir yang lebut di telapak kakiku yang tanpa alas. Kutinggalkan jejak langkah kaki di pasir nan lembut hingga hilang tersapu ombak dan pasirpun rata kembali. Di rumah, kurebahkan badan di ranjang bambu beralaskan tikar yang sudah cukup tua, bahkan sudah mulai lapuk karena umur ranjang tersebut juga sudah sangat tua, melebihi umurku. Kututup mata, tertidur, terlelap, kudengar bunyi ayam berkokok yang membangunkanku dari mimpi yang indah.
Pagi-pagi buta aku bangun, pekerjaanku setiap pagi adalah pergi ke pasar membantu ibuku menjual sayuran di pasar. Sayuran yang kami jual adalah hasil dari kebun kami sendiri. Ayah yang menanam di ladang, apabila dagangan ibu di pasar sudah laku,terlebih maka iapun segera bergegas menyusul ayah ke ladang. Sedangkan aku melakukan pekerjaan rumah tangga terlebih dahulu. Menyapu, mencuci, dan memasak. Apabila masakan sudah matang, aku langsung mengantarnya ke ladang karena ayah dan ibu tidak pernah makan siang di rumah. Sesekali aku membantu pekerjaan di ladang apabila sedang panen atau ada pekerjaan yang harus cepat diselesaikan. Begitulah kegiatanku sehari-hari. Aku hanyalah seorang gadis yang tinggal di sebuah desa yang ada di Lampung. Kegiatanku sehari-hari hanya menenun di rumah karena itu memang sudah pekerjaan turun temurun yang sudah diwariskan oleh nenek moyang. Pendidikanku hanya sampai SMA karena selain perguruan tinggi yang cukup jauh, orang tuapun tak sanggup untuk membiayaiku ke perguruan tinggi. Apabila akan melanjutkan studi harus pergi ke kota atau ke luar pulau. Teman-teman sebayaku juga bernasib sama. Oleh karena itu, sampai sekarang aku masih tinggal di desa.
“Manihing...Manihing....Manihing.....” Kudengar suara ibu dari belakang rumah.
“Ada apa Mak, kenapa teriak-teriak?”
“Abakmu Manihing, Abakmu.”
“ Abak kenapa Mak?”
“Abakmu terluka, ambilkan obat merah!”
“Ini Mak.”
Ibu langsung berlari ke ladang, aku segera menyusulnya. Ternyata kaki ayah terkena cangkul, sehingga terluka dan berdarah. Aku membantu membersihkan luka ayah dan kuberi obat merah lalu kubalut dengan kain bersih yang kubawa. Ibu membantu ayah berjalan pulang, sedangkan aku membawa peralatan makan dan alat-alat yang digunakan di ladang. Ayah beristirahat di kamar sampai tertidur pulas. Sementara ibu masih melanjutkan menenun bersamaku. Mataku mulai terkantuk-kantuk, kulirik jam dinding dan jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas. Kulihat ibu, dia masih terlihat belum ngantuk. Kuhampiri dan kubawakan secangkir the panas, kental, manis. The kesukaan ibu, berbeda ayah, kalu ayah minum the pahit tanpa gula.
“Kalau kau ngantuk, tidur saja Manihing! Sudah larut malam, nanti Amak menyusul.”
“Baiklah, Bu.”
Kulangkahkan kaki menuju kamar, berbaring dan terlelap, sampai suara ayam berkokok membangunkanku. Seperti biasa, aku bangun mandi dan pergi ke pasar. Sepulang dari pasar ibu pergi ke ladang aku memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Ayah masih sakit sehingga beliau tidak pergi ke ladang. Hari ini aku diajak teman-teman di desaku untuk berwisata ke Pantai Marina. Tapi aku tak berani bilang ke ayah, apalagi beliau masih sakit pasti membutuhkuan sesuatu, dan hanya aku yang ada di rumah. Pantai Marina adalah kawasan wisata pantai di Teluk Lampung di wilayah Lampung selatan. Pantai ini memiliki pemandangan yang indah dengan batu-batu karang yang bentuknya beraneka ragam. Sudah kubanyangkan aku akan menghabiskan hariku di sana bermain dengan teman-teman kampungku, berlarian di atas lebutnya butiran pasir putih.
Kulihat jam dinding sudah menunjuk angka 8, hari juga sudah mulai panas. Aku gelisah, karena teman-temanku sebentar lagi pasti menghampiriku.sepertinya ayah dari tadi memperhatikan kegelisahanku.
“Kenapa kau dari tadi mondar-mandir? Lirak-lirik jam?”
“Begina Bak, hari ini aku diajak teman-teman berwisata ke pantai.”
“Dengan anak-anak berndalan itu?”
“Mereka tidak berandalan Bak.”
“Mereka teman-teman Manihing, sebenarnya mereka baik Bak.”
“Sudahlah tinggal di rumah, kau tak tahu Abakmu sedang sakit, kau malah pergi.”
Sedih rasanya, bagaimana jika teman-teman nanti datang kesini, aku jawab apa? Apa aku pergi saja dan tak perlu bilang Abak. Kusiapkan semua keperluan Abak untuk sehari ini, lalu aku pergi diam-diam lewat pintu belakang. Kusiapkan makanan di meja makan, sehingga apabila ayah lapar tinggal mengambil saja. Kusiapkan juga air hangat di termos, apabila beliau ingin mandi tak perlu merebus air dulu. Dan kusiapkan beberapa obat serta perban di meja. Diam-diam aku pergi sebelum tema-teman datang ke rumahku.
Kutunggu mereka di ujung jalan. Mengapa mereka belum keihatan ya? Tak lama kemudian kudengar suara teman-temanku, mereka datang berlima.
“Manihing....!”
“Kaliman? Kamu ikut juga?”
“Pasti, karena mendengar kamu juga ikut, maka akupun semangat ikut.”
“Bisa aja kamu.”
Kami berenam pun berjalan menuju jalan raya, menunggu angkutan desa yang lewat, cukup lama kami menunggu maklum di desa sehingga angkutan juga jarang lewat sehingga kami harus sabar menunggu. Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengobrol sambil bercanda. Angkutan yang kami tunggu pun lewat. Kurang lebih dua jam kami di angkot karena jalannya lambat, tak jarang pula di setiap persimapangan ngetem sambil menunggu penumpang. Dari jauh sudah terlihat hamparan air laut yang hijau, tampak rata dan sepertinya tak ada batas antara langit dengan laut. Indahnya, aku sudah tak sabar lagi untuk segera tiba di pantai. Terakhir aku pergi ke pantai ketika aku masih sekolah SMA kelas 1, berarti sudah empat tahun lalu.
“Pantai.....pantai.....”
“Serbu...”
Kamipun berlari menuju pantai. Semilir angin semakin menambah indahnya pantai. Ombak yang berkejar-kejaran tiada henti seolah menggambarkan kehidupan ini yang terus berjalan dan berlari. Betapa indahnya ciptaan-Mu. Sambil bermain air serta pasir yang putih sesekali kami berteriak dan berlari-larian saat ombak datang, dan menyapu rata istana buatanku dari pasir putih. Ketika aku membangun ulang istana pasir itu, tiba-tiba Kaliman datang menghampiriku.
“Bagus sekali istananya.Gambaran masa depan ya?”
“Eh...Kaliman, mengagetkan saja.
Kami berdua akhirnya duduk menatap laut hijau sambil berbincang. Setelah sekian lama kami ngobrol kesana-kemari, aku mersakan kenyamanan bercerita dengannya. Namun, mengapa hati ini mulai gelisah, perasaanku mulai campur aduk, entah apa yang aku rasakan? Apakah aku mulai jatuh cinta kepadanya? Nggak mungkin, ini hanya perasaannku saja karena aku jarang bercerita dengan orang lain, selain orang tuaku. Apalagi seorang cowok. Aku juga harus sadar dia anak ketua adat yang sekarang sedang menjalankan studi di kota, sementara aku hanya tamatan SMA, pasti Kaliman juga sudah punya pacar di kampus, teman-temannya pasti cantik-cantik. Kaliman juga orang yang pandai dan taat beragama, anyak gadis-gadis lain yang terpesona kepadanya.
Sorot matanya begitu tajam saat memadang mataku, jantungku semakin berdetak saat dia berada di dekatku. Apakah dia menatap ke semua orang dengan tatapan mata yang tajam? Atau hanya kepadaku saja? Ah... aku teralu besar kepala. Jika dia menatapku. Sampai kami meyaksikan matahari yang singgah ke peraduannya. Kami semua pulang untung masih ada angkutan terkahir walaupun sampai di rumah kami sudah malam.
“Dari kau Manihing?” Tanya Amak.
“Tadi Manihing bermain ke pantai dengan teman-teman.”
“Mengapa kau sampai malam? Dan kau tak minta ijin Abakmu tadi. Lain kali kau harus ijin kalau mau pergi. Sekarang kau mandi dan makan, sebelum kau diceramahi Abakmu.
Hari sudah malam, aku terasa lelah seharian bermain di pantai. Aku tidak membantu menenun. Sambil berbaring, terbayang wajah Kaliman waktu bersama-sama tadi, senyumnya yang manis, matanya yang tajam membuatkau terpesona padanya. Kutertelap sambil membayangkan wajah Kaliman. Tak terasa pagi yang indah telah menyambutku.rutinitas pagi kulakukan seperti biasa. Ayah sudah sembuh dan beliau sudah ppagi ke ladang sejak pagi buta.
Sore ini aku latihan menari di rumah ketua adat, aku baru sadar di sana pasti ada Kaliman, mudah-mudahan dia belum ke kota. Biasanya hari minggu sore dia ke kota karena hari senin ada kuliah dan kembali lagi biasanya hari jumat sore. Aku dan beberapa teman sudah datang ke rumah ketua adat, disana kami berlatih sendiri sambil menunggu sang pelatih datang. Sesekali aku melongok ke paintu, melihat apakah Kaliman masih ada atau sudah pergi. Namun, tak kulihat batang hidungnya sekalipun. Sepertinya kaliman memang sudah berangkat ke kota. Mengapa hati ini terasa kecewa saat aku tak bisa melihatnya.
Kekecewaanku sedikit terobati, ketika sang pelatih tari memperkenalkan tarian baru kepada kami. Betapa indahnya tarian itu. Taian baru yang diperkenalkan kepada kami adalah tari sembah. Sebelumnya aku pernah melihat tarian ini saat saudara sepupuku menikah. Tarian itu itu memang sangat indah dan menghibur. Tari sembah biasanya diadakan oleh masyarakat Lampung untuk menyambut dan memberikan penghormatan kepada kepada para tamu atau undangan yang datang. Tarian ini sering dinamakan sebagai tarian penyambutan.
Setelah pelatih selesai membawakan satu tarian sebagai contoh. Kami semua mulai baris sesuai posisi dan mulai berlatih menari. Walaupun agak susah, tapi sang pelatih tetap tekun mengajari kami satu persatu. Selain untuk melestarikan budaya di daerah kami, tarian ini juga dapat digunakan sewaktu-waktu apabila ada pernikahan atau saat menyambut para tamu. Seperti pejabat-pejabat.
“Gimana latihan tarinya?” Tanya Abak
“Aku dilatih tari sembah, Bak. Tarian baru, tapi cukup sulit.”
“Asal kau mau berlatih pasti bisa Manihing, daripada kau keluyuran nggak jelas lebih baik kau ikut berlatih tari seperti itu kan bermanfaat.”
“Iya Bak. Aku mandi dulu Bak.”
Setiap minggu sore kami berlatih tari. Sudah beberapa tarian yang dapat kami tampilkan. Tari sembah pun sudah mahir kami pergakan dan pernah kami pertunjukkan saat ada pernikahan di kampung kami. Sanggar kamipun mulai dikenal di kampung-kampung lain, sehinggga kami sering diundang untuk menari pada acara pernikahan atau penyambutan para pejabat.
Kegiatanku semakin bertambah, selain menenun dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sekarang aku sering diundang untuk mengisi acara dengan teman lain yang sesanggar. Suatu hari kami diundang di kampus tempat Kaliman kuliah. Ohh....betapa senangnya aku mendengar berita itu. Kami diminta mengisi acara wisuda. Aku berharap di sana bertemu dengan Kaliman. Ketika acara dimulai, muncullah seorang pembawa acara dari pintu samping. Betapa terkejutnya aku ketika kulihat wajah pembawa acara itu adalah Kaliman.
Kurasakan jantungku semakin berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Apakah dia melihatku? Ya Tuhan...Dia tampak berwibawa sekali dengan mengenakan jas, maklumlah karena ini acara resmi. Setelah mendengar sambutan dari rektor, kami pun dipanggil oleh pembawa acara untuk tampil. Perasaan ini semakin tak menentu, selain baru pertama kali tampil dalam acara resmi seperti ini aku pun semakin salah tingkah ketika Kaliman melihatku menari. Aku hanya bisa berdoa agar taria yang kami bawakan berjalan lancar. Aku bersyukur doaku terkabul. Suara riuh dan tepuk tangan dari penonton merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Setelah acara selesai Kaliman mendekati dan menyalamiku.
“Selamat ya, tariannya bagus. Kamu juga cantik sekali hari ini.”
“Terima kasih, itu juga berkat ayah kamu yang berinisiatif mendirikan sanggar di kampung kita.”
“Kamu pulang bareng siapa?”
“Aku pulang dengan rombongan.”
“Sebenarnya aku ingin mengajak kamu pulang bareng. Apa kamu bawa ganti?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu biar aku bilang ke rombongan kalau kamu bareng aku.”
Segera aku berganti pakaian tari dengan kaos santai. Aku diboncengkan Kaliman dengan menggunakan motor vespa. Sepanjang jalan aku hanya diam. Aku tidak tau harus ngomong apa? Yang ada hanyalah perasaanku yang campur aduk tak karuan. Ini kan bukan jalan menuju kampung kami, akan membawaku kemanakah Kaliman? Aku hendak bertanya, tapi...akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.
“Kita mau kemana?”
“Nanti kau lihat sendiri saja.”
Aku pun tak bertanya lagi, asyik juga ya melakukan perjalanan dengan motor. Tak lama kemudian kami pun sampai di pantai yang dulu kami kunjungi bersama. Setelah dia sandarkan motornya, kami duduk di bawah pohon beraskan tiikar kecil yang selalu dia bawa di motor.
“Sudah lama aku ingin mengajakmu kesini. Tapi baru kali ini aku diberi kesempatan untuk berdua denganmu. Kamu tau apa yang aku rasakan selama ini? Sudah lama aku memendam perasaan ini untukmu, sejak kita masih sama-sama duduk di bangku SMA. Tapi baru aku ungkapan sekarang, entah kamu memiliki perasaan yang sama atau tidak. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan selma ini. Manihing maukah kauu jadi kekasihku?”
“Sebenarnya, sudah lama aku juga memendam perasaan yang sama. Namun, apa daya aku tak banyak berharap. Karena aku takut sakit hati, takut kalau kamu juga tak mau mencintaiku.”
“Jadi kamu menerimaku jadi pacarmu?”
Aku hanya mengangguk, Kaliman memelukku erat. Pasir putih, angin, dan lautlah yang menjadi saksi cinta kita saat itu. Kami pulang bersama, Kaliman mengantarkanku sampai rumah. Betapa indahnya hidup ini. Sungguh aku sangat bahagia. Segala sesuatu yang aku impikan kini telah menjadi kenyataan. Semua terasa indah, sungguh indah.
Kebahagiaan itu tiba-tiba sirna ketika orang tuaku mengetahui bahwa aku berpacaran dengan Kaliman. Orang tuaku melarang kami berpacaran dengan alasan adat yang harus dijunjung tinggi. Aku kecewa, sangat kecewa ketika mendengar itu. Aku dan keluarga tinggal di Lampung Tengah, setiap tempat memiliki adat yang berbeda begitu juga dengan tempat tinggalku. Adat istiadat di Lampung Tengah adalah masyarakat adat pepadun. Upacara adat Lampung Tengah umumnya ditandai dengan adanya bentuk perkawinan “jujur” dengan menurut garis keturunan patrilineal yang ditandai dengan adanya pemberian uang kepada pihak mempelai wanita untuk menyiapkan “sesan” berupa alat-alat rumah tangga. Sesan tersebut akan diserahkan kepada pihak laki-laki pada saat upacara perkawinan berlangsung yang sekaligus sebagai penyerahan mempelai wanita kepada keluarga laki-laki. Dengan demikian secara hukum adat maka putus pula hubungan secara adat antara mempelai wanita dari keluarganya.
“Kenapa Abak melarangku berhubungan dengan Kaliman?”
“Karena kamu tak sederajat dengannya. Dia anak orang terpandang dan berpendidikan tinggi, sementara kamu hanya anak seorang petani dan hanya tamatan SMA.”
“Tapi, Bak. Cinta tidak mengenal derajat dan tingkat pendidikan?”
“Tapi abak tetap tidak merestui, mau ditaruh di mana muka Abak? Bagaimana pendapat orang, pasti semua orang akan meremehkan kita.”
“Aku mohon Bak, aku sangat mencintai Kaliman.”
“Dengan apa kita akan menyiapkan sesan? Menjual ladang? Lalu orang tuamu harus kerja di mana? Nganggur? Mengahrap belas kasihan dari besan?”
Aku menyadari bahwa keluargaku memang hanya pas-pasan secara materi. Pendapatan sehari-hari memang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku juga masih ingat ketika aku masih sekolah. Abak sering meminjam uang kepada tetangga untuk membayar SPP. Kemudian beliau baru membayar ketika panen. Sering itu dilakukan tak hanya untuk membayar SPP untuk kebutuhan yang lain juga. Aku sedih, tapi aku juga tak mau mengorbankan perasaanku.
Aku menemui Kaliman di sanggar karena itu hari sabtu, aku tau Kaliman pasti di rumah. Kudapati dia sedang membaca buku dan kumendekatinya. Kuceritakan semua yang kualami selama semiggu ini. Kaliman hanya terdiam mendengar ceritaku, aku menyerahkan semuanya ke Kaliman, apapun resikonya. Tappi kaliman juga ingin mempertahankan hubungan kita.
“Setelah aku lulus sarjana, aku akan bekerja. Dan hasil pendapatanku kita tabung, setelah terkumpul kita gunakan untuk menyiapkan sesan. Bagaimana pendapatmu?”
“Mungkin itu semua memang mudah kita rencanakan, tapi kita nggak tahu, bagaimana nantinya? Apakah orang tuamu setuju?”
“Aku nggak tau, kamu juga tau orang tuaku juga orang yang keras terhadap pendirian.”
“Benarkan? Mungkin semua yang kita rencanakan kini hanya kenangan saja.”
“Aku pulang saja Kaliman.”
“Kenapa?”
“Aku ingin menenangkan pikiran.”
Terlalu sakit menerima kenyataan ini. Sepertimya aku tak sanggup lagi setiap hari mendengar ceramahan abak dan amak. Aku ingin pergi. Sempat terpikir di benakku, seandainya aku pergi merantau ke luar kota dan aku melupakan Kaliman saja. Daripada aku menahan rindu terus menerus seperti ini namun aku selalu dilarang oleh orang tua. Namun, pikiran itu tiba-tiba kuurungkan ketika aku mengingat jasa kedua orang tuaku yang telah membesarkanku hingga aku menjadi seperti ini.
Setahun kemudian, aku menjadi orang yang lebih berguna. Tak lagi memikirkan masalah pribadiku saja. Aku sudah bisa menari dengan baik dan dipercaya untuk melatih tari di daerahku. Beberapa lomba sudah kuikuti, dan tak sedikit juga yang aku menangkan. Melalui budaya daerah inilah kebudayaan Indonesia menjadi semakin kaya. Aku tersenyum bangga.
Pagi-pagi buta aku bangun, pekerjaanku setiap pagi adalah pergi ke pasar membantu ibuku menjual sayuran di pasar. Sayuran yang kami jual adalah hasil dari kebun kami sendiri. Ayah yang menanam di ladang, apabila dagangan ibu di pasar sudah laku,terlebih maka iapun segera bergegas menyusul ayah ke ladang. Sedangkan aku melakukan pekerjaan rumah tangga terlebih dahulu. Menyapu, mencuci, dan memasak. Apabila masakan sudah matang, aku langsung mengantarnya ke ladang karena ayah dan ibu tidak pernah makan siang di rumah. Sesekali aku membantu pekerjaan di ladang apabila sedang panen atau ada pekerjaan yang harus cepat diselesaikan. Begitulah kegiatanku sehari-hari. Aku hanyalah seorang gadis yang tinggal di sebuah desa yang ada di Lampung. Kegiatanku sehari-hari hanya menenun di rumah karena itu memang sudah pekerjaan turun temurun yang sudah diwariskan oleh nenek moyang. Pendidikanku hanya sampai SMA karena selain perguruan tinggi yang cukup jauh, orang tuapun tak sanggup untuk membiayaiku ke perguruan tinggi. Apabila akan melanjutkan studi harus pergi ke kota atau ke luar pulau. Teman-teman sebayaku juga bernasib sama. Oleh karena itu, sampai sekarang aku masih tinggal di desa.
“Manihing...Manihing....Manihing.....” Kudengar suara ibu dari belakang rumah.
“Ada apa Mak, kenapa teriak-teriak?”
“Abakmu Manihing, Abakmu.”
“ Abak kenapa Mak?”
“Abakmu terluka, ambilkan obat merah!”
“Ini Mak.”
Ibu langsung berlari ke ladang, aku segera menyusulnya. Ternyata kaki ayah terkena cangkul, sehingga terluka dan berdarah. Aku membantu membersihkan luka ayah dan kuberi obat merah lalu kubalut dengan kain bersih yang kubawa. Ibu membantu ayah berjalan pulang, sedangkan aku membawa peralatan makan dan alat-alat yang digunakan di ladang. Ayah beristirahat di kamar sampai tertidur pulas. Sementara ibu masih melanjutkan menenun bersamaku. Mataku mulai terkantuk-kantuk, kulirik jam dinding dan jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas. Kulihat ibu, dia masih terlihat belum ngantuk. Kuhampiri dan kubawakan secangkir the panas, kental, manis. The kesukaan ibu, berbeda ayah, kalu ayah minum the pahit tanpa gula.
“Kalau kau ngantuk, tidur saja Manihing! Sudah larut malam, nanti Amak menyusul.”
“Baiklah, Bu.”
Kulangkahkan kaki menuju kamar, berbaring dan terlelap, sampai suara ayam berkokok membangunkanku. Seperti biasa, aku bangun mandi dan pergi ke pasar. Sepulang dari pasar ibu pergi ke ladang aku memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Ayah masih sakit sehingga beliau tidak pergi ke ladang. Hari ini aku diajak teman-teman di desaku untuk berwisata ke Pantai Marina. Tapi aku tak berani bilang ke ayah, apalagi beliau masih sakit pasti membutuhkuan sesuatu, dan hanya aku yang ada di rumah. Pantai Marina adalah kawasan wisata pantai di Teluk Lampung di wilayah Lampung selatan. Pantai ini memiliki pemandangan yang indah dengan batu-batu karang yang bentuknya beraneka ragam. Sudah kubanyangkan aku akan menghabiskan hariku di sana bermain dengan teman-teman kampungku, berlarian di atas lebutnya butiran pasir putih.
Kulihat jam dinding sudah menunjuk angka 8, hari juga sudah mulai panas. Aku gelisah, karena teman-temanku sebentar lagi pasti menghampiriku.sepertinya ayah dari tadi memperhatikan kegelisahanku.
“Kenapa kau dari tadi mondar-mandir? Lirak-lirik jam?”
“Begina Bak, hari ini aku diajak teman-teman berwisata ke pantai.”
“Dengan anak-anak berndalan itu?”
“Mereka tidak berandalan Bak.”
“Mereka teman-teman Manihing, sebenarnya mereka baik Bak.”
“Sudahlah tinggal di rumah, kau tak tahu Abakmu sedang sakit, kau malah pergi.”
Sedih rasanya, bagaimana jika teman-teman nanti datang kesini, aku jawab apa? Apa aku pergi saja dan tak perlu bilang Abak. Kusiapkan semua keperluan Abak untuk sehari ini, lalu aku pergi diam-diam lewat pintu belakang. Kusiapkan makanan di meja makan, sehingga apabila ayah lapar tinggal mengambil saja. Kusiapkan juga air hangat di termos, apabila beliau ingin mandi tak perlu merebus air dulu. Dan kusiapkan beberapa obat serta perban di meja. Diam-diam aku pergi sebelum tema-teman datang ke rumahku.
Kutunggu mereka di ujung jalan. Mengapa mereka belum keihatan ya? Tak lama kemudian kudengar suara teman-temanku, mereka datang berlima.
“Manihing....!”
“Kaliman? Kamu ikut juga?”
“Pasti, karena mendengar kamu juga ikut, maka akupun semangat ikut.”
“Bisa aja kamu.”
Kami berenam pun berjalan menuju jalan raya, menunggu angkutan desa yang lewat, cukup lama kami menunggu maklum di desa sehingga angkutan juga jarang lewat sehingga kami harus sabar menunggu. Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengobrol sambil bercanda. Angkutan yang kami tunggu pun lewat. Kurang lebih dua jam kami di angkot karena jalannya lambat, tak jarang pula di setiap persimapangan ngetem sambil menunggu penumpang. Dari jauh sudah terlihat hamparan air laut yang hijau, tampak rata dan sepertinya tak ada batas antara langit dengan laut. Indahnya, aku sudah tak sabar lagi untuk segera tiba di pantai. Terakhir aku pergi ke pantai ketika aku masih sekolah SMA kelas 1, berarti sudah empat tahun lalu.
“Pantai.....pantai.....”
“Serbu...”
Kamipun berlari menuju pantai. Semilir angin semakin menambah indahnya pantai. Ombak yang berkejar-kejaran tiada henti seolah menggambarkan kehidupan ini yang terus berjalan dan berlari. Betapa indahnya ciptaan-Mu. Sambil bermain air serta pasir yang putih sesekali kami berteriak dan berlari-larian saat ombak datang, dan menyapu rata istana buatanku dari pasir putih. Ketika aku membangun ulang istana pasir itu, tiba-tiba Kaliman datang menghampiriku.
“Bagus sekali istananya.Gambaran masa depan ya?”
“Eh...Kaliman, mengagetkan saja.
Kami berdua akhirnya duduk menatap laut hijau sambil berbincang. Setelah sekian lama kami ngobrol kesana-kemari, aku mersakan kenyamanan bercerita dengannya. Namun, mengapa hati ini mulai gelisah, perasaanku mulai campur aduk, entah apa yang aku rasakan? Apakah aku mulai jatuh cinta kepadanya? Nggak mungkin, ini hanya perasaannku saja karena aku jarang bercerita dengan orang lain, selain orang tuaku. Apalagi seorang cowok. Aku juga harus sadar dia anak ketua adat yang sekarang sedang menjalankan studi di kota, sementara aku hanya tamatan SMA, pasti Kaliman juga sudah punya pacar di kampus, teman-temannya pasti cantik-cantik. Kaliman juga orang yang pandai dan taat beragama, anyak gadis-gadis lain yang terpesona kepadanya.
Sorot matanya begitu tajam saat memadang mataku, jantungku semakin berdetak saat dia berada di dekatku. Apakah dia menatap ke semua orang dengan tatapan mata yang tajam? Atau hanya kepadaku saja? Ah... aku teralu besar kepala. Jika dia menatapku. Sampai kami meyaksikan matahari yang singgah ke peraduannya. Kami semua pulang untung masih ada angkutan terkahir walaupun sampai di rumah kami sudah malam.
“Dari kau Manihing?” Tanya Amak.
“Tadi Manihing bermain ke pantai dengan teman-teman.”
“Mengapa kau sampai malam? Dan kau tak minta ijin Abakmu tadi. Lain kali kau harus ijin kalau mau pergi. Sekarang kau mandi dan makan, sebelum kau diceramahi Abakmu.
Hari sudah malam, aku terasa lelah seharian bermain di pantai. Aku tidak membantu menenun. Sambil berbaring, terbayang wajah Kaliman waktu bersama-sama tadi, senyumnya yang manis, matanya yang tajam membuatkau terpesona padanya. Kutertelap sambil membayangkan wajah Kaliman. Tak terasa pagi yang indah telah menyambutku.rutinitas pagi kulakukan seperti biasa. Ayah sudah sembuh dan beliau sudah ppagi ke ladang sejak pagi buta.
Sore ini aku latihan menari di rumah ketua adat, aku baru sadar di sana pasti ada Kaliman, mudah-mudahan dia belum ke kota. Biasanya hari minggu sore dia ke kota karena hari senin ada kuliah dan kembali lagi biasanya hari jumat sore. Aku dan beberapa teman sudah datang ke rumah ketua adat, disana kami berlatih sendiri sambil menunggu sang pelatih datang. Sesekali aku melongok ke paintu, melihat apakah Kaliman masih ada atau sudah pergi. Namun, tak kulihat batang hidungnya sekalipun. Sepertinya kaliman memang sudah berangkat ke kota. Mengapa hati ini terasa kecewa saat aku tak bisa melihatnya.
Kekecewaanku sedikit terobati, ketika sang pelatih tari memperkenalkan tarian baru kepada kami. Betapa indahnya tarian itu. Taian baru yang diperkenalkan kepada kami adalah tari sembah. Sebelumnya aku pernah melihat tarian ini saat saudara sepupuku menikah. Tarian itu itu memang sangat indah dan menghibur. Tari sembah biasanya diadakan oleh masyarakat Lampung untuk menyambut dan memberikan penghormatan kepada kepada para tamu atau undangan yang datang. Tarian ini sering dinamakan sebagai tarian penyambutan.
Setelah pelatih selesai membawakan satu tarian sebagai contoh. Kami semua mulai baris sesuai posisi dan mulai berlatih menari. Walaupun agak susah, tapi sang pelatih tetap tekun mengajari kami satu persatu. Selain untuk melestarikan budaya di daerah kami, tarian ini juga dapat digunakan sewaktu-waktu apabila ada pernikahan atau saat menyambut para tamu. Seperti pejabat-pejabat.
“Gimana latihan tarinya?” Tanya Abak
“Aku dilatih tari sembah, Bak. Tarian baru, tapi cukup sulit.”
“Asal kau mau berlatih pasti bisa Manihing, daripada kau keluyuran nggak jelas lebih baik kau ikut berlatih tari seperti itu kan bermanfaat.”
“Iya Bak. Aku mandi dulu Bak.”
Setiap minggu sore kami berlatih tari. Sudah beberapa tarian yang dapat kami tampilkan. Tari sembah pun sudah mahir kami pergakan dan pernah kami pertunjukkan saat ada pernikahan di kampung kami. Sanggar kamipun mulai dikenal di kampung-kampung lain, sehinggga kami sering diundang untuk menari pada acara pernikahan atau penyambutan para pejabat.
Kegiatanku semakin bertambah, selain menenun dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sekarang aku sering diundang untuk mengisi acara dengan teman lain yang sesanggar. Suatu hari kami diundang di kampus tempat Kaliman kuliah. Ohh....betapa senangnya aku mendengar berita itu. Kami diminta mengisi acara wisuda. Aku berharap di sana bertemu dengan Kaliman. Ketika acara dimulai, muncullah seorang pembawa acara dari pintu samping. Betapa terkejutnya aku ketika kulihat wajah pembawa acara itu adalah Kaliman.
Kurasakan jantungku semakin berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Apakah dia melihatku? Ya Tuhan...Dia tampak berwibawa sekali dengan mengenakan jas, maklumlah karena ini acara resmi. Setelah mendengar sambutan dari rektor, kami pun dipanggil oleh pembawa acara untuk tampil. Perasaan ini semakin tak menentu, selain baru pertama kali tampil dalam acara resmi seperti ini aku pun semakin salah tingkah ketika Kaliman melihatku menari. Aku hanya bisa berdoa agar taria yang kami bawakan berjalan lancar. Aku bersyukur doaku terkabul. Suara riuh dan tepuk tangan dari penonton merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Setelah acara selesai Kaliman mendekati dan menyalamiku.
“Selamat ya, tariannya bagus. Kamu juga cantik sekali hari ini.”
“Terima kasih, itu juga berkat ayah kamu yang berinisiatif mendirikan sanggar di kampung kita.”
“Kamu pulang bareng siapa?”
“Aku pulang dengan rombongan.”
“Sebenarnya aku ingin mengajak kamu pulang bareng. Apa kamu bawa ganti?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu biar aku bilang ke rombongan kalau kamu bareng aku.”
Segera aku berganti pakaian tari dengan kaos santai. Aku diboncengkan Kaliman dengan menggunakan motor vespa. Sepanjang jalan aku hanya diam. Aku tidak tau harus ngomong apa? Yang ada hanyalah perasaanku yang campur aduk tak karuan. Ini kan bukan jalan menuju kampung kami, akan membawaku kemanakah Kaliman? Aku hendak bertanya, tapi...akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.
“Kita mau kemana?”
“Nanti kau lihat sendiri saja.”
Aku pun tak bertanya lagi, asyik juga ya melakukan perjalanan dengan motor. Tak lama kemudian kami pun sampai di pantai yang dulu kami kunjungi bersama. Setelah dia sandarkan motornya, kami duduk di bawah pohon beraskan tiikar kecil yang selalu dia bawa di motor.
“Sudah lama aku ingin mengajakmu kesini. Tapi baru kali ini aku diberi kesempatan untuk berdua denganmu. Kamu tau apa yang aku rasakan selama ini? Sudah lama aku memendam perasaan ini untukmu, sejak kita masih sama-sama duduk di bangku SMA. Tapi baru aku ungkapan sekarang, entah kamu memiliki perasaan yang sama atau tidak. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan selma ini. Manihing maukah kauu jadi kekasihku?”
“Sebenarnya, sudah lama aku juga memendam perasaan yang sama. Namun, apa daya aku tak banyak berharap. Karena aku takut sakit hati, takut kalau kamu juga tak mau mencintaiku.”
“Jadi kamu menerimaku jadi pacarmu?”
Aku hanya mengangguk, Kaliman memelukku erat. Pasir putih, angin, dan lautlah yang menjadi saksi cinta kita saat itu. Kami pulang bersama, Kaliman mengantarkanku sampai rumah. Betapa indahnya hidup ini. Sungguh aku sangat bahagia. Segala sesuatu yang aku impikan kini telah menjadi kenyataan. Semua terasa indah, sungguh indah.
Kebahagiaan itu tiba-tiba sirna ketika orang tuaku mengetahui bahwa aku berpacaran dengan Kaliman. Orang tuaku melarang kami berpacaran dengan alasan adat yang harus dijunjung tinggi. Aku kecewa, sangat kecewa ketika mendengar itu. Aku dan keluarga tinggal di Lampung Tengah, setiap tempat memiliki adat yang berbeda begitu juga dengan tempat tinggalku. Adat istiadat di Lampung Tengah adalah masyarakat adat pepadun. Upacara adat Lampung Tengah umumnya ditandai dengan adanya bentuk perkawinan “jujur” dengan menurut garis keturunan patrilineal yang ditandai dengan adanya pemberian uang kepada pihak mempelai wanita untuk menyiapkan “sesan” berupa alat-alat rumah tangga. Sesan tersebut akan diserahkan kepada pihak laki-laki pada saat upacara perkawinan berlangsung yang sekaligus sebagai penyerahan mempelai wanita kepada keluarga laki-laki. Dengan demikian secara hukum adat maka putus pula hubungan secara adat antara mempelai wanita dari keluarganya.
“Kenapa Abak melarangku berhubungan dengan Kaliman?”
“Karena kamu tak sederajat dengannya. Dia anak orang terpandang dan berpendidikan tinggi, sementara kamu hanya anak seorang petani dan hanya tamatan SMA.”
“Tapi, Bak. Cinta tidak mengenal derajat dan tingkat pendidikan?”
“Tapi abak tetap tidak merestui, mau ditaruh di mana muka Abak? Bagaimana pendapat orang, pasti semua orang akan meremehkan kita.”
“Aku mohon Bak, aku sangat mencintai Kaliman.”
“Dengan apa kita akan menyiapkan sesan? Menjual ladang? Lalu orang tuamu harus kerja di mana? Nganggur? Mengahrap belas kasihan dari besan?”
Aku menyadari bahwa keluargaku memang hanya pas-pasan secara materi. Pendapatan sehari-hari memang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku juga masih ingat ketika aku masih sekolah. Abak sering meminjam uang kepada tetangga untuk membayar SPP. Kemudian beliau baru membayar ketika panen. Sering itu dilakukan tak hanya untuk membayar SPP untuk kebutuhan yang lain juga. Aku sedih, tapi aku juga tak mau mengorbankan perasaanku.
Aku menemui Kaliman di sanggar karena itu hari sabtu, aku tau Kaliman pasti di rumah. Kudapati dia sedang membaca buku dan kumendekatinya. Kuceritakan semua yang kualami selama semiggu ini. Kaliman hanya terdiam mendengar ceritaku, aku menyerahkan semuanya ke Kaliman, apapun resikonya. Tappi kaliman juga ingin mempertahankan hubungan kita.
“Setelah aku lulus sarjana, aku akan bekerja. Dan hasil pendapatanku kita tabung, setelah terkumpul kita gunakan untuk menyiapkan sesan. Bagaimana pendapatmu?”
“Mungkin itu semua memang mudah kita rencanakan, tapi kita nggak tahu, bagaimana nantinya? Apakah orang tuamu setuju?”
“Aku nggak tau, kamu juga tau orang tuaku juga orang yang keras terhadap pendirian.”
“Benarkan? Mungkin semua yang kita rencanakan kini hanya kenangan saja.”
“Aku pulang saja Kaliman.”
“Kenapa?”
“Aku ingin menenangkan pikiran.”
Terlalu sakit menerima kenyataan ini. Sepertimya aku tak sanggup lagi setiap hari mendengar ceramahan abak dan amak. Aku ingin pergi. Sempat terpikir di benakku, seandainya aku pergi merantau ke luar kota dan aku melupakan Kaliman saja. Daripada aku menahan rindu terus menerus seperti ini namun aku selalu dilarang oleh orang tua. Namun, pikiran itu tiba-tiba kuurungkan ketika aku mengingat jasa kedua orang tuaku yang telah membesarkanku hingga aku menjadi seperti ini.
Setahun kemudian, aku menjadi orang yang lebih berguna. Tak lagi memikirkan masalah pribadiku saja. Aku sudah bisa menari dengan baik dan dipercaya untuk melatih tari di daerahku. Beberapa lomba sudah kuikuti, dan tak sedikit juga yang aku menangkan. Melalui budaya daerah inilah kebudayaan Indonesia menjadi semakin kaya. Aku tersenyum bangga.
Sahabat Sejati
Awalnya aku tidak percaya sahabat sejati itu memang ada, sama sekali tidak percaya! Bagiku semua itu bulshit adanya. Sahabat yang selalu ada untukku, berbagi suka duka bersama, dan menjunjung tinggi semangat persaudaraan, bagiku tidak pernah ada di dunia ini. Satu pun tidak akan pernah ada. Semua akan hilang dan meninggalkanku!
Tapi, suatu ketika ada sebuah rahasia besar yang mengubah paradigmaku mengenai sahabat sejati. Ada yang terlupakan dari semua ini. Terselip begitu saja. Aku mengacuhkan hal berharga itu. Aku memang masih memahami konsep sahabat sejati hanya hoax belaka, kecuali, dengan satu kemungkinan : jika kau membuka hatimu untuk menerima sesuatu yang riskan itu, sahabat sejati itu mungkin bukanlah sebuah omong kosong belaka.
Aku berdiri mematung di kantin. Bergeming seraya fokus melihat dengan pandangan jijik. Sosis merah dilumuri saus yang seolah – olah menggiurkan, bakso yang begitu kenyal, keripik yang rasanya sangat gurih, mie yang terlihat sangat liat sekali, dan otak – otak yang tak ubahnya seperti makanan – makanan rusak. Aku begitu phobia melihat makanan – makanan itu. Ya, baru melihatnya saja aku sudah seperti itu, apalagi memakananya, dijamin aku akan koma beberapa bulan!
Semua makanan rusak itu begituku benci, karena gara – gara makanan – makanan itu sahabatku, Anita, meninggal dunia! Anita, sahabat terbaikku (dan kupikir juga sahabat sejatiku), terkena kanker otak yang disebabkan oleh makanan – makanan yang banyak mengandung boraks, formalin, dan entah bahan kimia apa yang terkandung di dalamnya. Dokter mendiagnosis di dalam tubuhnya sudah ada 6 g boraks yang mengendap sejak bertahun – tahun (itu belum termasuk zat – zat kimia lainnya seperti, pewarna dan pengawet).
Sel – sel kanker yang ada di tubuh Anita berkembang begitu cepat. Daya tahan tubuhnya juga tak kuat menahan serangan demi serangan yang diluncurkan oleh racun –racun itu. Ditambah lagi Anita tidak suka makan sayur – sayuran dan buah – buahan. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Dan, semenjak saat itu aku begitu membenci makanan itu. Makanan rusak itu.
“Rara …” Yani teman sekelasku, kelas 7.8 tepatnya, berlari kearahku. Rambut panjangnya yang digerai bergoyang – goyang di terpa angin. Menurutku ia cukup manis. “Jajan, yuk. Aku punya uang jajan lebih, nih. Hasil lomba pidato kemarin. Aku ingin mentraktir kamu. Syukur – syukur bisa menghilangkan dukamu atas kehilangan Anita. Mau, ya!”
Aku merasakan ada kejanggalan di perkaannya itu. Aku berpikir seperkian detik sebelum menemukan jawaban yang cocok untuknya, “Maksudmu? Oh! Kamu senang Anita meninggal? Lalu, kamu merayakan kepergian Anita dengan mentraktir aku, begitu? Kamu jahat, Yan!”
Aku benar – benar tak habis pikir dengan Yani. Anita itu sahabat terbaikku, tidak boleh ada yang memperlakukannya seperti itu. Menyebalkan!
“Kok, kamu bicaranya ketus seperti itu, sih? Sekalipun aku tidak pernah bahagia dengan kepergian Anita. Itu tidak mungkin.” Tukas Yani dengan mata yang berkaca- kaca. “Aku hanya tidak ingin melihatmu bersemedi dengan kesedihanmu itu. Aku ingin jadi teman baikmu.”
“Kamu tidak akan bisa menggantikan Anita, Yani!” emosiku semakin meluap, “Aku sangat menyayangi Anita, wajar kalau aku sedih atas kepergiannya.”
“Tapi ini terlalu jauh, Ra. Kamu menjadi sangat berbeda. Akhir – akhir ini kamu begitu emosian, suka menyendiri, pembangkang, dan sangat tertutup. Kamu bukan Rara yang aku kenal.”
“Terserah!” Sebelum aku benar – benar pergi meinggalkan Yani, aku sempat melirik sosis yang ia lahap begitu nikmat. “Racun.” Ucapku tegas dan dalam. Aku melihat ekpresi wajah Yani mendadak khawatir. Aku pun berlalu setelah membuatnya depresi berat.
Sepulang sekolah aku menunggu kereta di stasiun Kebayoran Lama, tepatnya di kawasan Jakarta Selatan. Rumahku di Tanah Abang. Sementara aku bersekolah di SMPN ** Jakarta, kecamatan Kebayoran baru. Otomatis dengan begitu, aku harus menggunakan kereta untuk sampai ke rumahku.
Huek! Aroma khas dari keringat para manusia merasuki hidungku dengan sangat semangat saat aku masuk ke dalam kereta. Desak – desakkan penumpang membuat hatiku semakin kesal. Para pedagang pun menambah kebisingan. Ah … izinkan aku pingsan!!!
Kejengkelan hatiku semakin merajalela saat aku mengingat kembali perkataan Yani tadi pagi.
“Tapi ini terlalu jauh, Ra. Kamu menjadi sangat berbeda. Akhir – akhir ini kamu begitu emosian, suka menyendiri, pembangkang, dan sangat tertutup. Kamu bukan Rara yang aku kenal.”
Ishh! Memangnya dia tahu apa tentang hidupku? Menyebalkan! Luka hatiku saja belum sembuh benar atas kehilangan Anita. Aku trauma! Dia adalah sahabat terbaikku, selalu bersamaku, kami berbagi suka dan duka. Yani itu tidak tahu apa – apa. Seharusnya dia tak perlu ikut campur urusanku!
Memang benar, akhir – akhir ini sifatku begitu berubah, aku akui itu. Jujur, hidupku hampa. Tak ada motivasi. Tak ada semangat. Bahkan aku tidak ingin berteman dengan siapapun. Aku tidak mau menyayangi siapapun lagi. Sudah cukup aku kehilangan Anita, tidak lagi untuk yang kedua kalinya.
Jangan dekat dengan siapapun, jangan menyayangi siapapun, dan jangan percaya pada sahabat sejati karena sahabat sejati tidak pernah ada, dengan begitu kau tidak akan pernah menangis akan kehilangan. Itulah prinsipku saat ini. Aku berusaha untuk membenci atau lebih tepatnya menjauhi siapapun saat ini. Egois dan bodoh memang. Rasa trauma sudah mendarah daging dalam jiwaku. Aku seperti kehilangan jati diri. Biarkan! Aku tidak peduli.
Aku bergegas turun dari kereta di stasiun Tanah Abang. Setelah memastikan aku berdiri di tempat yang aman, aku pun merapikan ikatan sepatuku agar tidak terinjak – injak. Lalu, membenarkan letak tas punggungku.
Kebetulan, tepat di sampingku ada penjual cermin, tentu saja aku berkaca sebentar dan terkejut sebentar. Wajahku seperti kepiting goreng, direbus, diberi beberapa cabe, digoreng lagi, lalu hangus! Berlebihan memang, tapi hal itu cukup menggambarkan bahwa karbon monoksida bus Metromini sanggup membuat wajahku seperti ini. Rambutku yang sebahu aku ikat. Tak dapat dipungkiri Jakarta memang sangat panas!
Setelah puas melihat bentuk wajahku yang tak karuan, aku kembali berjalan. Namun, tiba – tiba saja mataku terfokus pada satu titik. Aku melihat seorang gadis kecil sedang mengais – ngais tong sampah yang ada di dekatnya. Lalu gadis itu berjalan ke gerbong tua yang sudah tidak terpakai lagi. Ia duduk disana sambil memakan apa yang dia ambil dari tong sampah.
B. Puisi
Indahnya negeri ini
dalam buaian ibu pertiwi
negri ini di penuhi dengan keberagaman
nuansa keindahan budaya indonesia
Bangsa ini kaya akan budaya
penuh dengan symphoni yang indah
mengapa tidak kita lestarikan ?
mengapa tidak kita pertahankan ?
Ini bangsa kita..
ini negri kita..
ini kebudayaan kita..
kita hidup, kita dewasa dalam negeri tercinta ini
Kini saatnya untuk kita saling bersatu
saling melestarikan budaya
saling menjaga apa yang akan kita lestarikan
dan mempertahankan nuansa budaya indonesia.
dalam buaian ibu pertiwi
negri ini di penuhi dengan keberagaman
nuansa keindahan budaya indonesia
Bangsa ini kaya akan budaya
penuh dengan symphoni yang indah
mengapa tidak kita lestarikan ?
mengapa tidak kita pertahankan ?
Ini bangsa kita..
ini negri kita..
ini kebudayaan kita..
kita hidup, kita dewasa dalam negeri tercinta ini
Kini saatnya untuk kita saling bersatu
saling melestarikan budaya
saling menjaga apa yang akan kita lestarikan
dan mempertahankan nuansa budaya indonesia.
Langganan:
Komentar (Atom)






